oleh Li Hangzhe, Ke Xian

Virus Corona COVID-19 tampaknya semakin sulit untuk dipahami karena hasil tes yang menunjukkan pasien terinfeksi atau tidak acap kali berbeda. Beberapa pasien baru diketahui positif terinfeksi setelah berulang kali melakukan tes asam nukleat, seringnya hasil tes asam nukleat pasien yang terinfeksi masih menunjukkan hasil tes yang negatif palsu membuat sulit ahli medis untuk menentukan diagnosa.

Mengapa coronavirus jenis baru ini sulit terdeteksi ? Apakah ini akan menyebabkan celah dalam usaha mencegah penyebaran wabah ?

Apa itu tes asam nukleat ?

Saat ini, cara yang dipilih untuk menguji apakah seorang pasien terinfeksi COVID-19 adalah melalui tes asam nukleat. Ia juga disebut ‘real time RT-PCR’ (Real-Time Polymerase Chain Reaction).

Secara umum, dokter mengumpulkan sekresi dari rongga hidung, tenggorokan, atau saluran pernapasan pasien, lalu mengirimkannya sebagai sampel ke laboratorium yang ditunjuk untuk diperiksa.

Petugas laboratorium akan menggunakan seperangkat peralatan laboratorium untuk melakukan serangkaian reaksi biokimia setelah menerima sampel, kemudian asam nukleat dalam sampel disalin dalam jumlah besar. Jika perangkat dapat mendeteksi asam nukleat yang mengandung coronavirus jenis baru dalam jumlah tertentu, maka itu berarti sampel pasien tersebut dianggap positif mengandung COVID-19. Jika terjadi sebaliknya maka dianggap negatif.

4 alasan utama mengapa untuk memastikan perlu tes asam nukleat sampai berulang kali

Uji asam nukleat untuk menentukan kandungan COVID-19 perlu dilakukan sampai berulang kali karena hasil tes yang tidak stabil. Seorang pasien bermarga Zheng yang berusia 32 tahun dari Fujian mulai demam setelah kembali dari Wuhan, tetapi 4 kali tes asam nukleat yang ia lakukan semuanya menunjukkan negatif, sampai pada tes kelima kali baru terbukti ia terinfeksi COVID-19.

Markas Besar untuk Pencegahan dan Pengendalian Wabah Pneumonia Wuhan Provinsi Jilin juga mengeluarkan pengumuman yang menyebutkan bahwa ada seorang wanita yang sudah menderita demam sejak 27 Januari, kemudian melakukan tes asam nukleat pada  29 Januari dengan hasil positif. Namun sebelum 6 Februari ia kembali melakukan 5 kali tes yang sama dengan hasil yang semuanya negatif.

Li Wenliang, dokter yang pertama mengungkapkan situasi wabah coronavirus jenis baru, mulai batuk pada 10 Januari, dan kemudian dirawat di unit perawatan intensif dan menjalani beberapa kali tes asam nukleatnya dengan hasil negatif. Sampai tes terakhirnya pada 30 Januari baru menunjukkan positif terinfeksi COVID-19.

Mengapa tes menunjukkan hasil yang “tidak stabil”, 4 alasan menurut para ahli adalah :

1-Sensivitas dari perangkat yang digunakan saat ini tidak tinggi

 Sensitivitas dari perangkat tes sangat menentukan hasilnya.

Semua metode pengujian memiliki masalah pada sensitivitasnya. Su Yifeng, seorang asisten dosen di Akademi Kedokteran Universitas Yangming yang juga menjabat sebagai dokter toraks di Rumah Sakit Yangming, Taipei mengatakan : “Tampaknya sensitivitas dari perangkat yang digunakan saat ini kurang tinggi”. Ini akan menyebabkan pasien terinfeksi oleh COVID-19 mendapatkan hasil tes yang negatif. Yaitu yang dimaksud dengan negatif palsu.

Zhou Zeqi, kepala ilmuwan Dynamiker Biotechnology Co., Ltd. kepada media daratan Tiongkok mengatakan bahwa tingkat sensitivitas perangkat yang digunakan saat ini untuk mendeteksi COVID-19 melalui asam nukleat hanya berkisar antara 30% hingga 50%. Ini berarti bahwa tes dengan hasil yang tidak pasti cukup tinggi. 

Alasan lain yang membuat sensitivitas menurun adalah kit untuk deteksi asam nukleat. Peran perangkat ini adalah menyederhanakan proses pemeriksaan virus dan meningkatkan efisiensi pendeteksian virus. Jadi, komposisi komponen dalam kit sangat penting. Proporsi dan kualitas komponen tersebut merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi hasil pengujian. Biasanya, setelah kit untuk virus tertentu dikembangkan, itu harus diuji secara klinis sebelum dapat dinilai sebagai kit yang valid. Diperlukan setidaknya 3 hingga 5 tahun dari penelitian hingga persetujuan untuk penggunaan klinis.

2.Waktu pengambilan sampel sekresi untuk tes tidak tepat

Waktu pengambilan sekresi juga ikut menentukan hasil tes. Sean Lin, Ph.D dalam bidang ilmu Mikrobiologi dan mantan direktur laboratorium Walter Reed milik Angkatan Darat Amerika Serikat berpendapat bahwa di masa awal pasien terinfeksi, karena volume virus yang berada dalam tubuh pasien masih rendah, ditambah lagi bila metode deteksi tidak cukup sensitif, maka virus mungkin saja tidak terdeteksi.

Jika diagnosis klinis pasien merupakan kasus yang dicurigai atau hampir dikonfirmasi, maka tes perlu dilakukan beberapa kali untuk menyingkirkan kemungkinan hasil negatif palsu.

3. Sampel diambil dari bagian yang kebetulan volume virusnya rendah

Menurut Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan, saat ini ada dua jenis sampel yang dapat dikumpulkan dari saluran pernapasan untuk mengetahui apakah pasien terinfeksi COVID-19 atau tidak : Cara pertama adalah mengambil dari sekresi yang dalam hidung atau tenggorokan pasien, dan cara lainnya adalah mengambil dahak atau cairan saluran pernapasan bagian bawah.

“Sampel yang diambil akan mempengaruhi sensitivitas tes,” kata Su Yifeng. “Lebih mudah untuk secara klinis mengambil sampel dari saluran pernapasan bagian atas seperti ingus atau air liur”.

Jika mengambil sampel dari saluran pernapasan bawah, sensitivitas deteksi virus akan meningkat. Tetapi Dr. Sean Lin mengatakan, dilihat dari sutuasi yang dihadapi Tiongkok, “jika para petugas medis yang berada di garis depan pertolongan diambil sampel dari saluran pernapasan yang lebih rendah (seperti dahak), akan menunjukkan risiko infeksi yang relatif tinggi. Rumah sakit mungkin tidak dapat melakukan hal ini jika mereka tidak memiliki sumber daya perlindungan yang memadai”.

4. Mungkin terjadi kelainan pada COVID-19

Ada pendapat yang menyebutkan bahwa munculnya hasil negatif palsu itu bisa jadi berkaitan dengan terjadinya kelainan pada COVID-19. Dr. Sean Lin mengatakan, dirinya tidak mengesampingkan kemungkinan itu, “Tes asam nukleat biasanya menggunakan fragmen yang lebih konservatif sebagai standar deteksi. Tetapi coronavirus ini bermutasi ke tingkat yang sulit terdeteksi dalam waktu pendek tampaknya relatif rendah kemungkinannya,” katanya.

Apakah tes asam nukleat akurat untuk digunakan sebagai penentu infeksi COVID-19 ?

Karena perangkat untuk mendeteksi asam nukleat memiliki sensitivitas rendah, dapatkah hasilnya digunakan sebagai standar untuk menetapkan kondisi pasien ?

Untuk saat ini, Dr. Sean Lin mengatakan bahwa selain menggunakan asam nukleat untuk mendeteksi RNA virus, situasi yang ideal adalah melakukan tes antibodi pada saat yang sama.

Ketika seseorang terinfeksi virus, maka ia dapat memicu respons dari sistem kekebalan tubuh dan antibodi muncul di dalam tubuh. Pada beberapa pasien, walaupun jumlah virus yang menyerang dalam tubuh sangat sedikit, tetapi ada antibodi. Jika tes antibodi menunjukkan positif, meskipun tes asam nukleat menunjukkan negatif, juga dapat digunakan untuk menentukan infeksi atau tidak.

“Tes antibodi adalah metode uji yang penting”, kata Dr. Sean Lin. di waktu lalu, keakuratan tes protein N dari pasien SARS dengan menggunakan ELISA ternyata lebih tinggi dari deteksi asam nukleat. Dan banyak laboratorium lebih mudah untuk mendeteksi antibodi lewat ELISA. Kombinasi kedua metode ini bisa jadi meningkatkan akurasi deteksi.

Dari urutan COVID-19 saat ini, tampaknya perbedaan antara protein N-nya COVID-19 dengan coronavirus SARS tidak terlalu besar. Kemungkinan juga akan sangat efektif untuk menggunakan pereaksi pendeteksian antibodi ELISA yang sudah jadi untuk protein N dari SARS untuk mendeteksi infeksi oleh coronavirus jenis baru, bisa jadi cukup efektif. “Saya tidak tahu apakah laboratorium di daratan Tiongkok sudah atau belum pernah mengujinya. Sekarang ini meningkatkan keakuratan diagnosa adalah hal yang sangat penting”, kata Dr. Sean Lin.

Tes negatif palsu dapat mempengaruhi usaha pencegahan penyebaran wabah

Hasil tes negatif palsu akan menyebabkan celah dalam pencegahan penyebaran wabah. “Mungkin membuat pasien berpikir bahwa mereka tidak sakit, tetapi menyebarkan virus kepada orang lain”, kata Su Yifeng. Bahkan dengan isolasi di rumah pun tetap harus memperhatikan apakah penularan dilakukan oleh orang dengan hasil tes infeksi negatif yang palsu.

Tes asam nukleat mahal dalam praktek klinis, tetapi masih dianggap sebagai kriteria diagnostik utama. Jika tes positif, itu berarti asam nukleat pasien bervirus. Schaffner mengatakan : “Jika hasil tes positif, maka hasil tes dapat diandalkan. Namun jika hasilnya negatif, itu tidak berarti  bahwa pasien sudah tidak memiliki kesempatan untuk dites virus sama sekali”.

Untuk mengetahui apakah pasien yang terinfeksi sudah betul-betul sembuh untuk memastikan keandalan dari hasil tes negatif, Departemen Pengendalian Penyakit Taiwan mengatakan bahwa sampel dari saluran pernapasan bagian atas dan bawah pasien rawat inap tetap harus diambil untuk diperiksa setiap 2 hari sekali. Sampai gejala pasien mereda setidaknya 24 jam, dan hasil 2 kali tes berturut-turut setidaknya 24 jam terpisah. (Sin)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular