Simin Chen

Dua laporan berbeda dari media pemerintahan Komunis Tiongkok pada tanggal 3 Februari 2020 membuat pernyataan yang bertentangan mengenai pasokan kit diagnostik untuk mendeteksi jenis Novel Coronavirus.

 Salah satu laporan menulis, “Pada konferensi pers Dewan Negara Tiongkok pada tanggal 3 Februari, Tian Yulong, seorang kepala insinyur dari Kementerian Industri dan Teknologi Informasi Tiongkok, mengumumkan bahwa pada 1 Februari 2020, output harian dari kit diagnostik telah mencapai 773.000, yang mana adalah 40 kali jumlah pasien yang dicurigai menderita Coronavirus. Oleh karena itu, kini fasilitas kesehatan Tiongkok memiliki pasokan kit diagnostik yang cukup.”

 Namun demikian, laporan lain mengutip seorang ahli kesehatan yang mengatakan bahwa  kekurangan kit diagnostik di Wuhan, pusat penyebaran wabah Coronavirus.

“Li Lanjuan, seorang akademisi dari Akademi Teknik Tiongkok dan salah satu pakar kesehatan di Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, memimpin sebuah tim ke Wuhan untuk terlibat dalam pekerjaan penyelamatan. Dalam sebuah wawancara dengan China Central TV ( CCTV) pada tanggal 3 Februari, Li Lanjuan mengatakan bahwa saat ini kekurangan kit diagnostik di Wuhan. Oleh karena itu, tidak setiap orang [yang menunjukkan gejala jenis Coronavirus baru] dapat menerima uji diagnostik,” kata laporan itu.

Dua pernyataan yang bertentangan ini menunjukkan bahwa jumlah “pasien yang diduga menderita Coronavirus” adalah jauh lebih tinggi daripada angka resmi yang dikeluarkan oleh rezim Tiongkok.

Termasuk, masalah utama adalah bahwa banyak pasien suspek yang diduga menderita Coronavirus sengaja ditolak oleh rumah sakit. Mereka yang belum dipastikan menderita Coronavirus tidak mendapatkan rawat inap di rumah sakit, dan mereka tidak dihitung dalam angka resmi. Jika mereka meninggal dunia tanpa ditegakkan diagnosis menderita Coronavirus, maka mereka tak dihitung dalam angka kematian.

Memang, banyak pasien meninggal dunia sebelum berkesempatan untuk ditegakkan diagnosisnya. Mantan Walikota Huangshi Yang Xiaobo adalah salah satu dari pasien semacam ini. Ia dikatakan “meninggal dunia akibat menderita pneumonia yang parah.” 

Yang Xiaobo adalah pensiunan pejabat tinggi. Jika para dokter tidak peduli untuk memastikan penyakit yang diderita Yang Xiaobo, maka tentu saja warga negara biasa berpeluang lebih sedikit untuk diuji guna membuktikan penyakit yang dideritanya.

 Seorang netizen Wuhan mengungkapkan secara online bahwa salah satu kerabatnya didiagnosis menderita penyakit Coronavirus di rumah sakit dan meninggal dua hari kemudian di rumah. Ia memeriksa data resmi kasus kematian akibat Coronavirus dan menemukan bahwa nama kerabatnya tidak ada dalam daftar tersebut. Bahkan itu berarti, jika seorang yang dipastikan menderita Coronavirus meninggal dunia di rumah dan tidak meninggal di rumah sakit, maka ia tidak dimasukkan dalam angka resmi.

Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok pada tanggal 2 Februari mempublikasikan pedoman mengenai menangani jenazah yang terinfeksi Coronavirus, yang secara eksplisit menyatakan bahwa jenazah tersebut harus dikremasi di fasilitas terdekat dan dilarang untuk diangkut ke daerah lain. Dilarang mengubur jenazah atau metode lain. Selama proses itu, jenazah harus disegel dalam kantong jenazah, keluarga dan kerabat tidak diizinkan untuk melihat jenazah tersebut.

Pedoman ini memicu kekhawatiran di kalangan netizen Tiongkok. Mereka mengajukan pertanyaan seperti, “Bagaimana jika pasien tersebut belum mati?” “Saya khawatir pasien yang sakit parah itu tidak mendapatkan perawatan apa pun. Mungkin saja mereka sekarat sampai mati di dalam bangsal rumah sakit yang terisolasi.”

 Banyak warga Tiongkok menuntut pemerintah Wuhan untuk mempublikasikan jumlah pasien yang dikremasi pada bulan Januari.

Pejabat pemerintah Wuhan tentu tidak akan mengungkapkan angka ini, karena mereka menyembunyikan skala wabah yang sebenarnya sejak awal.

Sebelum perdagangan saham Tiongkok dilanjutkan pada tanggal 3 Februari, ada kebutuhan untuk memanipulasi data untuk menstabilkan pasar saham. Angka yang dikeluarkan oleh Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok menunjukkan titik balik yang bermakna — pada tanggal 1 Februari, jumlah harian dari kasus baru Coronavirus menurun dalam dua hari berturut-turut. Juga, jumlah kumulatif pasien yang telah pulih lebih tinggi dari jumlah kematian kumulatif.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok juga melanjutkan pekerjaan pada hari yang sama saat pasar saham Tiongkok melanjutkan perdagangan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying, menyatakan bahwa Tiongkok  memberitahukan Amerika Serikat mengenai wabah Coronavirus dan tindakan pencegahan Tiongkok adalah 30 kali sejak tanggal 3 Januari. Namun demikian, Amerika Serikat tetap memimpin untuk mengevakuasi warganegaranya dari Wuhan. Ia mengkritik Amerika Serikat karena tidak menunjukkan “kebaikan yang tulus” terhadap Tiongkok.

Mengapa Hua Chunying tidak mengkritik rezim komunis Tiongkok karena menutupi wabah tersebut, mendatangkan malapetaka pada rakyat Tiongkok, dan menyebabkan Coronavirus menyebar ke seluruh dunia? 

Mengapa ia tidak berterima kasih kepada produsen desinfektan Amerika Serikat yang meminta karyawan untuk bekerja lembur dan menggandakan produksinya dari tiga kali menjadi enam kali untuk membantu Tiongkok mengendalikan Coronavirus?

Dalam pernyataannya yang tidak masuk akal untuk menyalahkan Amerika Serikat, Hua Chunying secara tidak sengaja mengungkapkan bahwa rezim Komunis Tiongkok sepenuhnya menyadari pada tahap awal bahwa “wabah Coronavirus adalah sangat parah.”

Rezim Komunis Tiongkok selalu menempatkan kekuatannya di hadapan kehidupan rakyat Tiongkok. Warga sipil Tiongkok dibombardir dengan kebohongan dan rahasia yang ditutup-tutupi. Semua angka resmi dari Tiongkok — jumlah kasus yang dipastikan, angka kematian, angka pemulihan — adalah menyimpang.

Banyak warga terinfeksi atau meninggal dunia akibat novel Coronavirus, tetapi tidak dihitung dalam angka resmi. Angka-angka yang dikeluarkan oleh rezim Komunis Tiongkok hanyalah sebagian kecil dari jumlah kasus yang sebenarnya di Wuhan. 

Artikel Ini Sebelumnya Diterbitkan di The Epochtimes

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular