oleh Zhang Yujie

Wabah pneumonia Wuhan yang kini disebut Virus Corona COVID-19 membuat warga tak berani meninggalkan rumah mereka. Akhirnya membuat  industri manufaktur yang besar maupun yang kecil kekurangan tenaga kerja. Selain itu, industri jasa ikut terdampak dengan sepinya konsumen. Di balik hilangnya hiruk-pikuk, terbayang kengerian usaha rakyat Tiongkok menghadapi masa depan mereka.

VOA News pada 14 Februari 2020 melaporkan, bahwa sebelum tibanya Hari Raya Imlek, masyarakat di berbagai kota daratan Tiongkok masih diselimuti keramaian dengan hilir mudiknya warga demi kebutuhan mereka. Akan tetapi,  hanya dalam waktu “sekejap mata” seakan mereka “menguap” entah ke mana. Di balik jalan-jalan yang sepi melompong itu, tersembunyi ketakutan rakyat terhadap ganasnya wabah yang sedang menyerang.

Ada beberapa pekerja kantor yang mengatakan : “Tidak bekerja tidak mendapat uang untuk menghidupi diri, pergi bekerja sulit dapat melindungi diri. Ini adalah dilema dalam hidup”.

Ada pemilik bisnis yang mengatakan bahwa, Jalanan yang sepi, toko-toko yang tutup, bagi pengusaha kecil adalah malapetaka besar.

Seorang pengusaha kelas menengah mengatakan, ia mengetahui bahwa beberapa perusahaan telah memaksa karyawannya untuk menulis surat pengunduran diri atau menulis surat absen palsu. Akan tetapi banyak juga perusahaan yang sudah bangkrut, terutama bagi usaha kecil yang sangat bergantung pada arus uang kontan, para pengusaha kecil dan mikro yang berada di tingkat bawah.

Pekerja manufaktur tidak dapat kembali bekerja

Pemilik bisnis manufaktur secara blak-blakan mengatakan bahwa masalah yang dihadapi industri manufaktur, meskipun diimbau pemerintah untuk mulai bekerja adalah perusahaan belum bisa berproduksi secara normal karena banyak pekerjanya yang tidak dapat kembali.

Berbicara tentang dimulainya kembali hari kerja, beberapa pengusaha mengatakan bahwa untuk kembali bekerja pun sekarang membutuhkan izin. Sedangkan bagi usaha swasta berskala sedang atau kecil, perusahaan tidak terdaftar atau perusahaan yang banyak mempekerjakan tenaga dari luar kota pasti sulit mendapatkan izin.

Dalam laporan ‘Survei Kebijakan Sumber Daya Manusia Selama Pneumonia Wuhan Mewabah’ yang dibuat oleh Kantor Akuntan ‘Deloitte & Touche’ disebutkan bahwa manufaktur tradisional tidak dapat melakukan pekerjaan yang fleksibel, sehingga menjadi sebagai industri yang paling terpengaruh oleh berkecamuknya wabah mematikan itu.

‘Nikkei Shimbun’ pada 14 Februari memberitakan bahwa industri manufaktur global juga terpengaruh oleh penutupan perusahaan di daratan Tiongkok. Untuk setiap penurunan produksi manufaktur Tiongkok sebesar USD. 10 miliar, produksi dan penjualan luar negeri yang terkait dengannya akan mengalami penurunan sebesar USD. 6,7 miliar. Di antaranya Amerika Serikat, Taiwan, Korea Selatan, Jepang  dan Jerman adalah 5 negara teratas yang paling merasakan dampaknya.

Industri Jasa menghadapi hilangnya konsumen

VOA mengutip analisis yang memberitakan, bahwa masalah terbesar yang dihadapi industri jasa adalah mereka menghadapi hilangnya konsumen, karena tidak ada yang lalu lalang. Warga masih akan berusaha untuk sedapat mungkin tak keluar rumah, sebelum ada kejelasan tentang meredanya epidemi atau cara mengatasinya. Dalam keadaan seperti ini, industri jasa akan terus menutup toko mereka.

Seorang pemilik bisnis penginapan mengatakan bahwa wabah yang datang secara tiba-tiba telah mengganggu seluruh kehidupan dan pekerjaannya. Bisnis yang tertunda karena Tahun Baru Imlek belum dapat dimulai lagi. Sedangkan kota Sanya di Pulau Hainan tempat ia tinggal yang didominasi oleh industri pariwisata, sekarang sepi pengunjung. Ia terpaksa menganggur di rumah.

Seorang bos industri hiburan mengatakan bahwa jika tidak beroperasi, bisnisnya hanya akan bertahan selama 2 bulan lebih. Ia akan bangkrut pada bulan April mendatang. Jika bangkrut, jumlah pengangguran yang diciptakan bakal sekitar 1.500 orang, total kerugian dari investasi sekitar 400 juta renmini. Itu akan menyebabkan bangkrutnya sejumlah bisnis franchiseenya.

Ia mengatakan bahwa meskipun kebijakan stimulus pemerintah termasuk kebijakan mengambil pinjaman dari bank. Akan tetapi usaha kecil, menengah dan mikro masih sulit untuk memperoleh dana pinjaman dari bank.

Baru-baru ini, beberapa kota besar seperti Shanghai, Zhejiang, Wuxi dan tempat-tempat lain telah mendapatkan langkah stimulus ekonomi. 

Akan tetapi He Jiangbing, seorang cendekiawan di bidang keuangan Tiongkok kepada Radio Free Asia mengatakan, bahwa langkah-langkah itu bukan obat untuk mengatasi sakit dari akarnya. Pasalnya, wabah inilah yang sebenarnya mempengaruhi ekonomi.  Pneumonia Wuhan lebih ganas daripada SARS. Yang paling utama sekarang adalah bagaimana menghentikan penyebaran coronavirus jenis baru ini.

Beberapa pemilik bisnis juga mengetahui bahwa banyak perusahaan sedang memberhentikan karyawan mereka, tingkat pengangguran cukup tinggi terutama di industri pariwisata, jasa, dan katering. Jika wabah masih terus merebak hingga pertengahan tahun, maka masalahnya akan lebih serius.  Ada pemilik bisnis yang mengatakan, Tiongkok sekarang sedang menghadapi terlalu banyak masalah. 

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) baru-baru ini memperkirakan, bahwa wabah pneumonia Wuhan ini dapat berlangsung hingga tahun depan. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular