- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Prancis Umumkan Kematian Akibat Virus Corona COVID-19 yang Pertamakalinya di Eropa

Erabaru.net. Menteri Kesehatan Perancis mengumumkan kematian virus korona COVID-19 yang pertama di Eropa. Melansir dari Associated Press, Menteri Kesehatan Prancis, Agnes Buzyn mengatakan pada  Sabtu 8 Februari 2020 waktu setempat bahwa “Saya diberitahu tadi malam tentang kematian seorang pasien berusia 80 tahun yang telah dirawat di rumah sakit ….  sejak 25 Januari.”

Pasien itu, adalah seorang turis Tiongkok dari provinsi Hubei. Ia menderita infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus COVID-19. 

Dia tiba di Prancis pada 16 Januari, lalu dirawat di rumah sakit pada 25 Januari dan diisolasi dengan ketat. Kondisinya memburuk dengan cepat. Putrinya juga dirawat di rumah sakit. Akan tetapi pihak berwenang mengatakan dia diharapkan segera pulih.

Saat ini, Perancis memiliki 11 kasus virus yang diketahui, termasuk kematian terakhir.  Eropa memiliki 46 kasus virus. Sembilan negara Eropa telah melaporkan kasus, dengan Jerman memiliki paling banyak yakni 16 kasus.

Organisasi Kesehatan Dunia menyebut virus itu ancaman bagi kesehatan global.

Pihak berwenang di Tiongkok telah menempatkan sekitar 60 juta orang di bawah penguncian yang ketat, membangun rumah sakit darurat dan melembagakan kontrol di seluruh negeri untuk memerangi penyebaran virus itu. 

Restoran, bioskop, dan bisnis lainnya telah ditutup secara massal. Sedangkan acara olahraga dan budaya telah dibatalkan untuk mencegah orang banyak berkumpul.

Virus baru ini pertama kali muncul di pusat kota Wuhan, Tiongkok pada awal Desember. Ia berada dalam keluarga patogen yang sama yang menyebabkan flu dan SARS .

Gejala yang paling umum dilaporkan dari virus baru ini adalah demam, batuk, dan kesulitan bernapas. Meskipun para peneliti di Tiongkok mencatat gejala lain, seperti kelelahan, diare, nyeri dada, dan sakit kepala.

Masa inkubasi — atau jumlah waktu dari paparan sampai timbulnya gejala — dikatakan hingga 14 hari. 

Namun demikian, sebuah studi baru-baru ini dari para peneliti Tiongkok, yang meneliti lebih dari 1.000 kasus penyakit, menemukan seorang pasien yang tak menunjukkan gejala selama 24 hari. 

Seorang pejabat kesehatan Tiongkok di Jinzhong, sebuah kota di Provinsi Shanxi, juga mencatat kasus seorang pasien wanita yang dirawat di rumah sakit selama 40 hari setelah bepergian ke Wuhan. Dia ditegakkan diagnosanya dua hari setelah dirawat di rumah sakit.

Para ahli kesehatan mengonfirmasi bahwa virus itu menular bahkan ketika orang yang terinfeksi belum menunjukkan gejala. Tetapi masih belum ada konsensus tentang seberapa kuat virus itu.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) memperingatkan bahwa virus itu dapat “mengambil pijakan” di Amerika Serikat. Lembaga itu mengatakan bahwa pada suatu titik, “kita cenderung melihat komunitas menyebar di AS atau di negara lain.”

CDC menyarankan agar warga negara AS tak bepergian ke Tiongkok dan mereka harus menghindari kontak dengan mereka yang terinfeksi virus. Selain itu diserukan agar sering mencuci tangan dengan sabun dan air selama setidaknya 20 detik. (asr)

Staf Epoch Times Edisi Amerika Serikat berkontribusi pada laporan ini.

Video Rekomendasi :