- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Bikin Waswas! 19 Unit Rumah Sakit Model Gudang akan Dibangun Lagi di Wuhan

oleh Liu Minghuan

Beberapa hari  lalu, otoritas Wuhan menyatakan adanya rencana untuk membangun 19 buah rumah sakit model gudang, dengan target untuk memenuhi kebutuhan 30.000 unit tempat pembaringan buat pasien di kota Wuhan sebelum Selasa (25/2/2020). Hal tersebut menimbulkan kepanikan dan rasa takut sejumlah masyarakat dan kalangan netizen dan mereka semua heran dengan angka yang mengerikan itu, “Mengapa tidak sesuai dengan data optimis yang diterbitkan (otoritas) setiap harinya ?!?”

Menurut laporan media ‘CCTV’ bahwa pada 21 Februari Hu Yabo, anggota Komisi Tetap Komite Kota Wuhan merangkap Wakil Walikota Eksekutif Pemerintah Kota yang mengklaim lewat konferensi pers bahwa meskipun jumlah kasus pasien yang didiagnosis terinfeksi COVID-19 menurun setiap hari, namun permintaan tempat pembaringan bagi pasien masih tetap tinggi. Saat ini, sudah ada 13 buah rumah sakit kabin persegi yang sudah beroperasi di kota Wuhan, dengan total tempat pembaringan sebanyak 13.348 unit dan 9.313 yang sudah digunakan. Langkah selanjutnya adalah membangun lagi 19 buah rumah sakit lain dengan target 30.000 unit tempat pembaringan pada hari Selasa (25 Februari).

Komentar netizen di Tiongkok antara lain : Angka yang mengerikan. Membuat jantung berdebar-debar. Rasanya semakin gawat. Betapa seriusnya. dan banyak juga orang yang mempertanyakan : “Mengapa tidak sesuai dengan data optimis yang diterbitkan (otoritas) setiap harinya ?!?”, “Berikan laporan angka yang tepat !”, “Berapa sih sebenarnya, Apalagi rumah sakit model gudang hanya menerima pasien yang belum parah”.

Wabah pneumonia Wuhan merebak dengan pesat, dan tempat tidur di rumah sakit besar sulit diperoleh. Banyak pasien tidak dapat berobat. Otoritas Wuhan telah bergegas membangun sejumlah rumah sakit model gudang untuk menampung mereka, tetapi situasi di dalam tempat itu tidak berbeda banyak dengan kamp konsentrasi kematian. Pasien tidak dirawat kecuali menjalani karantina dalam “gudang”, itu berarti karantina menunggu ajal menjemput.

Pada 6 Februari, seorang netizen memposting video di akun Twitternya dan melampirkan sebuah komentar : “Pejabat yang bertanggung jawab itu sendiri yang mengatakan bahwa rumah sakit model gudang itu sesungguhnya bukan rumah sakit, karena tidak memiliki fasilitas medis di dalamnya, dan tidak menerima pasien dengan penyakit parah atau pasien dengan keterbatasan gerak. Selain itu, tidak bisa keluar kalau sudah masuk …. Terus terang, rumah sakit model gudang itu adalah rumah duka. Para pasien yang diterima di sini tidak akan dirawat lagi, hanya menunggu kematian !”

Netizen Twitter lain memposting sebuah foto yang diambil dan diposting di WeChat oleh pasien rumah sakit model gudang. Pasien tersebut menyebutkan dalam Wechat bahwa ia masuk rumah sakit model gudang ini pada 6 Februari pagi, 1 toilet disediakan untuk 1.000 orang pasien yang dikonfirmasi tertular. Sudah ada pasien yang buang air kecil, meludah di mana saja. Sekarang banyak orang mengatakan bahwa kalau pun mati mendingan mati di rumah, sekarang ini mereka tidak tahu bagaimana cara matinya. Kita-kita ini pasien yang sedang sakit bukan narapidana !

Pada 6 Februari, posting netizen di Weibo juga mengungkapkan situasi aktual di rumah sakit model gudang. Tulisan itu berbunyi : Bibi saya adalah pasien baru yang didiagnosis positif terinfeksi coronavirus jenis baru di Distrik Qiaokou. Dia kemudian dikirim ke rumah sakit swasta untuk menjalani perawatan isolasi pada pukul 9 malam kemarin, dan sekitar pukul 3 dini hari dia dibangunkan oleh seseorang yang mengatakan akan dipindahkan ke rumah sakit besar dengan fasilitas yang lebih baik. Tapi akhirnya dia dimasukkan ke rumah sakit model gudang Wuzhan. Di sana kondisi lebih buruk, sangat berbeda dengan apa yang diberitakan media.

