oleh Li Xinru – Epochimes.com

Wabah pneumonia Wuhan yang kini disebut dengan Virus Corona COVID-19 terus merebak. Dokter mengatakan bahwa tingkat kematian dari pasien kritis yang terinfeksi virus ini sangat tinggi.  Kini  yang dilakukan pihak rumah sakit terhadap pasien hanyalah perawatan demi meringankan derita yang dialami pasien atau dengan kata lain supaya pasien merasa lebih nyaman. 

Pasien yang datang pada awalnya masih terjaga sepanjang proses, dan secara bertahap merasa sulit bernafas, disertai dengan perjuangan berat untuk bernafas dan meminta bantuan sampai nafas akhirnya putus.

Dokter : Terjaga sepanjang proses, Pada Dasarnya Mirip Mati Tenggelam

Baru-baru ini, di Weibo beredar tulisan dari ‘Ucapan Dokter di Garis Depan.’ Ia mengungkapkan bahwa saat ini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan penyakit pneumonia Wuhan. 

Sakit yang menyiksa lebih dirasakan oleh pasien kritis sebelum ajal menjemputnya.  “Pada dasarnya mirip orang yang mati tenggelam”, keadaannya membuat bulu kuduk orang yang melihatnya berdiri. 

Dokter tersebut sejak awal langsung menggambarkan perasaan pasien yang sekarat, ia menyebutkan : “Terus merasa sesak nafas, sampai beberapa menit terakhir, namun pasien tetap dalam kondisi sadar, sehingga ia akan berteriak minta tolong, memanggil-manggil dokter untuk memberikan bantuan, seiring dengan ia terus meronta berjuang untuk nafas, nafasnya pun habis.”

Dokter tersebut menjelaskan bahwa pada dasarnya sebab kematiannya mirip seperti orang mati tenggelam, air masuk ke dalam paru-paru sehingga oksigen tidak bisa masuk. Paru-paru pasien dipenuhi dengan sekresi seperti jeli yang dihasilkan oleh virus, sehingga fungsi ventilasi sepenuhnya tidak bekerja, tidak peduli seberapa pekatnya oksigen yang masuk, ia tidak bisa masuk ke dalam darah. Sedangkan alat penyedot dahak juga tidak berguna, karena bronkoskop tidak bisa mencapai lokasi yang dalam itu. Jadi, Tidak ada obatnya.” 

Apa yang dijelaskan oleh dokter tersebut lebih sepemahaman dengan apa yang diucapkan oleh Zhong Nanshan, ketua kelompok pakar Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok.

Zhong Nanshan dalam sebuah konferensi pers Pemerintah Provinsi Guangdong, Tiongkok pada tanggal 18 Februari 2020, mengungkapkan dari hasil autopsi jenazah ditemukan bahwa manifestasi dari paru-paru pneumonia Wuhan berbeda dengan manifestasi dari fibrosis berat pada paru-paru pasien SARS. Masih ada beberapa alveoli di paru-paru, peradangan parah, dan ada banyak lendir.

“Perawatan yang Diberikan Hanya Bersifat Membuat Pasien Lebih Terasa Nyaman”

Dalam rangkuman dokter di atas menyebutkan bahwa perawatan pasien dibagi ke dalam 4 tahapan, termasuk terapi oksigen aliran tinggi, ventilator non-invasif, dan jika ventilator non-invasif tidak memberikan faedah dalam 2 jam, maka perlu dilakukan intubasi. Terakhir adalah dengan menggunakan ECMO (mesin jantung-paru buatan).

Dokter tersebut juga menjelaskan bahaya ketika “perangkat keras tidak mampu mengatasi keadaan”, maka akibat dari dilakukannya tindakan intubasi terhadap pasien yang sakit kritis memungkinkan semua dokter dan perawat kami menjadi “sasaran tembak”.

Karena “Selama penyedotan lendir pasien akan terangsang dan batuk-batuk, aerosol akan disemburkan keluar ketika batuk”. Dokter itu menambahkan : “Setelah intubasi, aerosol yang mengandung coronavirus akan disemburkan ke udara selama 24 jam sehari tanpa gangguan, sehingga udara di seluruh ruangan akan tercemar.”

Menurut dokter tersebut bahwa pertolongan darurat dengan menggunakan mesin pembantu pernafasan bagi pasien kritis yang dibawa ke rumah sakit sudah tidak banyak memberikan faedah. Hanya 10% yang tertolong.

Dokter akhirnya mengingatkan bahwa pneumonia Wuhan itu pertama adalah sangat menular, kedua mudah menjadi parah. Sedangkan semua perawatan yang dilakukan sekarang adalah perawatan yang bersifat menenangkan.

Gambar penjelasan dokter tentang gejala klinis pasien pneumonia Wuhan melalui Weibo membuat bulu kuduk berdiri. (foto internet)

Selain itu, Li Shan (nama samaran), seorang dokter yang masuk kelompok dokter pertama yang mendukung Wuhan, pada 19 Februari juga mengatakan kepada wartawan di media daratan Tiongkok, bahwa tingkat kematian pasien yang sakit kritis sangat tinggi, kondisi pasien lebih buruk dari yang diperkirakan, tanda-tanda vital (vital signs) sulit dipertahankan. Sedangkan sebagian besar pasien mengalami penurunan kondisi dalam waktu yang cepat.

Dokter Pendukung Wuhan : Tingkat Kematian Pasien Kritis Sangat Tinggi

Sebagai kapten tim penyelamat medis pertama yang memasuki Wuhan, Li Shan sudahmenghabiskan 3 minggu untuk tinggal di Wuhan. Pada tanggal 26 Januari, ia memimpin 14 orang staf medis yang mendukungnya berangkat ke kota Wuhan untuk merawat pasien di unit perawatan intensif sebuah rumah sakit yang ditunjuk.

Sebagai dokter yang menangani pengobatan pasien kritis, Li Shan setiap hari harus berhadapan dengan malaikat maut. Tetapi di Wuhan, ia masih dibuat terkejut oleh situasi yang ia lihat : rumah sakit penuh sesak oleh manusia, banyak pasien yang sakit kritis berada dalam kondisi yang sangat buruk, kondisi kesehatan beberapa pasien memburuk dengan cepat. tempat pembaringan yang baru saja dikosongkan karena pasiennya meninggal dunia langsung diisi oleh pasien baru yang sedang menanti.

“Dilihat dari jumlah pasien, situasi epidemi sementara tidak berubah untuk saat ini, terutama pasien yang sakit kritis. Semua orang sekarang ingin mengetahui apakah ada titik balik. Situasi ini belum begitu jelas saat ini,” kata Li Shan.

“Infeksi di antara rekan kerja sulit dicegah”

Pada 17 Februari, sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nasional Tiongkok mengungkapkan, bahwa lebih dari 3.000 orang staf medis terinfeksi pneumonia Wuhan. Media dartan Tiongkok lainnya melaporkan bahwa penyakit itu telah membunuh 14 orang pekerja medis.

Namun demikian, dunia luar percaya bahwa karena komunis Tiongkok terus berusaha untuk menutupi informasi berkaitan dengan epidemi. Karena itu, jumlah aktual orang yang terinfeksi dan kematian staf medis jauh melebihi angka resmi.

Banyak tenaga medis melakukan kontak dekat dengan pasien dalam kondisi hampir tanpa pakaian perlindungan yang efektif, yang mengakibatkan peningkatan besar dalam jumlah terinfeksi.

Li Shan mengatakan bahwa setiap kali mendengar atau menemui seorang kolega mengalami demam, tes asam nukleat positif atau sedang  menjalani isolasi, itu pasti akan menimbulkan dampak psikologis negatif pada para staf medis. Dalam lingkungan seperti itu, bahaya ada di mana-mana dan lebih sulit untuk dicegah.

“Kita hanya dapat melakukan perlindungan pribadi yang baik, memakai masker, dan bertindak seorang diri untuk mengurangi kemungkinan saling menginfeksi di antara staf medis internal. Hanya itu yang bisa kita lakukan,” kata Li Shan.

Sebagaimana diketahui, bahwa sebagian besar personel medis yang ditempatkan di garis depan dapat bertugas selama 24 jam sehari. Mereka  berjuang terus-menerus selama lebih dari sebulan. Kini mereka berada di bawah tekanan fisik dan psikologis yang luar biasa. Beberapa staf medis bahkan menangis dan terus menangis …

Rekaman video : Tidak tahan lagi, staf medis Wuhan sampai menangis

Sebuah video dari staf medis bernama ‘Shenglí sǐbie’ menunjukkan : Xu Guoliang, dokter spesialis Urologi di Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Henan saat menghantarkan istrinya (Wang Yuehua) sebagai perawat pembimbing untuk berangkat menuju kota Wuhan untuk memberikan pertolongan, sambil bercucuran air mata mengatakan : “Aku mencintaimu”.

Hal yang perlu disebutkan di sini adalah pada 17 Februari, ‘China Newsweek’ menerbitkan sebuah artikel yang berjudul ‘Asal Usul Staf Medis Rumah Sakit Pusat Kota Wuhan Terinfeksi.” Artikel itu  mewawancarai beberapa orang karyawan Rumah Sakit Pusat Kota Wuhan untuk memilah-milah seluruh proses wabah pneumonia. Sedangkan para pemimpin rumah sakit menutupi epidemi itu.

Karena rumah sakit memerintahkan staf medis untuk tidak berbicara secara terbuka tentang epidemi atau memberi tahu pasien tentang itu, akhirnya mengakibatkan lebih dari 230 staf medis rumah sakit positif tertular COVID-19. Di antara mereka termasuk mendiang Dr. Li Wenliang. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular