oleh James Gorrie

Coronavirus yang menyebar dengan cepat berdampak pada ekonomi di seluruh dunia. Apakah terlalu dini untuk mulai berpikir bagaimana wabah Coronavirus global akan mempengaruhi ekonomi dunia? Dengan Dow Jones jatuh 454 poin untuk penurunan 1,6 persen pada  27 Januari, adalah masuk akal untuk berpikir bahwa lebih banyak gangguan mungkin terjadi.

Dan meskipun kita belum tahu skala atau lamanya penyakit yang mematikan ini, jika wabah SARS tahun 2003 merupakan indikasi, maka tekanan ekonomi tidak dapat dihindari.

 Pertanyaannya adalah, seberapa buruk tekanan ekonomi terjadi?

 Coronavirus Memperburuk Ekonomi Tiongkok yang Memang Sudah Melemah

Karena Tiongkok memberlakukan karantina terbesar dalam sejarah, di mana  17 kota dikarantina, peristiwa besar seperti itu tidak dapat membantu tetapi memengaruhi metrik ekonomi.

Mandat bahwa jutaan orang diperintahkan untuk tinggal di rumah sebagai cara mencegah penyebaran Coronavirus lebih lanjut berarti bahwa orang-orang tersebut tidak bekerja, orang-orang tersebut juga tidak berbelanja. Hal itu memperburuk  perekonomian Tiongkok yang memang sudah melemah.

Selain itu, meskipun jutaan orang mengambil cuti seminggu untuk perayaan Tahun Baru Imlek, pihak berwenang Tiongkok memperpanjang cuti hingga tanggal 9 Februari. Sekolah tetap ditutup lebih lama lagi, serta acara olahraga dan keagamaan dibatalkan. Tidak ada seorang pun di kota-kota yang dikarantina itu boleh pergi ke mana pun.

Tentu saja, masa inkubasi Coronavirus adalah dua minggu, di mana pada masa inkubasi Coronavirus tetap menular, sehingga menunda masuk kerja adalah tindakan pencegahan penularan yang masuk akal. Hal itu adalah faktor yang berpengaruh juga, karena virus SARS tidak menular selama masa inkubasinya. Paling tidak, Tiongkok harus memperkirakan adanya kontraksi dalam pembelanjaan konsumen akibat tindakan ini.

Kerusakan ekonomi dapat mencapai penurunan satu persen pada Produk Domestik Bruto Tiongkok pada tahun 2020, menurut angka Economist Business Intelligence Unit. Tetapi perkiraan itu didasarkan pada dampak wabah virus SARS terhadap ekonomi Tiongkok yang jauh lebih kecil. Ekonomi Tiongkok adalah jauh lebih besar saat ini; namun, wabah Coronavirus juga lebih parah.

Akankah Coronavirus Menjadi Lebih Buruk Daripada SARS?

Pada kenyataannya, situasi saat ini mungkin berpotensi menjadi jauh lebih buruk daripada episode SARS. Faktor pertama, virulensi Coronavirus semakin cepat karena Coronavirus bermutasi menjadi lebih mudah beradaptasi dengan manusia. Belum ada yang tahu sampai seberapa parah tingkat penularan Coronavirus atau sampai seberapa parah bahaya bagi kehidupan manusia.

Faktor kedua, seperti disebutkan di atas, Coronavirus menular selama masa inkubasi dua minggu. Dan, menurut Guan Yi, ahli virologi Tiongkok yang paling terkenal, Tiongkok telah melewatkan masa berharga untuk mencegah penyebaran Coronavirus. Mengendalikan penyebaran Coronavirus akan jauh lebih mahal biayanya; dan memakan waktu lebih lama.

Faktor ketiga, Tiongkok bekerja sepanjang waktu untuk menambah atau menyediakan 100.000 tempat tidur rumah sakit di Provinsi Hubei — yang merupakan pusat penyebaran wabah Coronavirus — untuk mengatasi kebutuhan yang diantisipasi.

Tidak satu pun dari faktor-faktor ini menjadi pertanda baik untuk resolusi cepat. Memang, beberapa ahli sudah mengatakan bahwa penyebaran Coronavirus akan menyebabkan resesi di seluruh dunia.

Pertanyaan Besar yang Perlu Dijawab

Hal itu dapat terjadi, meskipun tampaknya terlalu dini untuk menyebutnya sebagai suatu kepastian. Salah satu alasan yang tidak kita ketahui adalah karena Tiongkok belum mau memberikan informasi penting. Misalnya, Tiongkok belum membocorkan jumlah sebenarnya dari orang yang terinfeksi dan berapa banyak sebenarnya orang yang meninggal akibat Coronavirus.

Ada pertanyaan besar lainnya yang perlu dijawab. Partai Komunis Tiongkok belum menyediakan sumber Coronavirus yang kredibel kepada dunia. Apakah sumber Coronavirus dari jarak dekat beberapa spesies hewan liar di pasar terbuka besar di Wuhan, atau dari laboratorium bio-senjata Tingkat 4 yang berjarak 20 mil?

 Ekonomi Regional yang Terkena Dampak Berita Negatif

 Pada saat yang sama, kemungkinan terjadi pelemahan ekonomi regional lain yang bergantung pada Tiongkok akibat wabah Coronavirus. Beberapa negara sudah merasakannya.

 Sayangnya, berita positif Fase Satu kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat sudah dilupakan, dibayangi oleh krisis kesehatan yang berkembang ini. Jika krisis kesehatan ini terus meluas, maka Fase Satu kesepakatan dagang mungkin berakhir bahkan sebelum dimulai.

 Dampak positif dari relokasi rantai pasokan dari Tiongkok ke negara-negara tetangga juga dilemahkan oleh munculnya penularan Coronavirus. Dengan dipastikan adanya kasus Coronavirus di Taiwan, Thailand, Jepang dan Korea Selatan, maka tingkat perjalanan dan perdagangan sedikit menyusut di kawasan tersebut.

 Suatu Kejadian yang Tidak Diduga?

 Pada awalnya, saya menyebutkan penurunan 1,6 persen di Dow sebagai pendahulu potensial dari hal-hal yang akan datang. Itu mungkin saja. Wabah Coronavirus mungkin saja merupakan penghalang terakhir dan tidak terduga yang harus diperjuangkan secara luar biasa — atau hanyalah kepercayaan — demi ekonomi global.

Kita belum sampai di sana, tetapi mungkin dalam perjalanan menuju ke sana. Kita melihat pasar modal global ketakutan, pembatasan perjalanan diberlakukan dan informasi ditahan, terutama dari Tiongkok. Ketidakpastian tumbuh dalam iklim seperti itu. Dan karena Coronavirus semakin mengganas, banyak kasus muncul di lebih banyak negara, dan negara-negara mengevakuasi warganya dari daerah yang terinfeksi, mitra dagang hari ini mungkin bukan mitra dagang esok hari.

Hal itu bukanlah iklim ekonomi global yang positif untuk mendorong pertumbuhan. Dalam kasus-kasus seperti itu, ketakutan — yang beralasan atau tidak — mengesampingkan ketamakan, dan itu berarti ekonomi global yang melambat dapat saja terjadi di masa depan. Tidak ada yang melihat hal ini datang dan pada tahap ini, tidak ada yang melihatnya berakhir juga. Bagi Tiongkok, jika bukan seluruh dunia, Tahun Tikus, mungkin berubah menjadi Tahun Black Swan, tahun di mana terjadi kejadian yang tidak terduga. 

James Gorrie adalah seorang penulis dan pembicara yang berbasis di California Selatan. Dia adalah penulis “The China Crisis.”

*Black Swan atau Angsa Hitam adalah peristiwa besar yang terjadi di luar dugaan. Peristiwa itu Berdampak besar  

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular