Epochtimes.com

Seorang Profesor Jepang mengkritik penanganan terhadap pasien yang tertular virus corona COVID-19 di kapal Diamond Princess.  Ia adalah Profesor Kentaro Iwata, spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Universitas Kobe, Jepang, menuturkan di YouTube tentang buruknya lingkungan di atas kapal tersebut pada tanggal 18 Februari 2020 lalu. Sehingga pernyataan menarik perhatian media. Videonya telah ditonton lebih dari 710.000 netizen hingga saat ini.

Melansir laman Central News Agency – CNA – Taiwan, bahwa jumlah penumpang yang diduga terpapar virus corona di atas kapal pesiar Diamond Princess meningkat tajam. Penumpang yang telah kembali ke negara mereka masing-masing akan dikarantina, dan bahkan kasus yang dikonfirmasi telah terjadi.

Dunia luar mengkritik Jepang yang mengisolasi sejumlah besar penumpang di area terinfeksi sebagai faktor yang menyebabkan wabah di atas kapal tersebut. Setelah wabah epidemi meluas, opini publik Jepang menyalahkan pemerintahan Shinzo Abe.

 Saat melihat fasilitas kesehatan di Diamond Princess, ia pun kaget saat melihat ada petugas medis yang justru tidak memakai peralatan lengkap saat menangani pasien karena ia sendiri sudah tertular.

“Petugas medis tidak melindungi dirinya sendiri,” kata Iwata yang menyebut petugas itu juga sudah tertular. “Ia sudah benar-benar menyerah untuk melindungi dirinya sendiri,” lanjut Iwata yang mengaku masukannya tak didengar oleh birokrat.

Keputusan untuk melakukan karantina di atas kapal pesiar Diamond Princess mendapat kritikan dari profesor di Jepang ini. 

Sosok Profesor Iwata Kentaro adalah ahli penyakit menular dari Universitas Kobe. Ia punya pengalaman menghadapi penyakit Ebola, Kolera hingga SARS di Tiongkok pada tahun 2003 silam.

Kentaro Iwata yang berusia 49 tahun lulus dari Shimane University School of Medicine, Jepang. 

Ia pernah bertugas di rumah sakit dan kemudian pindah ke bidang penelitian ilmu infeksi. Dia sekarang adalah profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Kobe. 

Dia juga pernah ke Tiongkok dan Afrika untuk melakukan investigasi lapangan terhadap penyakit epidemi seperti SARS dan virus Ebola.

Video yang diunggah itu memicu diskusi sengit di dunia maya. Setelah berita Iwata dipublikasikan, banyak artikel terjemahan ke bahasa Inggris dan Mandarin, menarik perhatian netizen dari berbagai negara.

Media Jepang seperti Asahi, Yomiuri, dan Nihon Keizai Shimbun menindaklanjuti laporan tersebut.  Pemerintah Abe menghadapi tekanan politik terkait pencegahan epidemi yang tidak efektif. (jon)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular