Tahun 1968, Kerusuhan Terjadi di Kota Romawi, dan Nero Bunuh Diri Dalam Pelariannya

Pada tahun 1979, wabah besar dengan cepat menyapu dataran Campana, dan sejumlah besar orang meninggal di kota Roma karena wabah yang mematikan.

Dalam catatan sejarah, orang  meninggal setiap hari lebih dari 10.000 orang. Tacitus berkata dalam Chronicles: “Kota Roma … dalam rumah penuh dengan mayat, dan jalan-jalan dipenuhi dengan barisan pengantar pemakaman.” 

Titus, yang waktu itu adalah kaisar, juga meninggal dunia karena wabah itu.

Wabah Anthony

Penganiayaan Nero terhadap orang-orang Kristen hanya terjadi di kota Roma, sampai tahun 161 ketika Marcus Aurelius Antoninus menjadi Kaisar Romawi, ia mulai membasmi orang-orang Kristen secara nasional. 

Penduduk Romawi dibutakan oleh kebohongan pemerintah pada saat itu, dan percaya bahwa orang Kristen menyebarkan takhayul hingga mereka orang Kristen sangat dibenci. 

Anthony mengatakan bahwa siapa pun yang melaporkan seorang Kristen akan mendapatkan properti dari orang yang dilaporkan. Akibatnya, orang-orang di seluruh negeri tergoda untuk mencari dan memberitahu orang Kristen. 

Setelah itu, Anthony menggunakan semua jenis siksaan untuk memaksa orang Kristen melepaskan kepercayaan mereka.  Anthony membunuh  orang Kristen jika tidak menyerah, atau melemparkannya ke Colosseum, membiarkan binatang-binatang mencabik hidup-hidup sebagai tontonan orang yang menikmati adegannya. 

Lima tahun setelah pemerintahan Anthony, pada tahun 166, dalam sejarah wabah besar yang disebut “Wabah Anthony” menimpa. Nama kaisar Romawi itu pun selamanya  dikaitkan dengan wabah tersebut. 

“The Last Martyrs Last Prayer” dilukis oleh pelukis terkenal Prancis Jean Leon Gerome pada tahun 1883. Sekarang di Museum Seni Walters di Baltimore, AS. Menjelaskan penganiayaan brutal terhadap orang-orang Kristen di Roma kuno: di tiang-tiang di sekitar arena, kiri adalah seorang Kristen yang disiksa, kanan adalah seorang Kristen yang dieksekusi oleh salib, kelompok tengah orang Kristen akan dicabik oleh binatang buas, dan tak terhitung jumlahnya di tribun Orang-orang menyaksikan adegan tragis ini tanpa simpati. (Domain publik)

Menurut cerita, wabah saat itu adalah cacar, dibawa kembali oleh tentara Romawi yang  menekan pemberontakan Suriah, mulai tahun 164 menjadi populer di dalam pasukan di perbatasan timur Kekaisaran. Dua tahun kemudian menyebar ke Roma, dan kemudian menyebar ke banyak daerah lain. Orang-orang Kristen percaya bahwa wabah Anthony adalah kutukan Tuhan atas penganiayaan Anthony terhadap orang-orang Kristen.

Dalam setahun, jumlah orang yang meninggal karena wabah, jauh melebihi jumlah orang yang tewas di medan perang. Tingkat kematian rata-rata 7% hingga 10%, dan tingkat kematian mencapai 13% hingga 15% di kota-kota dan dalam tentara. Mayat yang dikirim keluar dari Roma setiap hari tertumpuk ibarat gunung. 

Orang-orang di mana-mana panik. Ada  yang melarikan diri ke hutan dan gurun. Kota-kota Italia dan provinsi lain hampir kosong. Pedesaan sepi tidak ada orang, gandum juga berubah jadi putih, berhamparan di alam liar, tidak ada yang memanennya. Domba, kambing, sapi, dan babi telah menjadi hewan liar karena tidak ada yang merumput. Bencana kelaparan mengikutinya. 

Banyak bangsawan meninggal. Pada 169 M, Kaisar Verus yang memerintah Roma bersama Anthony, meninggal dalam wabah tentara. Pada 180 Masehi, Anthony tertular wabah di kamp peperangan. Ia meninggal setelah tujuh hari bergelut dalam penderitaan. Selanjutnya pada tahun itu, untuk sementara waktu wabah juga mereda.

Sembilan tahun kemudian, wabah pecah lagi, namun wabah itu tidak menyebar luas. Tampaknya hanya merupakan serangan terarah terhadap Roma. Pada puncaknya, dalam satu hari sekitar dua ribuan orang meninggal dunia di Roma. 

Wabah berkecamuk selama enam belas tahun. Para sejarawan memperkirakan bahwa jumlah total korban yang meninggal mencapai lima juta. Kekaisaran Romawi kehilangan sepertiga penduduknya, dan setengah penduduk Konstantinopel meninggal.

Kejadian itu dalam skala besar telah melemahkan kekuatan militer Roma. Kekaisaran Romawi kuno yang melintas ke Asia, Eropa, dan Afrika mulai runtuh. Dengan ini Zaman Keemasan Kekaisaran Romawi pun berakhir.

Share

Video Popular