oleh Wu Ying – Epochtimes.com

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (30/1/2020) mengumumkan bahwa coronavirus jenis baru yang berasal dari Wuhan telah dijadikan sebagai peristiwa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia atau Public Health Emergency of International Concern -PHEIC. 

Setelah WHO menolak untuk mengumumkan PHEIC pada minggu lalu, banyak negara dan perusahaan multinasional telah mengambil tindakan darurat untuk menghentikan penyebaran virus, termasuk menghentikan penerbangan ke dan dari daratan Tiongkok, menunda perjalanan karyawan ke Tiongkok, dan menangguhkan operasi pabrik-pabrik yang berada di Tiongkok.

Hari Kamis 30 Januari, WHO mengumumkan PHEIC dan menetapkan 4 langkah prioritas utamanya.

Alasan perubahan sikap WHO

Pada 23 Januari, WHO mengadakan pertemuan darurat kedua dalam minggu itu di Jenewa. Hasil pertemuan berpendapat bahwa terlalu dini untuk mengidentifikasi coronavirus jenis baru yang muncul di Wuhan sebagai peristiwa kesehatan yang meresahkan dunia sehingga perlu mengumumkan PHEIC.

Namun sepekan kemudian, Komite Darurat WHO kembali melakukan pertemuan di Jenewa pada hari Kamis, dan menetapkan perlunya mengumumkan PHEIC.

Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO dalam konferensi pers hari Kamis mengatakan : “Dalam beberapa minggu terakhir, kami telah menyaksikan luasnya penyebaran patogen yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang telah meningkat menjadi wabah yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

Sehari setelah keputusan WHO pekan lalu (24 Januari), kecuali daratan Tiongkok, ada 23 kasus pneumonia Wuhan yang dikonfirmasi telah muncul di 9 negara dan wilayah di dunia : 5 kasus di Hongkong, 2 kasus di Makau, 3 kasus di Taiwan. 4 kasus di Thailand, 2 kasus di Jepang, 2 kasus di Vietnam, 2 kasus di Korea Selatan, 2 kasus di Amerika Serikat, dan 1 kasus di Singapura.

Pada 30 Januari, selain daratan Tiongkok, 22 negara dan wilayah di dunia telah menemukan pasien berpenyakit dengan gejala serupa penderita pneumonia Wuhan sebanyak 128 kasus. Di antaranya, Vietnam, Jepang, Jerman, Taiwan, dan Amerika Serikat dapat dipastikan merupakan kasus penularan dari manusia ke manusia.

Peningkatan jumlah kasus yang mencengangkan ini, membuat Tedros Adhanom Ghebreyesus yang baru kembali dari Tiongkok ke Jenewa terkejut, sehingga ia meminta Komite Darurat WHO untuk segera bertemu untuk membahasnya pada 29 Januari.

“Meskipun angka-angka ini masih relatif kecil … kita sekarang harus bertindak bersama untuk membatasi penyebarannya lebih lanjut”, kata Tedros.

Apa itu PHEIC ?

Pada tahun 2002 – 2003 terjadi wabah SARS, Selanjutnya, WHO merumuskan Peraturan Kesehatan Internasional dan membentuk komite darurat yang terdiri dari para ahli internasional pada tahun 2005.

Menurut peraturan tersebut, komite darurat harus mengumumkan PHEIC terhadap peristiwa tertentu. Tentu ini merujuk pada peristiwa yang tidak biasa dan peristiwa yang menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat internasional dan mungkin memerlukan respons internasional yang terkoordinasi.

Menurut definisi peraturan tersebut, peristiwa tidak biasa harus memenuhi 3 kriteria : 1. Serius, mendadak, tidak biasa atau tidak terduga. 2. Dampak kesehatan masyarakat melampaui batas negara yang terkena dampak. 3. Mungkin memerlukan tindakan segera dari internasional.

Tercatat ada 5 kasus di masa lalu

Sejak tahun 2009, WHO telah 6 kali menetapkan PHEIC, yaitu: pandemi influenza H1N1 tahun 2009, epidemi polio pada tahun 2014, epidemi Ebola di Afrika Barat pada tahun 2014, epidemi virus Zika pada tahun 2015-2016, dan epidemi Ebola di Kongo pada tahun 2018 – 2019. Peristiwa ini semua bersifat sementara dan membutuhkan peninjauan setiap 3 bulan.

Apa pengaruh setelah PHEIC ditetapkan ?

Setelah keadaan darurat diumumkan, negara memiliki kewajiban hukum untuk merespons dengan cepat terhadap PHEIC. 

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dapat memberi nasihat kepada negara-negara lain dan mengkoordinasikan tanggapan internasional, termasuk apakah negara-negara harus menerapkan larangan perjalanan dan larangan perdagangan.

Tedros Adhanom Ghebreyesus pada hari Kamis 30 Januari mengatakan bahwa WHO khawatir virus tersebut dapat menjadi potensi kerusakan bagi negara-negara dengan sistem kesehatan yang lemah, dan meminta kerjasama semua negara di dunia untuk mendukung yang sistem kesehatannya rapuh, mengembangkan dan mendistribusikan vaksin untuk mencegah penyebaran virus.

Lawrence Gostin, seorang profesor dan kepala O’Neill Institute for National and Global Health Law di Universitas Georgetown mengatakan, ia juga dapat dimanfaatkan untuk memobilisasi sumber daya kesehatan masyarakat untuk menghentikan penyebaran virus dan merangsang tindakan publik dan politik. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular