Katabellea Roberts – The Epochtimes

Son Loi, sebuah daerah pertanian yang terdiri dari beberapa desa di utara Vietnam, sekitar 25 mil barat laut Hanoi, dikarantina selama 14 hari, mulai 13 Februari 2020. Itu menandai karantina massal pertama di luar Tiongkok sejak Virus Corona COVID-19 muncul dari kota Wuhan di tengah Tiongkok akhir tahun lalu.

Pihak berwenang di provinsi utara Vietnam berjuang untuk mengatasi penyakit Coronavirus yang cepat menyebar. Pekan lalu dipastikan bahwa seorang gadis berusia 3 bulan dinyatakan positif terkena Coronavirus, yang sejauh ini belum dapat disembuhkan.

Le Duy Thanh, Wakil Ketua Komite Rakyat provinsi tersebut, mengatakan jumlah kasus Coronavirus di Komune Son Loi telah meningkat dan pihak berwenang kini meningkatkan jumlah pos pemeriksaan pengendalian penyakit di daerah itu dari lima pos menjadi delapan pos.

Pemerintah provinsi juga mendirikan toko-toko keliling serta menyediakan makanan dan masker wajah gratis untuk lebih dari 10.600 orang. Sejauh ini, 15 kasus COVID-19 dipastikan terjadi di Vietnam, mencakup 12 orang Vietnam, satu orang Vietnam-Amerika, dan dua warga negara Tiongkok.

Dari 15 kasus yang dipastikan tersebut, 10 kasus dilaporkan di utara Provinsi Vinh Phuc. Coronavirus ini dikatakan berasal dari sekelompok orang yang terdiri dari delapan pekerja yang kembali dari Wuhan pada 17 Januari 2020.

Provinsi Vinh Phuc mengkarantina 311 orang, 104 orang di antaranya sejauh ini dinyatakan negatif terhadap Coronavirus. Sementara 252 orang dipantau di rumah setelah mereka ditemukan melakukan kontak dengan pasien tetapi belum menunjukkan gejala apa pun.

Pihak berwenang juga mendirikan rumah sakit lapangan dengan 300 tempat tidur di Sekolah Tinggi Kebudayaan dan Seni di kota Vinh Yen di Provinsi Vinh Phuc serta fasilitas 200 tempat tidur di sekolah militer di kota yang sama.

 “Vinh Phuc memiliki jumlah kasus positif Coronavirus tertinggi di Vietnam tetapi penyakitnya belum menyebar ke daerah dan provinsi lain. Semuanya masih terkendali. Kami melakukan segala upaya dan kami percaya kami dapat mengendalikannya,” kata Le Duy Thanh.

 Pada tanggal 12 Februari 2020, Provinsi Vinh Phuc mengumumkan menyediakan dukungan bagi orang yang dikarantina dan bagi mereka yang bekerja di pos pemeriksaan pengendalian penyakit.

 Menurut resolusi tersebut, mereka yang berada di pusat karantina dan pusat medis akan menerima tunjangan makanan harian 60.000 dong atau sekitar Rp. 35 ribu. Sementara mereka yang dikarantina di rumah akan mendapat 40.000 dong atau sekitar Rp. 23 ribu. Sementara itu, sekolah-sekolah di daerah itu tetap ditutup hingga tanggal 23 Februari 2020.

Kehilangan bisnis muncul saat Vietnam Airlines mengatakan pada tanggal 13 Februari 2020 bahwa pihaknya kehilangan pendapatan hingga 250 miliar dong atau sekitar Rp. 147 milyar per minggu karena adanya pembatasan perjalanan yang diakibatkan oleh Coronavirus.

Awal bulan ini, Vietnam melarang semua penerbangan ke dan dari Tiongkok Daratan serta menangguhkan visa turis baru untuk warga negara Tiongkok atau orang asing yang berada di Tiongkok dua minggu sebelumnya.

Vietnam Airlines mengurangi operasi dan berusaha memangkas biaya untuk lolos  dari dampak epidemi Coronavirus dan “mencapai hasil keuangan yang positif” untuk tahun ini. Vietnam Airlines, yang didirikan pada tahun 1956, menangguhkan semua penerbangan ke dan dari Tiongkok Daratan sejak akhir bulan Januari 2020, yang secara langsung memengaruhi 70.000 pengunjung per bulan antara kedua negara.

“Epidemi Coronavirus secara bermakna mengurangi permintaan perjalanan wisatawan domestik dan internasional di jaringan Vietnam,” kata Vietnam Airlines, mencatat bahwa penumpang pada rute domestik juga turun 20-30 persen selama dua minggu terakhir.

 Pada tanggal 11 Februari 2020, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa dunia harus bangkit dan menganggap Coronavirus  sebagai musuh masyarakat nomor satu.

Tedros Adhanom menambahkan bahwa vaksin pertama untuk Coronavirus  kemungkinan besar diluncurkan 18 bulan yang akan datang. (vv)

 

 

Share

Video Popular