oleh Li Yan

Obat eksperimental yang dikembangkan oleh Gilead Sciences untuk mencegah dan mengurangi terjadinya infeksi akibat coronavirus sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS-CoV) telah berhasil ditunjukkan oleh kera yang dijadikan kelinci percobaan. Ini sangat meningkatkan harapan bagi manusia untuk mengusir coronavirus 2019 (COVID-19) yang menyebar dengan cepat dari kota Wuhan, Tiongkok.

Laporan tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal akademik Amerika Serikat ‘Proceedings of the National Academy of Sciences’ pada 13 Februari 2020. Karena MERS-CoV terkait erat dengan Covid-19 yang umumnya dikenal sebagai pneumonia Wuhan. Maka hasil penelitian ini telah meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam memerangi pneumonia Wuhan.

Remdesivir yang dikembangkan oleh Gilead telah terbukti efektif untuk menyembuhkan MERS-CoV pada kera. Obat ini saat ini sedang menjalani uji klinis di Tiongkok.

Namun demikian, sebelumnya telah terbukti bahwa Remdesivir cukup efektif melindungi kera yang terinfeksi virus Ebola. Akan tetapi tidak menghasilkan efek yang sama terhadap manusia.

Para ilmuwan di National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) menguji efektivitas obat Remdesivir dengan memberikannya kepada kera pada saat 24 jam sebelum terinfeksi MERS-CoV dan 12 jam setelah terinfeksi (saat virus paling aktif). Lalu membandingkan kera-kera itu dengan kera yang tidak diberikan Remdesivir. Setelah 6 hari, semua kera sebagai pembanding terinfeksi virus.

Kelompok kera yang menerima Remdesivir sebagai pencegahan sebelum terinfeksi menunjukkan kinerja terbaik, tidak ada kera yang menunjukkan tanda-tanda terinfeksi, penurunan tingkat virus di para-paru juga signifikan dan tanpa merusak paru-paru.

Namun demikian, kelompok kera yang baru diberikan Remdesivir setelah terinfeksi masih menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada kelompok kera pembanding yang sama sekali tidak diberikan Remdesivir. Para peneliti menemukan, sakit mereka lebih ringan, tingkat virus di paru-paru lebih rendah, kerusakaan paru=paru lebih ringan.

Banyak pengujian obat yang berhasil saat dilakukan terhadap kera tetapi tidak efektif untuk manusia. Meskipun demikian, para peneliti mengatakan bahwa penemuan mereka menawarkan lebih banyak harapan kepada penelitian di Tiongkok dan para pasien yang sakit kritis.

Penelitian MERS mendapatkan sebagian dukungan dari Otoritas Penelitian dan Pengembangan Lanjutan Biomedis (Biomedical Advanced Research and Development Authority. BARDA) dari Kementerian Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat.

Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok dan Institut Penelitian Virus Wuhan pekan lalu mengumumkan bahwa mereka telah mengajukan permohonan paten di Tiongkok. Tak lain menggunakan obat eksperimental Remdesivir yang dikembangkan oleh Gilead untuk melawan virus corona baru. Hal ini telah menimbulkan kegemparan.

Pneumonia Wuhan sedang menyebabkan lonjakan jumlah pasien baik di Tiongkok maupun global. Marie-Paule Kieny, mantan ahli virologi WHO mengatakan di sebuah forum penelitian di Jenewa minggu ini,  bahwa mungkin diperlukan beberapa minggu bagi para peneliti untuk mempelajari tentang obat tersebut setelah obat itu mulai diuji-cobakan kepada manusia. Apakah obat ini efektif ?

(sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular