Lin Yue

Pada 10 Februari 2020 wadah pemikir Washington ‘Hudson Institute’ mengadakan seminar untuk membahas masalah yang terkait dengan wabah coronavirus jenis baru. Masalahnya adalah bahwa para ahli dari National Institutes of Health (NIH) ragu dengan data kematian resmi yang dirilis oleh pemerintah Tiongkok.

Pakar kebijakan Washington Eric Brown mengatakan bahwa otoritas Tiongkok selalu merespons krisis dengan kebohongan dan kekerasan, dan dunia sudah tidak lagi mempercayai komunis Tiongkok.

Selama lebih dari satu bulan, pemerintah Amerika Serikat telah berulang kali mengusulkan untuk mengirim tim ahli ke Tiongkok untuk membantu mengatasi masalah pneumonia Wuhan.

Namun pihak Tiongkok tidak menanggapi. Daniel Chertow, direktur NIH Emerging Pathogens Division mengatakan pada seminar bahwa Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan NIH memiliki banyak pakar pengendalian penyakit berkelas dunia yang mampu dan berpengalaman yang akan pergi ke daerah yang terkena dampak untuk melakukan penelitian lapangan, seperti kisaran pengaruh dan karakteristik inkubasi virus, hal mana akan memainkan peran kunci dalam mengambil langkah pencegahan yang efektif.

Daniel Chertow juga mengatakan bahwa berdasarkan data yang dirilis sekarang, kematian pasien akibat terinfeksi coronavirus jenis baru ini adalah sekitar 2%, yang mirip dengan SARS dengan tingkat kematian 10% dan sindrom pernapasan Timur Tengah, MERS, tingkat kematian 34%, yang disebabkan oleh coronavirus yang sama tingkat, tampaknya relatif rendah. 

“Tapi apakah ini benar-benar 2% ? Apakah angka ini benar tingkat kematian ? Seberapa besar penyebutnya ?” tanya Chertow. 

“Angka-angka yang dikeluarkan oleh pihak berwenang Tiongkok dan pernyataan tentang situasi epidemi adalah tidak dapat dipercaya. Saya pikir ini adalah konsensus umum”, kata  Eric Brown di Hudson Institute. 

Komunis Tiongkok mengubah fakta sesuai dengan kebutuhan politik mereka, dan ketidakjelasan informasi bahkan membuat masyarakat dunia semakin khawatir.

Sejak akhir tahun lalu, pejabat Wuhan menutup-nutupi krisis sesuai arahan Beijing. Sampai sekarang, semua lapisan masyarakat Tiongkok telah menerima ancaman dan hukuman dari pihak berwenang. Puluhan juta warga daratan Tiongkok hanya dapat mendekam di tempat terisolasi, bahkan antar tetangga pun bisa menjadi saling mencurigai atau bermusuhan. Eric Brown mempertanyakan apakah isolasi yang ketat itu benar-benar diperlukan ?

“Ini tidak ada bedanya dengan pendekatan yang diambil komunis Tiongkok saat merespons krisis serupa di masa lalu”, kata Brown. Misalnya,  bencana donor darah pada tahun 1990-an yang menyebabkan mewabahnya penyakit AIDS dan wabah SARS tahun 2003.

Eric Brown mengatakan bahwa apakah sedang menghadapi masalah kesehatan masyarakat atau krisis penguasa, pendekatan yang dari waktu ke waktu diambil komunis Tiongkok adalah : Yang pertama menyangkal fakta terlebih dahulu, lalu berbohong untuk menutupi keseriusan situasi, setelah itu menggunakan langkah-langkah buruk dan keras untuk menyelesaikan masalah. 

Komunis Tiongkok tidak meminta pertanggungjawaban dari pejabat yang berada dalam sistem, tidak ada ruang untuk diskusi bebas. komunis Tiongkok bahkan tancap gas mesin propaganda untuk menumbuhkan nasionalisme bangsa dan mengalihkan perhatian masyarakat dari ketidakbecusan pemerintah dalam menangani masalah ke “intervensi” kekuatan asing.

Analisa lebih jauh Eric Brown menunjukkan bahwa alasan bisa jadi demikian itu karena komunis Tiongkok menghendaki rakyatnya percaya bahwa komunis Tiongkok adalah satu-satunya penguasa yang memenuhi syarat untuk memerintah Tiongkok. Karena itu mereka perlu terus menerus mempertahankan citranya sebagai pihak “yang paling benar”, sehingga perlu mengendalikan semua informasi. 

Namun, dilihat dari tindakan yang diambil oleh Amerika Serikat dan negara-negara tetangga setelah meletusnya wabah penyakit menular itu, dunia sudah tidak lagi mempercayai otoritas komunis Tiongkok dan pernyataan apapun yang disampaikan oleh Partai Komunis Tiongkok.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo pekan lalu mengumumkan bahwa Amerika Serikat sedang bersiap untuk memberikan bantuan dana sebesar USD. 100 juta kepada Tiongkok dan negara-negara lain yang terkena dampak coronavirus Wuhan. 

“Amerika Serikat adalah negara yang paling pro-Tiongkok. Lihatlah dalam 150 tahun terakhir, Amerika Serikat telah menjadi negara yang paling banyak memberikan bantuan kepada Tiongkok,” kata Mike Pompeo. 

Eric Brown mengatakan bahwa meskipun ia gembira melihat Amerika Serikat kembali mengulurkan tangan bantuan kepada Tiongkok, namun, ia masih khawatir bahwa apakah kebaikan itu dapat mengubah sikap Tiongkok yang komunis. (sin) 

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular