NTDTV.com/The Epochtimes/Sciencealert.Com

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization ( WHO) mengakui salah menilai risiko Novel Coronavirus Wuhan. Pengakuan terbaru WHO ini sekaligus mengoreksi apa yang disampaikan badan PBB itu sebelumnya. 

Direktur Jenderal Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus  dalam sebuah pernyataan “sangat menyesalkan” kesalahan yang dibuat dalam laporan situasi tentang Novel Coronavirus Wuhan. 

Badan yang bermarkas di Jenewa itu mengatakan dalam sebuah laporan, bahwa risiko untuk Novel coronavirus “sangat tinggi di Tiongkok, tinggi di tingkat regional dan tinggi di tingkat global.”

Dalam catatan kaki laporan itu, WHO mengatakan “tidak tepat” menyatakan dalam laporan selama tiga hari sebelumnya bahwa risiko Novel Coronavirus terhadap global adalah “moderat” atau sedang.  

Akan tetapi,  tidak berarti organisasi itu mengumumkan darurat kesehatan global.

“WHO sangat menyesali kesalahan dalam laporan situasi minggu ini, yang memasukkan kata ‘moderat’ secara tidak akurat dalam penilaian risiko global coronavirus,” kata Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan pada (29/1/2020). 

“Ini adalah kesalahan manusia dalam menyiapkan laporan. Saya telah berulang kali menyatakan risiko wabah yang tinggi, ” tambahnya. 

Ghebreyesus juga mengumumkan bahwa ia membentuk kembali komite darurat WHO untuk menilai apakah wabah Novel Coronavirus saat ini menjamin dinyatakan sebagai darurat kesehatan global. 

Komite itu sebelumnya merekomendasikan agar tidak mengumumkan keadaan darurat  seperti itu pada minggu lalu.

Seperti dilansir dari sciencealert.com yang mengutip dari kantor berita AFP, kritikus berulangkali mengkritik pendekatan hati-hati WHO terhadap wabah. Dalam konteks kritik atas penggunaan istilah yang lambat atau terlalu terburu-buru, pertama kali digunakan untuk pandemi flu babi H1N1 2009 yang mematikan.

Selama wabah itu, badan kesehatan PBB dikritik karena memicu panik membeli vaksin dengan pengumuman bahwa  wabah telah mencapai proporsi pandemi. 

Sama halnya pada tahun 2014, WHO dikritik karena mengecilkan parahnya epidemi Ebola yang menghancurkan tiga negara Afrika Barat. Padahal lebih dari 11.300 jiwa terinfeksi pada saat itu yang berakhir pada tahun 2016.

Penularan Antar Manusia ke Manusia

Laporan terbaru, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan Komite darurat Organisasi Kesehatan Dunia akan bertemu kembali untuk membahas wabah coronavirus. Dia mencatat bahwa sebagian besar kasus yang dikonfirmasi ada di Tiongkok. Akan tetapi, tiga negara telah mencatat penularan dari manusia ke manusia di luar Tiongkok.

“Potensi untuk penyebaran global lebih lanjut ini adalah mengapa saya memanggil” komite darurat,” kata Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan. 

“Kebanyakan kasus yang dilaporkan di luar adalah terhadap orang-orang dengan riwayat perjalanan dari Tiongkok, atau telah melakukan kontak dengan orang-orang yang telah ada di sana. Tetapi ada beberapa tanda penularan dari orang ke orang di luar Tiongkok. ”

Pejabat Jerman pada minggu ini mengatakan, bahwa seorang pria berusia 33 tahun terinfeksi Coronavirus dari seorang rekan wanita Shanghai. Tiga pekerja lain kemudian diisolasi. 

Taiwan dan Jepang juga melaporkan kasus penularan dari manusia ke manusia di antara yang bukan kerabat.

Penularan lain antara manusia ke manusia termasuk seorang ayah yang menginfeksi putranya di Vietnam.  Pria itu mungkin menginfeksi kerabatnya, yang berada di Malaysia.

Pada pekan lalu, Komite darurat WHO menolak untuk merekomendasikan bahwa badan PBB itu, untuk mengumumkan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.

“Jangan salah. Ini darurat di Tiongkok, tetapi belum menjadi darurat kesehatan global,” kata Ghebreyesus pada konferensi pers yang mengumumkan keputusan pada waktu itu.

Sejak itu, kasus novel coronavirus sudah muncul pada  banyak negara. Belasan negara sekarang memiliki setidaknya satu pasien yang positif coronavirus. Beberapa negara telah melihat peningkatan jumlah kasus. 

Australia melaporkan kasus keenam dan ketujuh pada Rabu 29 Januari 2020. Sedangkan Singapura melaporkan tiga kasus baru, sehingga total menjadi 10 kasus.

Coronavirus adalah sekelompok virus yang menginfeksi hewan dalam beberapa kasus, berpindah dari hewan ke manusia. Dalam kasus yang jarang terjadi, virus ditularkan dari manusia ke manusia lainnya.

Tiongkok juga telah mengkonfirmasi bahwa penularan asimptomatik sedang terjadi. Akan tetapi pejabat kesehatan Amerika mengatakan, mereka belum dapat mendukung temuan tersebut.

Pejabat AS mengatakan, bahwa mereka berusaha untuk mendapatkan data dari pejabat Tiongkok yang mendasari temuan itu. Akan tetapi, menekankan bahwa pembawa asimptomatik biasanya tidak mendorong terjadinya epidemi. 

Dalam istilah dunia kesehatan, penularan asimptomatik berarti menularkan penyakit walaupun tidak menunjukkan gejala.

Dr. Anthony Fauci, Direktur the National Institute of Allergy and Infectious Diseases kepada wartawan mengatakan, bahkan jika ada beberapa penularan asimptomatik, dalam semua sejarah virus yang ditularkan melalui respirasi jenis apa pun, penularan asimptomatik tidak pernah menjadi pendorong timbulnya wabah.

“Pembawa wabah selalu orang bergejala. Bahkan jika ada orang tanpa gejala langka yang mungkin menularkan, epidemi tidak didorong oleh pembawa asimptomatik, ” katanya. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular