oleh Lin Leyu melaporkan dari Washington DC, AS/Editor : Yang Yihui

Sejak merebak coronavirus COVID19  di Wuhan, Tiongkok dunia luar menaruh curiga terhadap data kasus penyakit yang diumumkan oleh pihak Komunis Tiongkok. 

Pada Selasa, (11/2/2020) Anne Schuchat, wakil direktur utama the Centers for Disease Control and Prevention – CDC atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, mengatakan kepada media,” Kita meyakini bahwa jumlah korban virus corona yang sebenarnya jauh lebih tinggi daripada angka yang dipublikasikan.”

Pada konferensi pers di National Press Club, Washington, AS, Schuchat mengatakan bahwa sejak awal wabah Wuhan, ada ilmuwan menggunakan rumus matematika untuk menghitung jumlah total infeksi melalui jumlah kasus yang diekspor dari Wuhan ke luar negeri.

Sebuah analisis dan makalah simulasi yang diterbitkan jurnal medis terkenal “The Lancet” pada akhir Januari 2020, menyebutkan bahwa hingga 25 Januari 2020, sebanyak 75.815 orang di Wuhan telah terinfeksi virus corona baru, sementara angka yang diumumkan secara resmi oleh komunis Tiongkok hanya 1.058 kasus ketika itu.  Perkiraan dari simulasi data adalah sekitar 72 kali lipat dari data yang diumumkan komunis Tiongkok.

Schuchat mengatakan bahwa faktor-faktor seseorang yang terinfeksi ringan apakah perlu periksa ke dokter.  Terbatasnya kemampuan untuk menguji kasus penyakit terkait di laboratorium itu semua akan mempengaruhi keakuratan statistik.

Ketika wabah SARS pada tahun 2003 silam, Shuchat, sebagai ahli AS, pergi ke Tiongkok untuk membantu Organisasi Kesehatan Dunia. Menurutnya virus corona baru itu menyebar lebih cepat dari SARS, tetapi saat ini, tingkat kematian dari virus corona baru ini (sekitar 2%) relative lebih rendah daripada SARS (sekitar 10%).

Namun demikian, dia ragu dengan statistik tersebut. menurutnya mungkin tidak ada penelitian yang cukup pada pasien dengan kondisi ringan yang belum atau tidak menjalani perawatan medis. Lagipula situasi saat ini masih terus  berubah.

Hingga 11 Februari 2020, jumlah kasus baru yang dikonfirmasi di luar Tiongkok adalah sekitar 478 orang, dua orang di antaranya meninggal dunia. Kematian terbaru  dikonfirmasi oleh pihak Jepang.

Schuchat menuturkan bahwa salah satu faktor rendahnya proporsi kematian dari pasien di luar negeri, karena negara-negara di berbagai negara telah mengaktifkan peringatan secara tepat waktu, menyaring pasien secara proaktif, dan merawat mereka pada tahap awal serangan penyakit, sehingga mencegah memburuknya wabah.

Sejak pekan lalu, pasien yang diduga terpapar virus corona diisolasi terpusat di “rumah sakit kabin kubik” di Wuhan. Pejabat setempat menerapkan manajemen isolasi terpusat untuk orang-orang dengan demam dan kontak dekat, sehingga memicu kekhawatiran kalangan luar akan infeksi silang.

Terkait hal ini, Schuchat mengatakan bahwa “pusat isolasi” seyogyanya ditujukan pada kelompok berisiko tinggi yang tidak memiliki gejala, tetapi telah melakukan kontak dengan penderita. Ketika menyatukan pasien potensial dan kelompok berisiko tinggi seperti itu mungkin akan menjadi masalah baru. (jon)

Artikel Ini Sudah Terbit di Epochtimes.com 

Share

Video Popular