- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Pertarungan Politik Elit Komunis Tiongkok di Tengah Merebaknya Wabah Coronavirus

 oleh Xia Xiaoqiang 

Setelah benar-benar kehilangan kendali atas wabah Coronavirus, yang menyebar ke seluruh Tiongkok dan di lebih dari belasan negara, pejabat senior Partai Komunis Tiongkok di Wuhan dan Provinsi Hubei tak dapat lagi melarikan diri menghadapi masyarakat.

Pada tanggal 26 Januari 2020, pemerintah Provinsi Hubei mengadakan konferensi pers mengenai pencegahan dan pengendalian penyakit. 

Gubernur Provinsi Hubei Wang Xiaodong, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok Provinsi Hubei Bie Bixiong, dan Walikota Wuhan Zhou Xianwang juga hadir. Perilaku tiga pejabat tinggi ini selama konferensi pers memicu diskusi panas di internet daratan Tiongkok. 

Pertama kali muncul masalah mengenakan masker: Wang Xiaodong tidak mengenakan masker; Zhou Xianwang mengenakan masker terbalik; dan Bie Bixiong mengenakan masker tetapi membiarkan hidungnya terpapar.

Selanjutnya, dalam pengantar mengenai mengenakan masker kesehatan, Wang Xiaodong mulai dengan menyebutkan “keuntungan tertentu” dari Provinsi Hubei. Ia mengatakan kota Xiantao dapat menghasilkan 10,8 miliar masker setiap tahun. Kemudian, seseorang memberikan catatan kepadanya. Wang Xiaodong mengoreksi dirinya sendiri, mengatakan bahwa ia salah ucap, dan jumlahnya sebenarnya adalah 1,8 miliar masker. Saat ia meletakkan catatan itu dan melanjutkan membaca dari naskahnya, ia mengoreksi dirinya lagi dan mengatakan jumlahnya sebenarnya adalah 1,08 juta masker.

Saat konferensi pers berakhir, ketiga pejabat tersebut bertepuk tangan.

Sikap santai tiga pejabat itu memicu perdebatan sengit di antara para netizen. Secara khusus, netizen meragukan kemampuan Wang Xiaodong mengatasi penyakit tersebut, ia bahkan tidak mengetahui jumlah masker yang diproduksi di wilayah kerjanya.

Kenyataannya, bagaimana ketiga pemimpin itu berperilaku di konferensi pers adalah sifat alami mereka yang sebenarnya dan sering demikian. 

Setiap kali menghadiri acara-acara masyarakat, semua pejabat Partai Komunis Tiongkok bertindak  canggung, gelisah dan gugup. Kata-kata seringkali salah ucap. Alasan utama adalah bahwa, bagi pejabat Partai Komunis Tiongkok untuk mengamankan posisinya, hanya perlu menyenangkan atasannya. Mereka tak perlu bertanggung jawab kepada masyarakat.

Pejabat Partai Komunis Tiongkok percaya diri dan tenang hanya saat berbicara omong kosong dengan bawahannya selama pertemuan internal. Namun begitu diungkap di depan umum, kepanikannya menunjukkan kebobrokannya.

 Tidak peduli berapa kali Wang Xiaodong salah ucap selama konferensi pers, selama ia tidak melakukan kesalahan dalam pekerjaannya dengan atasan dan dalam “menjaga stabilitas,” maka hal itu tidak akan berpengaruh negatif pada posisi resminya.

Faktanya adalah, pejabat senior Partai Komunis Tiongkok tidak memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengatur operasi normal pemerintah provinsi atau kota dengan benar, apalagi kemampuan memimpin jika terjadi keadaan darurat atau bencana besar. Pejabat seperti mereka hanya membawa bencana dan kematian bagi rakyat.

 Selain itu, perlu dicatat bahwa Walikota Wuhan Zhou Xianwang berbicara dan bertindak aneh di depan umum dan selama wawancara dengan media.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan penyiar CCTV milik pemerintahan Komunis Tiongkok, Zhou Xianwang menanggapi kritik terhadap penanganan wabah Coronavirus oleh pemerintah Wuhan.

 Zhou Xianwang mengatakan ia tak memiliki izin untuk mengungkapkan informasi sensitif.  Ia hanya mengungkapkan informasi jika diberikan persetujuan dari pemerintah pusat. Ia mengatakan, “Kami menjadi lebih aktif dalam pekerjaan kami setelah pertemuan Dewan Negara pada tanggal 20 Januari, yang mendefinisikan virus sebagai penyakit menular tipe I dan membutuhkan tanggung jawab setempat.”

 Apa arti kata-kata Zhou Xianwang? dalam perpolitikan Komunis Tiongkok, sangat jarang pejabat bawahan berani menyerahkan tanggung jawab kepada atasannya. Ini mungkin berarti akhir dari karirnya secara resmi, karena telah melanggar tabu.

 Selama wabah SARS pada tahun 2003, Zhang Wenkang, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan Tiongkok, cukup “berani” untuk disalahkan dan dikeluarkan dari jabatannya. Namun, ia kembali dengan selamat ke ruang politik pada bulan Oktober 2003, dan menjabat sebagai wakil ketua badan amal yang dikelola pemerintah, Yayasan Soong Ching Ling. Ia juga ditunjuk sebagai wakil ketua Komite Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, Kebudayaan, Kesehatan, dan Olahraga pada tahun 2005.

Ada dua penjelasan yang mungkin untuk pelanggaran Zhou Xianwang terhadap  politik tabu ini.

Pertama, Zhou Xianwang dimanipulasi oleh pejabat senior yang memintanya untuk mengatakan hal tersebut; Kedua, Zhou Xianwang membuat kesalahan ini tanpa menyadarinya. Namun demikian, kinerja selanjutnya dapat mengesampingkan salah satu kemungkinan ini.

Jenis perhatian yang ditujukan para pejabat Partai Komunis Tiongkok untuk melayani atasannya, dipertunjukkan saat Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang bergegas ke kota Wuhan pada tanggal 27 Januari 2020.

Saat Li Keqiang ditemani oleh Zhou Xianwang memeriksa rumah sakit baru yang sedang dibangun, Zhou Xianwang melepas topinya dan memberikannya kepada stafnya setelah ia melihat Li Keqiang tidak mengenakan topi, menurut video online. Perbuatan Zhou Xianwang itu dilihat sebagai upaya untuk menyelamatkan Li Keqiang dari rasa malu.

Ini menunjukkan bahwa Zhou Xianwang, yang berpengalaman dalam aturan-aturan Partai Komunis Tiongkok, cenderung tidak melakukan kesalahan dengan tidak sengaja menyalahkan pemerintah pusat. Kemudian ada kemungkinan besar bahwa Zhou Xianwang mengikuti instruksi dari atasan untuk memberikan komentar publik tersebut.

 Apa artinya?

 Ini menunjukkan bahwa pada saat kehidupan jutaan rakyat Tiongkok dipertaruhkan, para pemimpin Partai Komunis Tiongkok masih terlibat dalam perselisihan internal yang sengit. Bahkan nyawa orang dan wabah itu sendiri dapat digunakan oleh rezim Tiongkok sebagai alat. 

Dari sudut pandang ini, sebenarnya yang jauh lebih menakutkan daripada Coronavirus adalah keberadaan Partai Komunis Tiongkok.

Walikota Zhou Xianwang mungkin akhirnya menjadi target kampanye “anti-korupsi” di masa depan — sebagai balasan karena tidak mematuhi aturan Partai Komunis Tiongkok yang tidak tertulis.

Di kalangan pejabat Komunis Tiongkok, pejabat mana pun dapat menjadi korban berikutnya dan bisa terjadi kapan saja. (Vv/asr)

Video Rekomendasi :