NTDTV.com

Selama lebih dari sebulan, penyebaran yang cepat dari epidemi pneumonia Wuhan telah memicu tindakan  “penutupan kota” yang belum pernah terjadi sebelumnya di daratan Tiongkok. Pada 4 Februari 2020, Kota Yueqing, Provinsi Zhejiang mengumumkan penutupan kota.

Kota Zhengzhou (provinsi Henan), Kota Hangzhou, Wenzhou, (Provinsi Zhejiang), Kota Linyi Provinsi Shandong dan kota-kota lain di Tiongkok juga mulai menerapkan manajemen tertutup.

Pada 5 Februari 2020, di seluruh Provinsi Liaoning, Kota Hefei Provinsi Anhui, Kota Kunming Provinsi Yunnan, dan banyak wilayah kota lainnya juga menerapkan system penutupan kota.

Pada 6 Februari 2020, Kota Tianjin (Baca : Thien Cin), yang telah mengisolasi lebih dari 9.000 orang, menjadi kotamadya pertama di daratan Tiongkok yang menyatakan penutupan. Provinsi Jiangxi juga memasuki manajemen tertutup skala penuh pada hari yang sama.

Pada 7 Februari 2020, dua kota lapis pertama, yakni Guangzhou dan Shenzhen, serta 16 kota provinsi di Provinsi Anhui ditambahkan ke dalam daftar penutupan kota.

Sejauh ini, sudah tiga provinsi di Tiongkok, yakni Hubei, Liaoning, dan Jiangxi, serta sekitar 80 kota di seantero negeri Tiongkok telah menerapkan langkah-langkah penutupan kota dengan skala yang tidak sama.

Sementara itu, Beijing, belum mengumumkan penutupan kota, namun, pemandangan di jalanan yang diliput oleh wartawan Reuters pada 6 Februari 2020 lalu menunjukkan, jalan-jalan di sekitar tampak lengang saat puncak arus lalu lintas, pasar di jalan Xiushui yang biasanya ramai ditutup, dan tidak ada penumpang yang naik turun di Stasiun Metro Yonganli. Jalan-jalan utama yang biasanya ramai dengan lalu lalang manusia kini tampak sunyi senyap.

Di pusat epidemi Wuhan, meskipun segenap kota tampak sunyi senyap, namun terlihat antrean panjang di luar pintu Wuhan Union Hospital.

Selain itu, banyak pasien yang menunjukkan gejala terinfeksi virus corona pneumonia. Mereka seperti bola yang ditendang kesana kemari oleh rumah sakit dan lingkungan komunitas, sehingga mau tidak mau mengisolasi diri sendiri di rumah. Karena langkanya sarana medis, banyak pasien yang tidak dapat didiagnosis dan dirawat, hanya bisa menunggu ajal.

Sementara itu, Huoshenshan Hospital atau Rumah Sakit Huoshenshan dan Leishenshan Hospital yang didirikan komunis Tiongkok, disebut-sebut bahwa kamar pasien hanya bisa dibuka dari luar, jendela di setiap kamar pasien juga dipagari besi, dan dikelola oleh tentara, bangunan ini lebih mirip kamp konsentrasi daripada rumah sakit.

Sekadar diketahui, kedua rumah sakit darurat ini didirikan oleh pemerintahan Tiongkok di kota Wuhan, provinsi Hubei sebagai respon atas maraknya kasus penyebaran Koronavirus di negara itu, sejak akhir bulan Desember 2019.

Rumah sakit kabin persegi itu tidak memiliki sarana medis atau fasilitas karantina sama sekali. Semua orang hidup bersama, dan risiko infeksi silang sangat besar.

Menurut survei eksklusif oleh tim media bahasa Mandarin di luar negeri “The Epoch Times”, bahwa hanya satu hari pada 3 Februari 2020, jumlah pasien tewas akibat virus corona baru yang dikremasi di beberapa rumah duka di Hubei melebihi jumlah total kematian yang diumumkan oleh otoritas Tiongkok.

Seorang karyawan di salah satu rumah duka yang diwawancarai mengatakan, bahwa “volume pengangkutan dan kremasi mayat sekarang meningkat 4 hingga 5 kali dari hari biasa”, dan statistik awal menunjukkan bahwa 60% diangkut langsung dari rumah almarhum, bukan rumah sakit.

Sebelumnya di daratan, sepotong data tentang infeksi virus mahkota baru oleh staf medis di beberapa rumah sakit di Hubei dilaporkan.

Jauh sebelumnya tersebar di internet data tentang pekerja medis yang terinfeksi di sebagian rumah sakit provinsi Hubei.

Data terkait menunjukkan bahwa hingga 27 Januari 2020, ada 13 rumah sakit di Hubei yang mengkonfirmasi  lebih dari 1.100 pekerja medis didiagnosis terpapar virus corona atau diduga terinfeksi. Di antaranya itu, Wuhan Union Hospital menduduki tempat pertama dengan 262 orang yang terinfeksi atau diduga. Mereka yang terinfeksi dan tercatat paling awal adalah pada 1 Januari 2020.

Pada  7 Februari 2020, Rumah Sakit Pusat Wuhan memposting sebuah pesan di media social Weibo, mengatakan bahwa dokter mata Li Wenliang dari rumah sakit tersebut meninggal dunia pada Jum’at 7 Februari 2020 pukul 2:58 dini hari waktu setempat, karena gagal diselamatkan. 

Dokter Li Wenliang dihukum oleh otoritas komunis Tiongkok sebagai “pembuat rumor” karena memperingatkan tentang wabah pneumonia Wuhan di grup media sosial Tiongkok sebelum otoritas setempat mengumumkannya.

Kematian Dr. Li Wenliang sekali lagi memicu opini publik di dunia maya. Menurut warganet Tiongkok, bahwa dokter Li Wenliang meninggal karena hukum jahat komunis Tiongkok yang membatasi kebebasan berbicara, mengkritik otoritas komunis Tiongkok karena menekan opini publik dan menyembunyikan wabah penyakit yang sebenarnya.

Komunis Tiongkok menggunakan alasan menindak pelaku rumor sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas, menutupi fakta yang tidak kondusif bagi kekuasaan komunis Tiongkok. Ini adalah penyebab utama pneumonia Wuhan yang semakin tidak terkendali. Tapi sayangnya, komunis Tiongkok tidak akan pernah belajar dari pengalaman.

Qin Peng, seorang analis politik dan ekonomi di Amerika Serikat: Komunis Tiongkok mempertahankan kekuasaan dan eksistensinya melalui kekerasan dan kebohongan. Oleh karena itu, mereka tidak akan pernah mau memperbaiki kesalahan dan tidak akan meminta maaf semudah itu. Jadi, hingga detik ini, komunis Tiongkok tidak merasakan penyesalan apa pun atas bencana wabah yang ditutupi dan disebabkan olehnya. Penindasan yang berkelanjutan atas kebebasan berbicara dan menutupi kebenaran justru akan menewaskan banyak orang.

Berbagai bukti dari masyarakat di daratan Tiongkok menunjukkan, Komunis Tiongkok secara serius menyembunyikan situasi epidemi, yang menyebabkan penyebaran virus corona baru di seluruh negeri dan bahkan dunia.

Untuk pertama kalinya di Amerika Serikat dan Jepang, warga negara mereka meninggal dunia karena terinfeksi wabah virus corona baru di Wuhan. Jepang adalah negara dengan jumlah pasien terbesar yang didiagnosis di luar negeri, dengan total 89 kasus.

Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka telah mengalokasikan 100 juta dolar Amerika Serikat untuk membantu Tiongkok dan negara-negara lain yang terkena virus corona baru ini, dan telah menyumbangkan 17,8 ton sarana medis ke Tiongkok, termasuk masker dan sebagainya.

Singapura kembali menambahkan tiga kasus baru pneumonia Wuhan pada 7 Februari 2020, dengan 33 kasus yang dikonfirmasi. Otoritas setempat akan menaikkan tingkat peringatan menjadi oranye, sama seperti pada wabah SARS 2003 silam.

Sejauh ini, epidemi telah menyebar ke 28 negara dan wilayah di seluruh dunia. Hampir 300 kasus telah dikonfirmasi di luar negeri, dan 2 kasus dilaporkan meninggal dunia.

Sekitar 62 negara dan wilayah di dunia, memberlakukan pembatasan sementara pada warga negara Tiongkok atau orang-orang yang meninggalkan Tiongkok, dan menghentikan sepenuhnya atau sebagian penerbangan dari dan ke Tiongkok, untuk secara ketat mencegah dan mengendalikan penyebaran epidemi dari pneumonia Wuhan yang disebabkan virus corona baru. (jon)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular