Emel Akan – The Epochtimes

Merebaknya wabah novel Coronavirus di Tiongkok menimbulkan kekhawatiran akan dampak potensial penyakit ini terhadap ekonomi Tiongkok. Sehingga menyebabkan menguapnya  pasar saham global dan harga minyak.

Epidemi yang berasal dari pusat kota Wuhan dan menyebar ke seluruh Tiongkok, diperkirakan akan memukul pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Dikarenakan kepanikan telah membebani pariwisata, konsumsi, dan manufaktur.

Coronavirus juga telah menyebar ke negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat.  Sehingga mengguncang investor lebih lanjut.

Seperti dikutip dari The Epochtimes, ketakutan dan ketidakpastian yang meningkat membuat pasar saham utama menjadi lebih rendah pada tanggal 27 Januari 2020, di mana sektor perjalanan, barang mewah, dan pertambangan memimpin penurunan tersebut. Indeks FTSE 100 London turun 2,3 persen sementara indeks DAX Jerman turun 2,6 persen. Saham Amerika Serikat juga kehilangan pada awal minggu di mana  Dow Jones dan S&P 500 turun sekitar 1,6 persen.

Meskipun pasar telah melihat beberapa pemulihan pada saat penulisan artikel ini, novel Coronavirus yang menyebar cepat masih merupakan kekhawatiran besar yang dihadapi investor.

Harga minyak juga melemah karena kekhawatiran guncangan negatif terhadap permintaan minyak global.

“Ini adalah masalah yang sangat serius,” kata Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada konferensi pers setelah kesimpulan dari pertemuan kebijakan dua hari bank sentral pada tanggal 29 Januari lalu.

 “Kami sangat hati-hati memantau situasi. Jelas akan ada implikasi, setidaknya dalam waktu dekat, untuk output Tiongkok, dan saya kira untuk beberapa tetangga dekat Tiongkok,” kata Jerome Powell.

 Wabah Novel Coronavirus merebak saat ekonomi Tiongkok tumbuh dengan laju paling lambat dalam hampir tiga dekade. Perang dagang Amerika Serikat–Tiongkok berdampak pada ekspor Tiongkok pada tahun 2019. Sedangkan masalah ekonomi Tiongkok mungkin lebih parah daripada yang ditunjukkan data resmi, menurut para ahli.

 ‘Ini Mirip Chernobyl’

Ketidakpastian mengenai skala dan lamanya epidemi akan berdampak pada Produk Domestik Bruto Tiongkok, karena akan merusak kepercayaan perusahaan dan konsumen, yang menyebabkan penurunan kegiatan bisnis dan konsumsi, menurut para ekonom.

 “Ini mirip Chernobyl dalam arti tertentu,” kata penulis dan pakar Tiongkok, Gordon Chang kepada The Epoch Times. Apa yang disampaikannya merujuk pada kecelakaan nuklir yang terjadi di Uni Soviet pada tahun 1986.

 Ia menambahkan, jika kepanikan berlanjut hingga bulan April atau bulan Mei mendatang, maka akan memiliki “efek luar biasa” pada ekonomi Tiongkok tahun ini.

 Menurut Gordon Chang, krisis akan memiliki beberapa efek riak di Amerika Serikat dan negara-negara lain, tetapi dampaknya tidak akan sepenting yang ditakuti orang-orang.

 Gordon Chang berkata : Reaksi perusahaan asing yang beroperasi di Tiongkok akan lebih terlihat setelah liburan Tahun Baru Imlek.

 Pejabat Tiongkok memperpanjang liburan di seluruh Tiongkok selama tiga hari hingga tanggal 2 Februari 2020, supaya warga tetap berada di rumah dan untuk membendung penyebaran penyakit. Namun demikian, ketidakpastian tetap ada karena jumlah kasus pneumonia dan penyebaran geografisnya dipastikan konfirmasi terus bertambah.

 “Tentu saja, pemerintah Tiongkok berusaha merangsang ekonomi melalui berbagai tindakan buatan yang akan memiliki efek sementara yang meringankan,” kata Gordon Chang. Ia menambahkan, bahwa upaya ini tidak akan banyak membantu “karena hal ini akan mengguncang kepercayaan di Tiongkok.”

 Selain itu, jika hal ini tidak dikendalikan dengan cepat, maka pabrik-pabrik akan meninggalkan Tiongkok. 

 Produsen mobil, termasuk GM, Honda, dan Nissan, memiliki operasi yang bermakna di Wuhan, menurut laporan CNBC. Sedangkan beberapa pabrik sudah mulai menarik karyawannya dari wilayah Wuhan.

 Lebih banyak perusahaan diharapkan untuk menunda operasinya di Tiongkok.

 Jaringan Starbucks mengumumkan bahwa pihaknya menutup lebih dari 2.000 toko — setengah dari toko di Tiongkok — karena wabah Coronavirus.

 Sebagian besar kasus yang dipastikan  dalam wabah Coronavirus terkonsentrasi di Provinsi Hubei. Terletak di tengah Tiongkok, Provinsi Hubei merupakan pusat transportasi dan manufaktur yang penting bagi Tiongkok. Provinsi Hubei  mewakili 4 persen Produk Domestik Bruto Tiongkok pada tahun 2018, menurut laporan Morgan Stanley.

 Coronavirus Menghantam Konsumsi dan Perjalanan

 Liburan Tahun Baru Imlek biasanya merupakan periode booming untuk konsumsi dan pariwisata. Akan tetapi wabah Coronavirus memiliki dampak yang bermakna terhadap pengeluaran konsumen dan perjalanan. Konsumen Tiongkok menghindari daerah yang ramai.

 Perjalanan asing ke Tiongkok juga menurun secara bermakna. Banyak negara mulai membatasi penerbangan ke Tiongkok, di mana British Airways menghentikan penerbangan hariannya ke Beijing dan Shanghai. Operator Amerika Serikat juga menangguhkan beberapa penerbangan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.

 Saat liputan media meningkat, “faktor ketakutan” mempengaruhi pasar secara negatif, menurut Michael Binetti, seorang analis ritel di Credit Suisse.

 Saham ritel Amerika Serikat dengan paparan Tiongkok yang bermakna seperti Nike (ticker: NKE) dan Estée Lauder (EL) dapat mengalami penurunan laba per saham 3 hingga 5 persen, demikian tulisan Michael Binetti dalam sebuah laporan.

 Banyak analis membandingkan wabah Coronavirus dengan epidemi SARS pada tahun 2003 yang mengguncang pasar dan ekonomi Asia.

 “Sementara tingkat keparahan dampak ekonomi adalah tidak diketahui, kemungkinan akan berumur pendek jika mengikuti pola kasus-kasus historis,” Andrew Tilton, kepala ekonom Asia Pasifik di Goldman Sachs, mengatakan dalam sebuah laporan.

 “Dalam kasus SARS dan wabah baru-baru ini lainnya, palung dalam aktivitas biasanya terjadi 1-3 bulan setelah wabah.”

 Menarik pelajaran dari epidemi sebelumnya, Goldman Sachs memperkirakan bahwa pengeluaran terkait wisatawan, seperti perhiasan, dan pengeluaran untuk pakaian dan peralatan rumah tangga, di Tiongkok, Hong Kong, dan Taiwan adalah yang paling rentan terhadap dampak penyakit menular. Termasuk restoran, pengecer, dan department store kemungkinan akan terkena dampak negatif dari wabah tersebut.

 Insiden masa lalu menunjukkan bahwa dampak ekonomi dari penyakit menular cenderung berlangsung selama satu hingga dua kuartal, menurut laporan oleh Morgan Stanley.

 Studi-studi dari akademisi, lembaga internasional, dan model ekonometrik Morgan Stanley menyatakan, bahwa dampak SARS terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto tahunan Tiongkok adalah sekitar satu poin persentase, menurut laporan Morgan Stanley.

 Tangki Harga Minyak

 Menurut analis, Wabah Coronavirus juga menyebabkan menguapnya harga minyak. Pasar bahan bakar jet diperkirakan paling menderita.

 Presiden Organisasi-Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) Mohamed Arkab mengatakan kepada wartawan pada tanggal 27 Januari, bahwa ia memperkirakan wabah Coronavirus hanya berdampak kecil pada pasar minyak global untuk saat ini. Ia menambahkan bahwa produsen minyak siap bereaksi terhadap perkembangan baru.

Phil Flynn, analis energi senior di Price Futures Group di Chicago, berpendapat reaksi OPEC adalah “terlalu optimistis.”

 “Intinya untuk minyak adalah bahwa kita belum pernah melihat karantina separah ini. Pesawat dan kereta api tidak beroperasi, dan pabrik ditutup dan akan menyebabkan pukulan bersejarah terhadap permintaan energi,” tulis Phil Flynn. (Vivi/asr)

Ikuti Emel di Twitter: @mlakan

Artikel Ini Terbit di The Epochtimes

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular