Wabah Justinian

Pada abad ke-6, sebuah wabah besar yang mendunia meledak di Kekaisaran Romawi Timur. Wabah itu terjadi pada masa pemerintahan Justinian, dan disebut wabah Justinian. Menurut dugaan, wabah itu mungkin wabah pes.

Pada 541, wabah pertama kali pecah di Afrika Utara, kemudian menyapu Mesir, dan kemudian menyapu seluruh Kekaisaran Romawi Timur. 

Pada 542, wabah mengamuk selama empat bulan di ibu kota Raja Konstantinopel. Di ibukota kekaisaran, wabah menimpa rakyat dan bangsawan secara setara. Dalam satu hari, ada sekitar 5.000 hingga 7.000 orang, atau bahkan sebanyak 12.000 hingga 16.000 orang meninggal akibat wabah itu. Ketika wabah mereda, 40% penduduk di kota itu telah meninggal.

Untuk sesaat, kecepatan mengubur mayat tidak bisa mengimbangi kecepatan kematian. Wabah itu memusnahkan seluruh rumah tangga, sebuah buku catatan penduduk yang penuh dengan nama-nama, sekarang telah dihapus semua. Populasi Kekaisaran Romawi Timur menurun 20% hingga 25%.

Sulit untuk menghitung jumlah orang yang mati, dan pemerintah akhirnya berhenti menghitung jumlahnya. Ada tubuh-tubuh telanjang di jalan-jalan, di halaman, di beranda dan di gereja-gereja. Bangkai yang tidak dapat terkubur selama beberapa hari, menyebabkan seluruh kota dipenuhi bau busuk yang mencekik. Di jalan-jalan, hampir tidak ada orang  hidup yang dapat terlihat.

Mayat busuk, air nanah yang mengalir dari mulut terbuka, mata merah, perut bengkak, tangan terangkat tinggi. Mayat tumpang tindih dengan mayat dan kadang dimakan oleh anjing.

Kuburan penuh, dan sejumlah besar mayat dikirim ke pantai. Setelah kapal dipenuhi dengan mayat, kemudian didorong ke laut. Ribuan mayat mengambang di permukaan laut, dan air nanah mengalir ke segala arah.

Cara membersihkan mayat menjadi masalah yang sulit. Justinianus pun mengadopsi pendekatan baru mengurusi mayat-mayat itu dengan membangun kuburan besar, yang masing-masing dapat menampung 70 ribuan mayat.

Theodore mendorong warga sipil untuk mengangkut mayat dengan hadiah emas, memberikan sejumlah besar emas untuk setiap pengangkutan mayat. Seperti melempar batu, mayat-mayat itu dilemparkan ke dalam lubang kubur, dan para pekerja di dasar lubang itu menekan mayat-mayat itu secara bergantian. Sebaris demi sebaris ditumpuk. Selapis demi selapis ditekan dengan rapat. 

Pria dan wanita, tua dan muda, kaya dan miskin semuanya terjepit bersama, seperti anggur busuk, diinjak-injak oleh kaki- kaki.

Michelangelo, Penghakiman Terakhir. (Domain publik)

Pada musim panen, tidak ada yang memanen tanaman. Itu memperburuk bencana kelaparan, mengganggu pasokan makanan normal di kota, melumpuhkan manajemen administrasi, benar-benar menghentikan bisnis dan industri.

Moralitas publik runtuh, tindakan kekerasan seperti perampokan dan pencurian, konflik terjadi di mana-mana. Timbul kerusuhan social hingga membuat suasana tidak aman. Inflasi telah membuat keuangan negara tertekan, sentralisasi kekuasaan mulai goyah. Hingga sampai pada akhir pemerintahan Justinianus, kekuatan angkatan bersenjata nasional telah jatuh lebih dari 70%.

Skala wabah Justinian belum pernah terjadi sebelumnya, dapat terjadi pada musim apa pun sepanjang tahun, dan telah menyebar ke seluruh dunia. Pada tahun 543 M ia menyebar ke Italia, Antiokhia, Suriah, Palestina, dan Persia, dan kemudian ke Inggris dan Irlandia melalui benua Eropa. 

Dalam dua atau tiga ratus tahun belakang, ia kembali lagi beberapa kali, sepanjang abad keenam, wabah berkala Itu telah berulang lima kali, dan menewaskan 30 hingga 50 juta orang. Hal itu menyebabkan 40% dari jumlah kematian di ibukota kekaisaran.

Kehidupan orang-orang Romawi saat itu, tidak senonoh, moralitas bobrok, patologi social busuk, pelacuran adat istiadat, dan inses atau perzinaan sedarah, dan perzinaan yang berlebihan sudah menjadi fenomena yang dianggap biasa. 

Para intelektual Kekaisaran Romawi pada saat itu menyadari bahwa wabah Justinian adalah hukuman Allah, karena dosa orang-orang Romawi, penghakiman Allah yang adil akan menimpa mereka. Perasaan semacam pesimisme menimpa. Tidak ada yang bisa mengetahui hasil akhir dari wabah, karena itu dikendalikan oleh Tuhan, dan hanya Tuhan yang tahu penyebab dan arah wabah.

John, yang telah mengalami wabah pada waktu itu, menulis dalam ” Lives of the Saints ” -nya dengan mengatakan, “Dengan pena kami, memberi tahu keturunan kita tentang sebagian kecil dari insiden yang tak terhitung jumlahnya, di mana Tuhan menghukum kita. Mungkin, di seluruh dunia setelah kita, keturunan kita akan ngeri dan dikejutkan oleh malapetaka mengerikan yang kita derita karena kejahatan kita, dan menjadi lebih bijak dengan hukuman yang dialami orang-orang yang tidak beruntung ini, agar mereka dapat menyelamatkan diri dari murka Allah dan penderitaan di masa depan.” 

Belakangan, Justinian yang berusia 59 tahun itu, juga terinfeksi wabah. Oleh karena takut  menimbulkan kepanikan, maka pengadilan merahasiakan berita tersebut. 

Pada tahun 565, Justinianus meninggal. Kaisar ambisius yang ingin memulihkan kekaisaran itu, tidak menduga bahwa dunia di luar kendalinya. Setelah itu, Kekaisaran Romawi Timur berangsur-angsur hancur dan akhirnya diserang oleh Kekaisaran Ottoman dan runtuh.

Kekaisaran Romawi yang dikenal sangat perkasa, wilayahnya yang sangat luas, memiliki ambisi untuk mendominasi seluruh dunia, tidak menduga bahwa ada tujuan langit yang lebih tinggi yang menentukan masa depannya.  (lim)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular