oleh Chriss Street

Dampak ekonomi jangka pendek dari Coronavirus yang menyebar dengan cepat hingga menginfeksi dan membuat warga meninggal dunia, dapat mengurangi Produk Domestik Bruto Tiongkok hingga 1-2 persen, jika wabah ini mirip dengan wabah SARS pada tahun 2003.

 Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengadakan Pertemuan Komite Darurat pada tanggal 23 Januari 2020. Rapat itu untuk membahas potensi risiko pandemi yang terkait dengan jenis Coronavirus baru, yang disebut “2019-nCoV,” yang melalui mutasi generasi keempatnya kini Coronavirus dapat menyebar melalui penularan dari manusia ke manusia. Caranya yang melakukan kontak dekat seperti dalam keluarga atau dalam pengaturan perawatan kesehatan.

 Beberapa jenis Coronavirus tidak menginfeksi manusia, jenis Coronavirus yang lain hanya menyebabkan penyakit ringan, dan beberapa jenis Coronavirus dapat menyebabkan penyakit parah pada sebagian besar dari subjek yang terinfeksi. 

Coronavirus yang bertanggung jawab atas wabah sindrom pernapasan akut yang parah atau SARS di Tiongkok pada tahun 2003 silam, mengakibatkan lebih dari 8.000 orang di seluruh dunia menderita sakit parah dan menewaskan sekitar 800 orang.

 Jenis 2019-nCoV diyakini berasal di kota Wuhan, Tiongkok, tetapi secara resmi dilaporkan menyebar ke Thailand, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Vietnam, Malaysia, Kanada, dan Amerika Serikat. Namun, penularan jenis 2019-nCoV kemungkinan diekspor oleh ribuan wisatawan ke berbagai negara. 

Tiongkok sedang berusaha membatasi keruntuhan  ekonominya dengan cara menghentikan perjalanan kereta api dan perjalanan udara ke dan dari Wuhan, sebuah kota berpenduduk 11 juta jiwa yang lebih besar dari  New York City. Para pejabat Tiongkok juga mengkarantina kota Huanggang dan Ezhou di dekat Provinsi Hubei.

 Kepercayaan internasional terhadap kemampuan Tiongkok untuk menstabilkan wabah Coronavirus diragukan akibat kredibilitas Tiongkok dalam mengungkap ancaman kesehatan masyarakat di masa lalu. 

Setelah wabah SARS tahun 2003, pelaporan independen memaksa Tiongkok mengakui ketidakjujurannya karena tidak melaporkan skala infeksi dan kematian pada Organisasi Kesehatan Dunia. Tiongkok kemudian mengakui kemungkinan adanya 5.327 kasus SARS dan 343 kematian, sepuluh kali lipat dari pelaporan awal.

 Analisis ekonomi oleh Pusat Pengembangan Internasional Institut Teknologi Massachusetts menemukan wabah SARS “berdampak negatif yang bermakna” terhadap ekonomi Tiongkok. 

Industri pariwisata Tiongkok kehilangan 50-60 persen pendapatan dari orang asing yakni sebesar 10,8 miliar dolar AS dan 10 persen pendapatan pariwisata dalam negeri yakni sebesar  6 miliar dolar AS.

 Dikombinasikan dengan efek pengganda ekonomi, ekonomi Tiongkok pada tahun 2003 kehilangan 25,3 miliar dolar AS atau sekitar 1-2 poin persentase Produk Domestik Bruto lebih rendah, akibat wabah SARS.

 Analisis yang sama memberikan analisis kerugian keuangan yang wajar untuk wabah Coronavirus saat ini. Disesuaikan dengan kenyataan bahwa Produk Domestik Bruto Tiongkok tahun 2019 sebesar 14,3 triliun dolar AS adalah sekitar 8,4 kali lebih besar daripada Produk Domestik Bruto Tiongkok pada tahun 2003 sebesar 1,7 triliun dolar AS, Produk Domestik Bruto Tiongkok 1-2 persen lebih rendah untuk tahun 2020 yang menghasilkan kerugian pendapatan sebesar  143 miliar hingga 286 miliar dolar AS.

 Rakyat Tiongkok tidak merasakan banyak kesulitan ekonomi pada tahun 2003 akibat kerugian Produk Domestik Bruto Tiongkok sebesar 1-2 persen akibat wabah SARS, karena ledakan ekonomi Tiongkok saat itu adalah sangat kuat. Sehingga Produk Domestik Bruto Tiongkok pada tahun 2003 masih tumbuh sebesar 10 persen.

 Tetapi tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto Tiongkok sebesar 6 persen pada paruh terakhir tahun 2019 adalah tingkat pertumbuhan paling lambat sejak tahun 1991. Mengingat lingkungan ekonomi saat ini, wabah Coronavirus tahun 2020 dapat melenyapkan hingga sepertiga pertumbuhan Produk Domestik Bruto Tiongkok. (Vv/asr)

Chriss Street adalah pakar ekonomi makro, teknologi, dan keamanan nasional. Dia telah menjabat sebagai CEO dari beberapa perusahaan dan merupakan penulis aktif dengan lebih dari 1.500 publikasi. Dia juga secara teratur memberikan kuliah strategi kepada mahasiswa pascasarjana di universitas-universitas top California Selatan.

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular