Oleh James Grundvig 

Uji Coronavirus berlangsung pada tanggal 18 Oktober 2019. Tujuan konsorsium kesehatan global adalah untuk mengetahui apa yang dapat dipelajari dari model komputer yang mensimulasikan wabah yang menyebar keluar dari Amerika Selatan. 

Tiga minggu kemudian, dengan dipersenjatai dengan data adanya 65 juta orang virtual yang terbunuh, kelompok itu berkumpul kembali dengan para pakar kesehatan dunia untuk mendiskusikan “Peristiwa 201.”

Konsorsium kesehatan global, yang terdiri dari Universitas John Hopkins, Forum Ekonomi Dunia, dan Yayasan Bill and Melinda Gates, menyebut Peristiwa 201 sebagai “peristiwa besar” berikutnya setelah 200 epidemi yang dipantau Organisasi Kesehatan Dunia setiap tahun. Apa yang mereka temukan dalam analisis data?

Pemerintah dan lembaga kesehatan tidak siap untuk memperlambat, apalagi mengendalikan infeksi massal akibat pandemi jenis Novel Coronavirus.

 Lihatlah. Dalam kekhasan waktu yang tak masuk akal, muncul wabah novel Coronavirus yang bermula di Wuhan, Tiongkok, tidak lama setelah atau bersamaan dengan konferensi Peristiwa 201 pada awal hingga pertengahan bulan November. Hal itu memaksa Universitas John Hopkins mengeluarkan pernyataan, karena banyak yang berspekulasi bahwa konsorsium kesehatan global itu entah bagaimana terlibat dengan flu Wuhan.

 Pernyataan itu berbunyi, sebagiannya berikut ini :

“Baru-baru ini, Center for Health Security menerima pertanyaan apakah latihan pandemi itu meramalkan wabah jenis Coronavirus baru saat ini di Tiongkok. Untuk memperjelas, Center for Health Security dan mitranya tidak membuat perkiraan selama latihan di meja kami. Untuk skenario, kami memodelkan pandemi Coronavirus fiksi, tetapi kami secara eksplisit menyatakan bahwa itu bukanlah perkiraan…”

Spekulasi seperti itu muncul dari artikel bulan Oktober oleh Canadian Broadcasting Corporation: 

“Ilmuwan pemerintah Kanada sedang diselidiki staf terlatih di laboratorium Tingkat 4 di Tiongkok.”

Laboratorium Tingkat 4 berada di dalam Institut Virologi Wuhan di Akademi Sain Tiongkok, yang terletak sekitar 35 kilometer dari tempat asal wabah Coronavirus.

Artikel Canadian Broadcasting Corporation  menyatakan:

“Seorang ilmuwan pemerintah Kanada di Laboratorium Mikrobiologi Nasional di Winnipeg melakukan setidaknya lima perjalanan ke Tiongkok pada tahun 2017 hingga 2018, termasuk seorang untuk melatih para ilmuwan dan teknisi di laboratorium Tiongkat 4 yang bersertifikat baru-baru ini Tiongkok, melakukan penelitian dengan patogen paling mematikan, menurut dokumen perjalanan yang diperoleh oleh Canadian Broadcasting Corporation News.

 “Xiangguo Qiu — yang dikawal keluar dari Laboratorium Mikrobiologi Nasional di Winnipeg pada bulan Juli lalu di tengah penyelidikan Kepolisian Kanada terhadap apa yang digambarkan oleh Badan Kesehatan Masyarakat Kanada sebagai ‘pelanggaran kebijakan’ yang mungkin — diundang untuk pergi ke Laboratorium Wuhan National Biosafety di Akademi Sain Tiongkok dua kali setahun selama dua tahun, hingga dua minggu.”

Virus dengan Latensi yang Sangat  Rendah

Yang membuat 2019-nCoV begitu mengerikan adalah 2019-nCoV beroperasi secara berbeda dari semua jenis yang muncul sebelumnya. 

Para ilmuwan menemukan jenis Novel Coronavirus dapat menyebar pada fase pertama dari periode latensi ganda. Pertama, inkubasi, kemudian diikuti oleh munculnya gejala mirip-flu. Dalam mode secara diam-diam itu, orang yang terinfeksi tidak menunjukkan tanda-tanda demam, batuk, atau menggigil selama tujuh hari hingga sepuluh hari pertama. Tanpa disadari, orang tersebut dapat menularkan penyakit ini kepada orang lain yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, pekerjaan, atau perjalanan orang tersebut.

Dengan kasus-kasus pertama muncul di Wuhan pada awal bulan Desember 2019, yang berarti wabah bisu itu mulai tidak terdeteksi beberapa minggu sebelumnya, pemerintah Tiongkok sendiri tak memberitahukannya kepada Organisasi Kesehatan Dunia sampai akhir bulan Desember 2019, di mana pengumuman resmi pemerintahan Komunis Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019. 

Kesenjangan waktu yang panjang itu, yang merentang sejak pertengahan bulan November 2019, memungkinkan Coronavirus menyebar jauh dan luas di Wuhan, kota industri Tiongkok yang berpenduduk sebelas juta jiwa itu. 

Dalam sebuah pengakuan yang menakjubkan, Walikota Wuhan mengakui bahwa sebanyak lima juta migran dan penduduk pulang kampung ke Wuhan  untuk merayakan Tahun Baru Imlek.

Seperti simulasi Peristiwa 201, rezimi Komunis Tiongkok kehilangan kesempatan untuk mengendalikan Coronavirus, demikian juga Organisasi Kesehatan Dunia mengakui bahwa “kesalahan manusia” menyebabkan Organisasi Kesehatan Dunia itu meremehkan tingkat keparahan Coronavirus. Pada paruh pertama Januari 2020, Tiongkok mulai membangun ribuan tempat tidur untuk rumah sakit dalam waktu singkat. Tetapi hal itu tak sama dengan menangani wabah penyakit.

 Vaksin yang Menawarkan Sedikit Harapan

Kesenjangan waktu berikutnya untuk membendung tsunami infeksi Coronavirus secara medis adalah memakan waktu yang lama: Pengembangan vaksin jalur-cepat memakan waktu enam hingga delapan bulan jika semuanya berjalan dengan baik. 

Tetapi CEO Novartis, Vas Narasimhan mengatakan kepada CNBC bahwa mengembangkan vaksin Coronavirus “memakan waktu satu tahun.” Ia mengatakan, kita perlu benar-benar menggunakan kendali epidemiologi untuk benar-benar mendapatkan situasi yang lebih baik.”

Karena memakan waktu yang begitu lama untuk menghasilkan vaksin, sementara novel Coronavirus menyebar secara eksponensial, rencana untuk melaksanakan imunisasi tidak mungkin berhasil pada tahun 2020.

 Didasarkan oleh kenyataan ini, kini Tiongkok sedang memeriksa tiga puluh obat yang tersedia untuk mengetahui obat mana yang ampuh dengan cara mengobati faktor host atau pejamu, dan tidak berusaha mencegah penyakit dengan vaksin yang mungkin bekerja atau mungkin tidak bekerja. Untuk diketahui faktor host atau pejamu adalah manusia dan makhluk hidup lain yang menjadi tempat perkembangan penyakit. 

 Apa yang dapat dilakukan orang pada saat itu? Organisasi Kesehatan Dunia, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dan Gates Foundation mengakui dengan tindakan dan pernyataan mereka sendiri bahwa mereka tidak siap menghadapi pandemi.

 Mengobati Faktor Host atau Pejamu

Skenario ini – pandemi global dengan jadwal pengembangan vaksin yang memakan waktu lebih dari setahun – telah dilihat dua kali sebelumnya oleh Dr. David S. Fedson. Pertama, saat wabah SARS tahun 2003 di Hong Kong. Kemudian saat epidemi Ebola tahun 2014 di Afrika Barat.

 Saat epidemi Ebola tahun 2014 di Afrika Barat, Dr. David S. Fedson secara tidak sengaja menerima tantangan “industri” dari Organisasi Kesehatan Dunia serta Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS, yang hanya fokus menggunakan vaksin untuk mencegah penyakit melalui imunisasi. 

Masalah yang ia sadari kemudian, seperti yang ditemukan Tiongkok saat ini dan apa yang dibuktikan oleh konsorsium Peristiwa 201 pada musim gugur lalu, bahwa vaksin bukanlah obat untuk menyembuhkan. Mereka membutuhkan waktu untuk mengembangkan, menguji, memurnikan, memproduksi secara massal, dan kemudian mendistribusikan vaksin. Dan itu pun jika vaksinnya benar dan virus tidak bermutasi secara bermakna selama produksi.

 Dr. David S. Fedson juga menyadari bahwa istilah pemasaran Organisasi Kesehatan Dunia serta Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS, yaitu “kesiapsiagaan pandemi” dan “keamanan kesehatan global,” bukanlah solusi untuk sebuah krisis. 

Organisasi Kesehatan Dunia serta Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS tidak melakukan apa pun untuk mengatasi masalah mendasar atau ancaman virus mematikan. Saat orang terinfeksi, baik terinfeksi virus  Ebola atau Coronavirus, yang kemudian menderita sakit parah dan sekarat, maka tidak banyak waktu dimiliki orang tersebut.

 Mengapa, pada abad ke-21, para penjaga pintu layanan kesehatan terus bergantung pada perawatan yang lambat dan tidak efektif saat epidemi terjadi? Mengapa mereka tidak memiliki program respons yang cepat terhadap pandemi? Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS memang memiliki strategi nasional dalam menyediakan vaksin, obat-obatan antivirus, antibiotik, dan obat-obatan yang disimpan di lokasi-lokasi rahasia di seluruh Amerika Serikat. Tetapi mengapa persediaan tersebut tidak mencakup  vitamin C, glutation, dan obat lain yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh seseorang dan menghalangi virus untuk menyerang?

 Titik Buta Organisasi Kesehatan Dunia dalam Merespons Pandemi

 Dr. David S. Fedson menjelaskan alasannya dalam wawancara telepon dari Prancis. Ia mengatakan: “Pihak berwenang kesehatan Amerika Serikat tidak setuju. Pertama, dengan langkah [Organisasi Kesehatan Dunia] yang tidak dapat ditawar-tawar untuk membuat vaksin Ebola sejak tahun 2002, serta mengabaikan semua perawatan non-vaksin lainnya yang lebih murah dan lebih efektif. Pola mengabaikan teknologi dan obat-obatan yang tersedia diulangi lagi  untuk kasus virus Zika.”

 Dr. David S. Fedson melanjutkan: “Di Kongo, melawan garis depan Ebola hari ini, petugas kesehatan perlu, dengan bijaksana menggunakan, 260.000 vaksin dalam penyimpanan berpendingin pada suhu serendah – 60◦ Fahrenheit pada iklim panas. Logistik untuk distribusi di daerah terpencil memakan biaya besar dengan kontrak vaksin, sementara Organisasi Kesehatan Dunia membuat jaringan pengawasan yang menambahkan biaya menjadi lebih mahal untuk program semacam itu.”

 Dr. David S. Fedson melanjutkan, dengan menyatakan, “Kongres menyediakan dana sebesar 5 miliar dolar AS untuk menyediakan unit perawatan intensif yang khusus dan tim keamanan hayati di Afrika sebagai respons terhadap Ebola. Organisasi internasional, Gates Foundation, Welcome Trust, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit membuang  puluhan juta dolar dalam memberi respons semacam itu. 

Organisasi-organisasi tersebut melihat tambang emas untuk dimanfaatkan. Tetapi untuk perawatan generik, Organisasi Kesehatan Dunia tidak tertarik dalam mendukung  penelitian karena akan membahayakan mekanisme pendanaan mereka untuk meningkatkan modal untuk keadaan darurat di masa depan.”

 Dalam melihat bagaimana wabah Ebola tahun 2014 menewaskan lebih dari 11.000 orang, dengan kematian setinggi 50 persen, Dr. David S. Fedson melihat “pasien yang meninggal dunia akibat Ebola memiliki kadar sitokin atau protein kecil yang bertanggung jawab untuk pensinyalan sel, yang meningkat. Sitokin mendukung peradangan.” Ia melihat masalah yang sama pada pasien sepsis atau peradangan seluruh tubuh akibat infeksi dan sampailah ia pada apa yang dilakukan dokter ahli jantung  untuk menggagalkan terjadinya sepsis. Gunakan obat-obatan umum yaitu statin dan penghambat reseptor angiotensin.

 “Terapi ini menargetkan pejamu. Orang bertahan hidup, bukannya meninggal dunia,  karena sistem kekebalan tubuhnya sendiri dapat merespons. Dokter dapat mengambil obat-obatan ini dari lemari obatnya; dokter mengetahui bahwa obat-obatan ini aman digunakan pada pasien. Ini akan memungkinkan pasien untuk menopang respons pejamu dengan biologi evolusi untuk melawan wabah berikutnya. Anak-anak lebih tahan terhadap epidemi flu daripada orang dewasa, karena flu menurunkan metabolisme energi. Setiap dokter anak dapat membangun pengamatan itu. Terapi ini lebih jinak dengan peluang hidup yang lebih baik.”

 Dr. David S. Fedson adalah seorang dokter seumur hidup yang menjabat sebagai rekanan klinis di Laboratorium Investigasi Klinis di Institut Kesehatan Nasional dan Kepada Residen Kesehatan di Universitas Chicago, adalah anggota Komite Penasihat Praktik Imunisasi Layanan Kesehatan Masyarakat Amerika Serikat tahun 1984-1988, bertugas di Gugus Tugas Imunisasi Orang Dewasa di American College of Physicians tahun 1982-1990, menjadi Direktur Urusan Medis untuk Aventis Pasteur MSD di Lyon, Prancis tahun 1995, dan lulusan Yale Medical School tahun 1965, Ia berbicara dengan nada frustasi.

 Selama kariernya yang menonjol, dengan penelitiannya yang menetapkan “dasar pemikiran epidemiologis untuk influenza berbasis rumah sakit dan imunisasi pneumokokus,” Dr. David S. Fedson tidak heran dengan semuanya itu.

 Ia menyimpulkan, dengan mengatakan, “Evolusi adalah cara sistem kekebalan tubuh dapat merespons jika diberi kesempatan berjuang. Tidak ada ilmuwan yang dapat meniru evolusi tersebut di laboratorium.”

 Jadi mengapa tidak ada penjaga pintu layanan kesehatan di Organisasi Kesehatan Dunia, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dan Universitas John Hopkins yang melakukan lebih banyak penelitian obat-obatan dan perawatan yang ada untuk melawan penularan berikutnya?

 Pandemi Novel Coronavirus tahun 2020 mungkin mengakibatkan jutaan orang meninggal dunia. Tetapi pandemi Coronavirus tahun 2020 tidak akan menjadi model Peristiwa 201 yang menghantui masyarakat di seluruh dunia. Hal tersebut menyebabkan hilangnya kesempatan terlewatkan yang akan melukai ingatan kolektif saat pandemi mengerikan ini merebak. (Vivi/asr)

James Grundvig seorang penulis yang menyingkap Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS -CDC- dengan bukunya berjudul “Master Manipulator: The Explosive True Story of Fraud, Embezzlement and Government Betrayal at the CDC.” Dia tinggal dan bekerja di New York City, Amerika Serikat.

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular