- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Memo untuk Beijing : COVID-19 Tidak Mengenal Otorisasi Beijing

oleh  James Gorrie

Pemimpin Partai Komunis Tiongkok yang dinilai  membuat satu kesalahan tragis setelah membuat kesalahan tragis lainnya dalam wabah virus corona COVID-19

Menghadapi resesi epidemi dan ekonomi, Tiongkok benar-benar menemukan dirinya terjebak berada dalam situasi yang sangat sulit dan harus membuat keputusan yang sangat sulit antara resesi ekonomi dengan  epidemi yang mematikan. Dan lebih buruk lagi, tidak ada jalan yang jelas untuk kesulitan yang mengerikan ini.

Sayangnya, bangsa yang memiliki 1,3 miliar rakyat tetap di tengah-tengah meluasnya wabah COVID-19 yang dimulai pada pertengahan bulan Desember 2019. Pihak Komunis Tiongkok tidak bertindak secepatnya dan sedini mungkin.

Pada akhir bulan Januari, sudah terlambat untuk mengendalikan wabah COVID-19 dengan mudah. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa waktu mendatang terlihat cukup suram saat ini, baik secara ekonomi maupun dalam hal epidemi.

 Wabah COVID-19 Masih Merebak

Pada saat ini, tidak ada akhir yang terlihat untuk wabah COVID-19 dan tidak ada pilihan yang baik untuk menghentikannya. Bahkan memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek selama dua minggu hanya memiliki sedikit efek atau tidak ada efek pada penyebaran COVID-19. 

Tiongkok juga tidak mengkarantina seluruh kota secara besar-besaran — hingga 70 juta orang, populasi lebih besar daripada populasi Inggris Raya — untuk menghentikan merebaknya wabah COVID-19.

 Wabah COVID-19 terus memperluas jangkauannya di samping upaya kejam pemerintah. Prospek lebih dari ribuan kematian, jika bukan puluhan atau bahkan ratusan ribu kematian, adalah nyata dan lebih mungkin meningkat setiap hari.

Perjuangan Ekonomi Mengancam Stabilitas

 Di sisi lain, ekonomi Tiongkok sedang mengalami kesulitan. Pertama, hanya akibat berlakunya tarif tinggi Presiden Trump saja telah mengurangi output dan Produk Domestik Bruto Tiongkok. 

Tetapi pada bulan Januari, COVID-19 sangat memacetkan ekonomi Tiongkok. Hal itu memiliki konsekuensi besar bagi kelayakan ekonomi dan stabilitas sosial Tiongkok.

Penyakit ini mengancam akan menghancurkan inti komunis modern Tiongkok: Kesejahteraan keberlangsungan keberadaan kelas menengah. Adalah keberadaan kelas menengah yang melegitimasi posisi Partai Komunis Tiongkok dan otoritas absolut atas setiap aspek kehidupan Tiongkok.

Bukan ‘Bisnis seperti Biasa’

 Tetapi sebagai akibat penularan COVID-19 dan dampaknya, jutaan pekerja tinggal di rumah mengkarantina diri sendiri atau menghindari kota-kota menghindari ketakutan yang masuk akal terhadap infeksi itu. 

Rantai pasokan untuk pelanggan dan industri global kini di bawah paksaan. Penundaan produksi saat ini adalah sudah pasti, tetapi Beijing mengumumkan bahwa Beijing mungkin tidak dapat memenuhi Fase Satu kesepakatan dagang. Hal tersebut dapat memicu dimulainya kembali tarif pada produk Tiongkok.

Dalam upaya menyelamatkan ekonomi dari penurunan lebih lanjut, kepemimpinan Komunis Tiongkok memerintahkan para pekerja untuk kembali bekerja di pabrik. 

Tentu saja, tanpa pabrik yang beroperasi, produksi melambat dan pendapatan turun. