Wu Ying – The Epochtimes

Serangan virus corona baru COVID-19 sudah menginfeksi orang dalam skala besar hingga saat ini, jumlah kematian terus meningkat. Muncul pertanyaan, Mengapa virus tersebut begitu mematikan, dan apakah pasien yang berhasil sembuh dari serangannya bisa bebas total dari kambuh ? Pertanyaan-pertanyaan itu tetap tidak terjawab sampai saat ini.

Bagi mereka yang terinfeksi COVID-19, ada yang merasakan seperti sedang flu berat, tetapi ada yang menemui ajal. Perbedaan antara keduanya mungkin tergantung pada interaksi antara virus dan sistem kekebalan tubuh seseorang.

The Washington Post pada 19 Februari melaporkan bahwa, sampai saat ini tidak ada dokter yang tahu secara persis bagaimana virus corona COVID-19 menyebabkan kegagalan pernapasan pada beberapa pasien. 

Namun demikian, berdasarkan pemahaman terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh virus corona di masa lalu, para ilmuwan berspekulasi bahwa kegagalan pernafasan yang mematikan sangat mungkin berkaitan dengan virus corona yang menyebabkan sindrom pernafasan akut yang parah atau SARS.

Virus dapat menyerang dan membunuh sel-sel. Dalam proses ini, apakah penyakit berubah menjadi parah atau tidak, itu tergantung pada mekanisme respons dari sistem kekebalan seseorang. Dan hal ini dapat bervariasi tergantung pada usia, jenis kelamin, gen genetik, dan kesehatan fisik masing-masing orang yang terinfeksi.

Matthew Frieman, ilmuwan virus dari Fakultas Kedokteran Universitas Maryland, Amerika Serikat mengatakan bahwa setelah virus menginvasi manusia, sel-sel yang radang menjadi cepat rusak. Tetapi karena kerusakan besar, sistem kekebalan tubuh manusia kewalahan, maka akan menyebabkan lebih banyak reaksi kekebalan yang terlibat. Akhirnya menimbulkan lebih banyak kerusakan sel kekebalan.

Ketika seorang pasien bersin atau batuk, COVID-19 yang berada dalam tetesan akan menyebar lewat udara. Kadang-kadang pasien tanpa sadar bersin dekat wajah orang lain, atau tetesan yang mengandung COVID-19 itu menempel pada permukaan sesuatu yang kemudian tersentuh oleh orang lain tanpa sepengetahuannya, lalu tanpa sadar memegang mulut atau hidung.

Karena itu, petugas kesehatan menghadapi risiko yang sangat tinggi tertular COVID-19. Mereka bekerja dalam lingkungan yang penuh virus. Pada saat yang sama melakukan prosedur medis yang menyebarkan virus, seperti memasang alat bantu pernafasan kepada pasien dan sebagainya.

Setelah virus memasuki tubuh, ia mungkin mulai replikasi di dalam saluran udara, membentuk struktur seperti rambut di sekitar sel. Virus yang menyebabkan flu biasa unggul dalam menginfeksi saluran pernapasan bagian atas, sedangkan virus corona seperti SARS cenderung masuk ke bagian lebih dalam dari paru-paru.

Matthew Frieman mengatakan bahwa seiring meningkatnya kekuatan virus corona, sel-sel mati akan jatuh dan menumpuk di saluran pernapasan, hal ini yang membuat pernapasan menjadi sulit.

Anthony Fehr, seorang ahli virus dari University of Kansas mengatakan bahwa jika saat virus bereplikasi dengan cepat dalam tubuh adalah pada saat sebelum sistem kekebalan tubuh sedang mencoba untuk menghalau, atau sistem kekebalan merespons terlambat, maka sistem kekebalan tubuh tidak dapat mengendalikan COVID-19 sehingga virus ini mulai merajalela.

Inilah yang oleh para ilmuwan disebut badai sitokine atau cytokine storm, yang menempatkan sistem kekebalan tubuh dalam keadaan tempur dan mengirimkan sel ke paru-paru. Namun, pada saat ini, selain virus menyebabkan kerusakan pada tubuh, sistem kekebalan tubuh juga mulai merusak tubuh host atau orang yang terinfeksi.

Erica S. Shenoy, seorang spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Umum Massachusetts Amerika Serikat mengatakan : “Dari riwayat pasien yang terinfeksi virus pernapasan diketahui bahwa coronavirus menyebabkan kerusakan pada saluran pernapasan, memicu infeksi sekunder dan berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh host”.

Para ahli kesehatan masyarakat belum menemukan jawaban mengapa pasien yang berusia lebih tua dengan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi adalah kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi COVID-19.

“Sistem kekebalan tubuh setiap orang berbeda, ada perbedaan respon sistem kekebalan tubuh antara yang berusia muda dengan yang tua, yang laki dengan yang perempuan,” kata Anthony Fehr. 

“Oleh karena itu, ada perbedaan yang cukup besar dalam membahas sistem kekebalan setiap orang dan mengapa mereka meninggal dunia karena infeksi atau mengapa mereka lebih cepat pulih dari serangan COVID-19”, imbuhnya.

Vineet Menachery, seorang ahli virologi di University of Texas Medical berpendapat bahwa mungkin COVID-19 tidak jauh berbeda dengan virus corona yang menyebabkan SARS. Ia dapat merusak alveoli sebagai penyerap oksigen ketika menembus ke paru-paru. Sebagai akibat dari kerusakan sel maka jaringan paru-paru mulai mengeras, sehingga jantung harus bekerja ekstra keras untuk menghantar oksigen yang terbatas ke organ-organ lain.

“Penyebab mematikan dari COVID-19 ini adalah kemampuannya dalam merusak fungsi paru-paru pasien yang terinfeksi, yang pada gilirannya menimbulkan tekanan berlebihan pada setiap organ dalam tubuh”, kata Vineet Menachery.

Para pasien yang pulih adalah karena berfungsinya sistem kekebalan tubuh dalam merespons serangan virus : peradangan berhasil mereda karena virus dibunuh. Namun, banyak ahli masih belum tahu apa yang mungkin ditemui pasien yang sudah pulih ini di hari-hari mendatang.

Mereka mungkin dilindungi dari infeksi ulang karena mendapatkan kekebalan, tetapi mereka mungkin juga dapat terinfeksi kembali, hanya saja gejalanya tidak akan terlalu parah, atau kekebalan tubuhnya sama sekali tidak bekerja. Mungkin juga mereka telah lolos dari bencana hanya karena mereka memperoleh kekebalan tubuh sementara. Begitulah, masih banyak hal yang belum diketahui tentang Virus Corona COVID-19 ini. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular