Wabah Cyprian

Ketika Kekaisaran Romawi sedang dalam krisis, pada 249 Masehi, Desius berkuasa. Desius menyalahkan keruntuhan kekaisaran pada kebebasan beragama. Untuk mempertahankan kekuasaan rezimnya, Desius secara paksa menyatukan imannya, mencegah orang-orang kembali pada kepercayaan Kristus. Desius  menjadikan penganiayaan terhadap orang Kristen sebagai prioritas.  Ia mulai dengan kekuatan negara menghancurkan sila, ajaran dan kepercayaan Kristen.

Desius membuat undang-undang yang mengharuskan setiap orang untuk menyembah dewa-dewa Romawi dan kaisar Romawi. Pada tahun 250 M, Desius memerintahkan agar setiap warga negara Roma harus meninggalkan imannya kepada Kristus pada hari pertobatan yang dipilih, bila tidak orang yang menolak, akan dipenjara atau kekayaannya disita, atau dihukum sebagai budak atau dieksekusi. 

Banyak gereja dihancurkan. Karena tidak mau menyembah dewa-dewa lain, sejumlah besar orang Kristen yang tabah dihukum mati. Sersan Saint Hippo mati syahid karena ia bertobat kepada Kristus dan oleh Desius ia ditarik oleh empat kuda liar hingga tubuhnya robek martir.

Desius terbunuh setelah dua tahun menjabat. Pada 250 M, wabah menimpa lagi. Karena catatan seorang uskup Kristen bernama Cyprianus, wabah itu disebut wabah Cyprianus. Para cendekiawan kemudian menganalisis bahwa penyakit menular yang ganas itu mungkin adalah tipus.

Wabah Cyprianus merajalela selama hampir dua dekade. Ribuan orang telah meninggalkan rumah mereka, hingga menyebarkan wabah ke berbagai tempat, dan epidemi telah menyebar lebih lanjut. 

Pada puncaknya, di Roma ada lima ribuan  orang meninggal setiap hari, menewaskan 25 an juta orang. Pada tahun 270, Kaisar Claudius II meninggal karena wabah.

Wabah  telah menghancurkan tatanan kekaisaran, penduduknya berkurang, ekonomi mengalami resesi, dan perang saudara muncul tiada berhenti. Sejarah menyebutnya “krisis tiga abad.” Setelah itu, Kekaisaran Romawi berubah jadi buruk, tidak ada lagi kemakmuran.

Wabah Terbesar Setelah Penganiayaan Agama

Selama wabah Cyprianus, pemerintah menggunakan wabah itu untuk menyebarkan desas-desus yang, mengatakan bahwa karena penentangan Kristen terhadap dewa-dewa Romawi, maka menyebabkan dewa Romawi marah dan menurunkan wabah. Selanjutnya Kekaisaran Romawi meluncurkan sebuah penganiayaan terbesar terhadap agama. 

Pada waktu itu, adalah masa kaisar Diokletianus. Dia menuntut agar semua orang Roma supaya percaya pada Romanisme dan tentara yang mempercayai Kristen diusir dari tentara.

Pada tahun 303 Masehi, Diokletianus mengeluarkan dekrit. Banyak gereja yang dihancurkan, sejumlah besar Alkitab disita dan dihancurkan, dan banyak imam dibunuh.

Pada musim dingin tahun 312 Masehi, setelah bencana kelaparan menimpa, sebuah wabah meletus lagi di bagian barat Kekaisaran Romawi. Hal itu dikonfirmasi sebagai epidemi cacar pada generasi selanjutnya. Orang yang terinfeksi penuh bisul maha ganas dan sangat menderita. Di kota-kota, tingginya angka kematian yang disebabkan oleh wabah dan kelaparan jauh melebihi yang di daerah pedesaan. Beberapa orang beruntung lolos dari bencana kelaparan, tetapi tidak luput dari wabah tersebut. Ratusan pria, wanita, dan anak-anak menjadi buta karena wabah itu. 

Kekaisaran Romawi yang dilanda krisis, setelah mengalami pukulan hebat dari wabah, berlangsung tidak lebih dari 90 tahun. 

Pada tahun 395, kekaisaran terbagi menjadi dua bagian timur dan barat. Pada 410, kota Roma diobrak abrik untuk kali pertama. 

Pada 412, seluruh wilayah Spanyol jatuh. Pada 439, seluruh wilayah Afrika Utara jatuh. Pada 446, Roman Britain memisahkan diri dari pemerintahan Romawi. Pada tahun 455, Roma diobrak abrik lagi lagi.

Pada tahun 468 ekspedisi Kekaisaran Romawi di Afrika Utara dikalahkan, dan Kekaisaran Romawi Barat dihancurkan oleh orang-orang Barbar pada tahun 476.

Share

Video Popular