Tulisan dalam posting itu menyebutkan, kabel listrik rumah sakit mengalami hubungan pendek dan selimut penghangat dengan listrik tidak bisa digunakan, dan malam tidur kedinginan. Tidak bisa injeksi. Seribu orang berbagi 1 toilet, dan tidak ada petugas yang membersihkannya. kotoran manusia luber keluar kloset jongkok. Jam 10 pagi baru disajikan sarapan, dengan beberapa potong makanan kecil, entahlah bagaimana makan siangnya.

Juga tidak terlihat dokter atau perawat mendaftarkan kondisi penyakit pasien atau  memberikan obat-obatan, mereka memiliki tenaga kerja yang terbatas, perangkat oksigen untuk membantu pernafasan pasien sangat kurang, tidak terlihat satu botol pun tabung oksigen di bangsal yang dihuni ratusan orang pasien. Dalam situasi seperi ini kondisi kesehatan pasien hanya akan semakin memburuk. Pemerintah perlu segera memperbaiki kondisi ini. Jangan menganggap enteng karena sakit pasien saat ini masih dianggap ringan, tetapi pasien ringan juga memiliki hak asasi manusia ! Semua orang ingin tetap hidup !

Selain itu, Komisi Kesehatan dan Medis Hubei mengumumkan data aneh pada 20 Februari. Katanya di seluruh provinsi (Hubei) pada 19 Februari hanya menambah 349 kasus pasien baru yang terinfeksi, luar biasa drastisnya jika dibandingkan dengan angka 1.693 kasus yang tercatat pada sehari sebelumnya.

Menanggapi hal ini, sebuah artikel pada majalah online AS ‘Foreign Policy’ menunjukkan bahwa di provinsi selain Provinsi Hubei, data tentang pasien baru yang terinfeksi yang dipublikasikan pihak berwenang Tiongkok telah turun selama lebih dari 10 hari berturut-turut.

Penurunan ini dapat ditafsirkan oleh mesin propaganda komunis Tiongkok sebagai “perang rakyat melawan wabah yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping sudah mulai menunjukkan cahaya kemenangan”. Namun, pertanyaannya adalah : “Apakah angka yang diberikan pemerintah Tiongkok dapat diandalkan ?”

Artikel tersebut menyebutkan bahwa faktor-faktor politik yang dilibatkan komunis Tiongkok tidak dapat dikesampingkan. Beijing telah menginstruksikan semua daerah agar segera kembali berproduksi demi pertumbuhan ekonomi. Hal ini jadi berkontradiksi dengan kebijakan. Pejabat lokal khawatir dengan kian menyebarnya epidemi, akhirnya menjadi kambing hitam. Mereka juga takut jika menunda-nunda dimulainya kembali produksi akan  dituduh melawan pemerintah pusat.

Berita dari Zhejiang dan Guangdong menunjukkan bahwa kebijakan mengisolasi komunitas sudah mulai dikendurkan, dan di beberapa daerah yang sebelumnya telah diisolasi sangat ketat, warga sekarang sudah diizinkan untuk bepergian dari rumah.

Artikel menyebutkan penurunan angka warga yang terinfeksi COVID-19 jelas merupakan  berita yang menggembirakan, tetapi asal jangan permainan angka tingkat atas.

Dunia luar berpendapat bahwa pejabat komunis Tiongkok selama ini terus menyembunyikan fakta tentang angka pasien terinfeksi pneumonia dan kematian di kota Wuhan.

Baru-baru ini, menurut data yang dilacak oleh penyedia data internasional ‘Windy’, atmosfer di sekitar kota Wuhan mengandung sejumlah besar sulfur dioksida (SO2), yang pelepasannya lebih dari 2 kali lipat jumlah yang dilepas kota Chongqing. Ini berarti bahwa otoritas Wuhan sedang membakar banyak bahan-bahan organik yang belum diketahui. Namun, beberapa orang di luar negeri telah menganalisis bahwa untuk menghasilkan sulfur dioksida berskala besar secara lokal, paling tidak perlu membakar puluhan ribu jenazah.

Apalagi baru-baru ini 40 unit perangkat pembakar sampah dan bangkai hewan berukuran kontainer yang dilengkapi dengan penjernih udara telah didatangkan ke kota Wuhan untuk membantu mengatasi masalah sampah medis plus bangkai binatang. Perangkat tersebut yang dirancang khusus untuk memproses sampah medis dan bangkai hewan berkapasitas 5 ton per unit per hari dengan temperatur mencapai 850 derajat celcius. Sampah dan bangkai akan “habis” dalam 2 detik proses pembakaran. (sin)

Video Rekomendasi :