Xia Yu/ Ye Ziwei – Epochtimes.com

Pada Rabu (5/2/2020) dua kapal pesiar terkena dampak pneumonia Wuhan, karena penumpang di kapal pesiar terinfeksi virus corona baru, akibatnya ribuan penumpang pun dikarantina selama 14 hari.

Selain itu, industri penerbangan, industri/produsen pesawat terbang dan automotive, industri ritel juga terpukul oleh wabah pneumonia Wuhan yang menyebar dengan cepat.

Saat ini tidak ada cara yang efektif untuk mengobati penyakit ini. Dari 11 hingga 12 Februari 2020, ratusan ahli akan bertemu di Jenewa untuk membahas tindakan pencegahan terhadap epidemi dan mempercepat pengembangan vaksin dan obat-obatan.

Penyebaran virus korona baru telah mengganggu perjalanan udara. Lebih dari dua puluh maskapai penerbangan telah menangguhkan atau membatasi penerbangan ke Tiongkok.

Banyak negara, termasuk Amerika Serikat, melarang masuk siapa pun yang telah mengunjungi Tiongkok dalam dua minggu terakhir, sementara Taiwan. pada Kamis pekan lalu telah memberlakukan larangan masuk bagi warga Tiongkok .

Demikian juga dengan wisata kapal pesiar terkena dampak pneumonia Wuhan, pabrik-pabrik produsen otomotif  dan pesawat terbang di Tiongkok juga telah ditangguhkan.

Ribuan Orang di Dua Kapal Pesiar Dikarantina, Industri Pariwisata Terdampak

Kapal pesiar Diamond Princess yang dioperasikan oleh Princess Cruises saat ini berlabuh di Yokohama, Jepang. Sekitar 3.700 penumpang menghadapi karantina selama setidaknya dua minggu setelah pejabat kesehatan Jepang mengkonfirmasi 20 penumpang positif terjangkit virus korona baru.

Sementara kapal pesiar lainnya World Dream yang berada di bawah payung Genting Hong Kong Limited, yakni perusahaan induk yang mengoperasikan bisnis pelayaran dan resort.

Hampir 4.000 orang termasuk awak kapal dikaranina di kapal tersebut sambil menunggu hasil pengujian virus. Kapal pesiar saat ini berlabuh di pelabuhan Hong Kong.

Penyebab karantina, tiga penumpang dites positif virus korona baru.

Princess Cruises mengatakan telah membatalkan pelayaran dua kapal pesiar yang semula dijadwalkan akan berangkat pada tanggal 4 dan 12 Februari dari Yokohama, Jepang.

Sebelum awal Maret, Royal Caribbean International membatalkan delapan pelayaran dari Tiongkok dan “menolak penumpang naik kapal ke dan dari Tiongkok atau Hong Kong dalam 15 hari terakhir.”

Perusahaan kapal pesiar Norwegia-Amerika itu mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa para penumpang ini akan ditawari pengembalian uang penuh.

Perusahaan juga akan melakukan pemeriksaan kesehatan pada semua pemegang paspor Tiongkok atau Hong Kong, serta penumpang yang melaporkan merasa tidak nyaman secara fisik atau menunjukkan gejala seperti flu.

Sejumlah besar maskapai penerbangan di seluruh dunia menangguhkan penerbangan ke Tiongkok, dan berimbas pada industri kargo

Cathay Pacific Hong Kong telah meminta 27.000 karyawannya untuk mengambil cuti tiga minggu yang tidak dibayar. Perusahaan itu mengatakan situasinya sama parahnya dengan krisis keuangan 2009.

American Airlines, United Airlines, Delta Air Lines dan Air Canada, telah menangguhkan penerbangan ke dan dari Tiongkok. American Airlines dan United Airlines mengatakan bahwa setelah minggu ini, penerbangan ke dan dari Hong Kong juga akan ditangguhkan.

Maskapai Eropa seperti Air France, British Airways, Lufthansa (termasuk Swissair, Austrian Airlines), Turkish Airlines, Emirates, Qatar Airways juga telah menangguhkan penerbangan ke Tiongkok.

Demikian juga dengan Qantas dan Air New Zealand juga menangguhkan penerbangan ke Tiongkok. Sementara dari maskapai Asia, Air China, ANA (All Nippon Airways), Japan Airlines, Korean Air telah menangguhkan beberapa penerbangan ke Tiongkok.

Sekitar setengah dari kargo udara yang dikirim ke seluruh dunia dibawa di dalam perut pesawat jet, bukan menggunakan pesawat kargo khusus.

Kerugian Produksi Satu Juta Unit Kendaraan

Pada Senin, (5/1/2020) pasar saham Tiongkok kehilangan hampir $ 700 miliar karena banyaknya pabrik yang tutup, aktivitas kota terhenti (penutupan kota), dan pembatasan perjalanan, sehingga meningkatkan kekhawatiran tentang rantai pasokan global.

Hyundai Motor mengatakan akan menangguhkan produksi di Korea Selatan, karena gangguan pasokan suku cadang, menjadi produsen mobil pertama yang menangguhkan produksinya di luar Tiongkok.

Sementara itu, produsen mobil global memperluas penutupan pabriknya di Tiongkok. Ini termasuk Hyundai, Tesla, Ford, Peugeot Citroen, Nissan dan Honda.

Bloomberg News melaporkan bahwa Tiongkok mungkin mengalami kerugian produksi senilai satu juta unit mobil, dan situasinya bisa lebih buruk karena ledakan wabah virus korona di “kota otomotif” Wuhan, Tiongkok.

Wuhan adalah basis produksi utama industri otomotif Tiongkok, terutama pabrikan asing seperti Nissan, Kia, Peugeot dan Honda memiliki pabrik di kota itu. Nissan memproduksi sekitar 1,5 juta unit mobil dan Honda sekitar 700.000 unit per tahun di Wuhan.

“Tidak seorang pun di Beijing, Shanghai, dan Guangzhou berani keluar menempuh risiko,” kata Michael Dunne, kepala konsultan mobil Asia ZoZo Go. “

Dan sepertinya  “Tiongkok akan kehilangan sekitar satu juta unit mobil,” karena tidak ada jadwal yang jelas kapan industri mobil akan kembali normal,” katanya

Manufaktur dan Ritel Lainnya

Pembuat pesawat Airbus mengatakan telah memperpanjang rencana penutupan pabrik perakitan di Tianjin, Tiongkok, karena keadaan darurat coronavirus. Airbus menambahkan bahwa pembatasan perjalanan domestik dan global Tiongkok berdampak pada bisnis, “membawa beberapa tantangan logistik.”

Pemasok global seperti Foxconn Apple (AAPL.O) Taiwan yang memproduksi ponsel, berencana secara bertahap memulai kembali pabrik di Tiongkok minggu depan. Akan tetapi mungkin diperlukan setidaknya satu atau dua minggu untuk produksi secara total.

Perusahaan pakaian olahraga Jerman Adidas mengatakan akan menutup sementara sejumlah toko di Tiongkok.

Capri Holdings Limited, perusahaan induk merek fashion mewah Versace, Michael Kors dan Jimmy Choo, mengatakan pihaknya memperkirakan virus corona memiliki “dampak yang substansial”bagi kinerja keuangan perusahaan, sehingga menurunkan prospek perusahaan tahun 2020.

Perusahaan itu mengatakan bahwa sampai pada 5 Februari 2020, sekitar 150 dari 225 toko di daratan Tiongkok telah ditutup. Sebagian besar toko yang masih buka telah mengurangi jam kerja, selain itu juga dikarenakan arus lalu lintas pelanggan juga menurun tajam. (jon)

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular