- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Ahli : Jika Virus Corona COVID-19 Tak Terkendali, Mungkin akan Menginfeksi 2/3 dari Populasi Dunia

Liu Yi/Lin Congwen – NTDTV.com

Hong Kong Economic Times, seperti dikutip dari Bloomberg pada 13 Februari 2020 lalu, melaporkan data dari penelitian virus corona COVID-19 menunjukkan bahwa jumlah orang yang terinfeksi pada akhirnya dapat mencapai miliaran penduduk dunia, jika penyebarannya sudah tak terkendali. Hal demikian disampaikan oleh konsultan WHO Ira Longini dalam sebuah wawancara di kantor pusat WHO di Jenewa. 

Data simulasi Longini menunjukkan bahwa setiap orang yang terinfeksi biasanya ditularkan ke dua atau tiga orang lainnya. Namun demikian, kurangnya deteksi cepat dan gejala infeksi yang relatif ringan pada beberapa orang membuatnya sulit untuk melacak penyebaran virus. 

Meski pun ada cara untuk mengurangi kecepatan penularan hingga setengahnya, namun hal itu masih mengindikasikan bahwa sekitar sepertiga populasi dunia akan terinfeksi.

 “Kecuali ada perubahan dalam penyebaran, jika tidak fungsi pemantauan dan pengekangan juga hanya sebatas itu. Mengisolasi kasus dan memutus kontak dekat tidak akan menghentikan penyebaran virus,” kata Longini dalam laporan Bloomberg. 

Sementara itu, ilmuwan lainnya juga memperingatkan bahwa penyebaran virus mungkin jauh lebih besar dari yang dibayangkan. 

Neil Ferguson, seorang peneliti di Imperial College London, Inggris, memperkirakan mungkin ada sekitar 50.000 orang di Tiongkok yang terinfeksi setiap hari.

Laporan keempat dari perguruan tinggi tersebut mengatakan, bahwa jumlah orang yang didiagnosis dengan virus corona baru mungkin pada kisaran antara 19 – 26 kali dari jumlah yang diumumkan Komunis Tiongkok.

Gabriel Matthew Leung, dekan Fakultas Kedokteran Li Ka Shing di Universitas Hong Kong dan otoritas Kesehatan Masyarakat, juga mengatakan bahwa jika epidemi lepas kendali, maka hampir dua pertiga populasi dunia akan terinfeksi.

Sedangkan, Alessandro Vespignani, seorang ahli biostatistik di Northeastern University Amerika Serikat, mengatakan bahwa berbagai kemungkinan bisa saja terjadi seiring dengan perkembangan epidemi. Hal ini merupakan skenario terburuk.

Hingga saat ini, komunis Tiongkok masih menutupi tingkat keparahan wabah. Sementara itu, data epidemi yang diumumkan komunis Tiongkok diragukan dunia luar. 

Dalam sebuah wawancara dengan iHeart pada tanggal 13 Februari lalu, Trump berbicara tentang respon komunis Tiongkok terhadap wabah Wuhan. Ketika ditanya apakah Tiongkok telah jujur dalam menyampaikan informasi soal COVID-19, Trump mengatakan: “Well, kita tidak pernah tahu. 

Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow juga mengatakan, bahwa Amerika Serikat kecewa dengan kurangnya transparansi terkait epidemi Tiongkok.

Selain itu, beberapa pejabat AS mengatakan kepada CNBC, bahwa Gedung Putih tidak banyak berharap lagi tentang informasi penanganan dan pencegahan Tiongkok atas wabah Wuhan. (jon)