Zhang Yujie- Epochtimes.com

Pasca ditutupnya kota Wuhan pada 23 Januari 2020 lalu, warga Wuhan pun berteriak pilu “Tolong selamatkan kami.”  Informasi dari warga Wuhan yang meminta tolong itu tersebar luas di media sosial di luar negeri. Ada gejala penyakit tapi tidak didiagnosis. Tidak ada kamar pasien di rumah sakit, dan tidak menerima pasien, bahkan staf medis tidak memiliki tindakan perlindungan diri yang memadai. 

Seorang narasumber yang mengetahui hal itu mengungkapkan, bahwa banyak pasien telah meninggal dunia sebelum diagnosis, dan jumlah aktual orang yang terinfeksi coronavirus  sangat tinggi.

Seiring dengan perkembangan wabah coronavirus, warga Wuhan mohon bantuan pasca ditutupnya kota Wuhan. 

Seorang pengguna Twitter bernama “Jason Wang” memposting, “Tolong selamatkan Warga Wuhan!”

Postingan itu mengatakan, “Ibu saya terinfeksi pneumonia Wuhan, terbaring lemah selama 12 hari di rumah karena demam tinggi. Rumah sakit menyembunyikan kondisi penyakit. Direktur komunitas mengatakan tidak dapat menyediakan kamar pasien, dan menyarankan menunggu ajal di rumah. Ayahnya terinfeksi tetapi tetap  merawat ibunya. Mental dan fisik pun mulai terganggu, tidak ada obat-obatan apa pun, juga tidak ada perawatan medis. Tolong selamatkanlah mereka!” 

Seorang pengguna Twitter bernama “Zhu Yunhe” mengatakan, “Inilah kondisi Wuhan sekarang, seorang pria berbobot 90 kg sampai tidak mampu berjalan lagi. Suhu demam mencapai 40 derajat, dan demam berturut-turut selama seminggu. Rumah sakit menolak menerimanya karena tidak ada kamar pasien, melihat kondisi ayahnya yang semakin buruk setiap hari, dia tidak tahu kepada siapa harus meminta bantuan.” 

Seorang guru di Hangzhou bernama Hu Weili terinfeksi pneumonia Wuhan selama Malam Tahun Baru di Wuhan. Sekarang orang tuanya dan ipar laki-lakinya juga terinfeksi. Ayahnya juga harus menjalani proses dialysis atau cuci darah. Tidak ada yang mengurus di rumah, apalagi masih ada 3 orang anak yang masih kecil di rumah. 

“Tolong selamatkanlah kami!” kata Hu Weili memelas. 

Penutupan kota itu bukan memutuskan komunikasi antara Wuhan dan kota-kota lain, tetapi memutus semua arus lalu lintas di Wuhan.

Warga yang tidak memiliki kendaraan pribadi tidak bisa pergi ke rumah sakit.

Sejumlah besar pasien tidak bisa didiagnosis karena tidak ada reagen yakni salah satu cairan yang biasanya digunakan di laboratorium. Sebagian besar pasien diminta untuk pulang dan “mengisolasi diri masing-masing.”

Dalam keadaan seperti itu, tidak bisa memikirkan alasan lain selain membiarkan pasien berjuang sendiri. 

Beberapa warga berseru : “Selamatkanlah pekerja medis di Wuhan!” 

 Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah Komunis Tiongkok secara resmi mengumumkan penutupan kota Wuhan pada tanggal 23 Januari 2020.

Meskipun ada beberapa warga melarikan diri dari Wuhan, mereka juga akan menghadapi nasib yang menyedihkan. Sejak itu, identitas diri warga Wuhan pun telah menjadi “kata sensitif” di daratan Tiongkok.

Warga Wuhan yang melarikan diri sebelum penutupan kota, mendapat perlakuan diskriminatif di seluruh pelosok negeri Tiongkok.

Orang-orang yang memegang kartu identitas Wuhan sejak itu kehilangan hak mereka untuk perawatan medis, tinggal di hotel, dan bahkan kehilangan kebebasan pribadi mereka. 

Mereka hanya bisa dipulangkan ke daerah-daerah yang ditunjuk. Bahkan penduduk Wuhan yang telah lama tinggal di luar daerah juga belum tentu bisa hidup dengan tenang dan nyaman, hanya karena statusnya sebagai warga Wuhan. Sungguh memprihatinkan. 

Editor : Li Qiong

(jon/asr)

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular