Erabaru.net. Setelah menghabiskan berbulan-bulan di unit perawatan intensif rumah sakit empat tahun lalu untuk mengobati penyakitnya yang tak tersembuhkan dan melemahkan, Ana Estrada memutuskan bahwa pada titik tertentu ia ingin meninggal sebelum menjadi lebih buruk.

Estrada, 43 tahun, terbaring di tempat tidur dengan kondisi yang telah menghentikan pertumbuhan otot-ototnya sejak masa puber. Tubuhnya sudah sangat lemah, namun, ia tidak ingin bunuh diri.

Tetapi di bawah hukum Peru akan merupakan kejahatan untuk membantunya mengakiri hidupnya. Baik bunuh diri yang dibantu dan tindakan membunuh pasien yang sakit parah, yang disebut “pembunuhan penuh kasih”, akan mendapat hukuman penjara.

Sekarang Estrada menggugat negara, berharap hakim akan membiarkannya mengakhiri hidupnya, apa yang disebutnya “kematian dengan bermartabat”.

“Saya berpikir untuk melakukannya secara ilegal,” kata Estrada pada hari Jumat dari tempat tidurnya, di mana dia dibantu oleh seorang perawat.

“Tapi ada risiko … karena aku tidak bisa membiarkan seseorang membantuku mati. Aku tidak bisa meminta kerabat untuk melakukan kejahatan.”

Di negara yang sangat Katolik ini, di mana aborsi dan perkawinan gay tetap ilegal, Estrada dan pengacaranya melihat perjuangan untuk membiarkannya mati sebagai langkah pertama untuk melegalkan eutanasia di Peru. Pertarungan untuk mati, kata Estrada, telah memberi energi pada hidupnya.

Euthanasia tidak diizinkan di banyak negara, dan Gereja Katolik tetap menjadi lawan yang setia. Di Amerika Latin, Kolombia telah mengizinkannya dalam kondisi tertentu.

Estrada telah hidup sejak masa remajanya dengan polymyositis, suatu penyakit peradangan yang menghentikan pertumbuhan otot-ototnya dan tidak ada obatnya. Dia terbaring di tempat tidur dan bernafas sebagian besar waktu melalui ventilator, sehingga suaranya berkurang menjadi bisikan.

Pengacara dari kantor ombudsman publik Peru telah mengambil kasus Estrada, dengan alasan bahwa tidak membiarkannya memilih untuk mati adalah tidak konstitusional, melanggar haknya untuk hidup dengan bermartabat. Pengadilan konstitusi sekarang akan memeriksa kasusnya, yang diajukan minggu lalu.

“Kami membentuk kisah hidup kami dengan keputusan kami, dan tidak masuk akal bahwa dalam bab terakhir kehidupan kami, kami tidak diizinkan membuat keputusan (untuk mati),” kata ombudsman publik Peru Walter Gutierrez pada konferensi pers pada hari Jumat.

Kasus Estrada menjadi terkenal dari sebuah blog di mana dia menulis tentang penyakitnya, yang dia ketik perlahan, huruf demi huruf ketika otot-ototnya kehilangan kekuatan. Dia tidak menjadi lebih baik dan sebagian besar waktu tidak dapat berbicara.

Dia tidak tahu kapan dia ingin mati, hanya saja kondisinya akan terus memburuk dan dia ingin mengakhiri hidupnya ketika dia tidak tahan lagi.

“Kenapa mati dengan martabat? Karena aku ingin menghindari penderitaan,” kata Estrada. “Tapi yang terpenting karena ini adalah bagaimana aku menjalani hidupku, tentang kebebasan. Aku tidak merasa bebas sekarang. Aku tidak memiliki kebebasan untuk memilih daripada tubuhku sendiri.”(yn)

Sumber: Asiaone

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular