Nicole Hao

Wuhan, tempat Coronavirus kali pertama menyebar, memiliki sekitar 11 juta penduduk. Para ahli meragukan aturan baru itu  akan efektif dalam mengendalikan penyakit itu. Sementara netizen Tiongkok khawatir bahwa peraturan baru ini dapat secara tidak sengaja menyebabkan Coronavirus menyebar lebih cepat. Wakil Perdana Menteri Sun Chunlan bertanggung jawab atas urusan wanita dan anak-anak, pendidikan, kesehatan, olahraga, dan urusan veteran.

Pada pertemuan (6/2/2020) untuk menanggapi wabah Coronavirus, Sun Chunlan meminta agar pemerintah Wuhan “menggunakan seluruh sumber daya di Wuhan dan mengunjungi setiap keluarga, untuk menemukan empat tipe orang” dengan cara mengukur suhu tubuhnya.

Keempat jenis orang itu  mengacu pada: pasien yang didiagnosis menderita Coronavirus; pasien yang dicurigai menderita Coronavirus; pasien yang menderita demam dan belum didiagnosis terinfeksi Coronavirus; dan orang yang memiliki kontak dekat dengan pasien yang didiagnosis menderita Coronavirus dan diduga terinfeksi Coronavirus.

 “Anda tidak boleh tidak memeriksa sebuah keluarga, atau siapa pun,” kata Sun Chunlan, menurut media yang dikelola pemerintah Tiongkok.

 Sun Chunlan menggunakan “masa perang” untuk menggambarkan situasi Wuhan saat ini. Dia menambahkan bahwa keempat jenis orang itu harus dikirim ke pusat karantina atau rumah sakit di Wuhan.

 Sun Chunlan mengancam para pejabat Wuhan bahwa mereka akan dihukum jika lalai memeriksa penduduk.

 Akan tetapi para ahli khawatir bahwa staf pekerja yang mengunjungi setiap rumah tangga secara tidak sengaja dapat menularkan Coronavirus yang fatal, jika staf pekerja bersentuhan dengan orang yang terinfeksi Coronavirus dan Coronavirus mendarat di pakaian pelindungnya.

 Sean Lin, seorang ahli mikrobiologi yang berbasis di Amerika Serikat dan mantan peneliti virologi untuk Angkatan Darat Amerika Serikat, menduga bahwa pihak berwenang Tiongkok memberikan mandat itu untuk mendeteksi “penyebar super,” atau pasien yang dapat menularkan Coronavirus dengan mudah ke individu yang sehat.

 “Mandat Sun Chunlan  membuat saya khawatir karena pemerintah Tiongkok lebih peduli politik daripada pengendalian penyakit, perawatan kesehatan, dan bantuan kemanusiaan,” kata Sean Lin.

 Netizens tampaknya setuju. Yanan, seorang warga Wuhan memposting di Weibo bahwa ia dan anggota keluarganya tidak meninggalkan rumahnya sejak tanggal 23 Januari  2020 dan sejauh ini dalam kondisi sehat.

 “Kini pemerintah Tiongkok mengatur seseorang dari luar untuk masuk ke rumah kami dan mengukur suhu tubuh  kami dengan menggunakan termometer dari luar yang mungkin terkontaminasi dengan Coronavirus,” kata Yanan.

 Menurut Yanan karena rumahnya tidak memiliki produk desinfektan, maka ia tidak memiliki alat yang tepat untuk mencegah Coronavirus menyebar saat staf kesehatan mengukur suhu tubuh mereka.

 Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat menyarankan agar petugas layanan kesehatan sering mendisinfeksi sarung tangannya saat  merawat pasien yang dicurigai atau dipastikan menderita penyakit menular.

Pakar lain, seperti Ai Li, komentator urusan Tiongkok yang berbasis di Amerika Serikat, ragu bahwa mengukur suhu tubuh dapat secara akurat mengidentifikasi pasien Coronavirus. Itu  terutama karena para ahli kesehatan Tiongkok telah memastikan bahwa beberapa orang yang terinfeksi Coronavirus mungkin tidak menunjukkan gejala selama masa inkubasi— rentang waktu hingga 14 hari — tetapi masih dapat menularkan Coronavirus ke orang lain.

 Ai Li juga mempertanyakan keputusan pihak berwenang Tiongkok untuk mengirim pasien yang diduga menderita Coronavirus ke pusat karantina, karena mereka dapat saling menginfeksi.

 “Jika anda melihat video yang difilmkan oleh netizen Tiongkok dari pusat karantina dan rumah sakit darurat di Tiongkok, anda akan segera tahu bahwa orang sehat pun akan menderita sakit di lingkungan seperti itu,” kata Ai Li dalam acara komentar berbahasa Mandarin di YouTube.

 Netizen Wuhan berbagi video kondisi di fasilitas-fasilitas itu. Video-video itu mengatakan bahwa tidak ada obat, tidak ada staf kesehatan, makanan dan air minum yang sangat terbatas, serta lingkungan yang dingin dan tidak bersih dengan listrik yang tidak stabil.

 Sebagai informasi, jenis Coronavirus baru tahun 2019 pertama kali muncul di Wuhan pada awal bulan Desember 2019. Sejak itu menyebar ke seluruh Tiongkok dan puluhan negara. Pihak berwenang Tiongkok melaporkan total hampir 30.000 kasus infeksi, tetapi para ahli dan penduduk setempat percaya bahwa angka  sebenarnya jauh lebih tinggi. (vv)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular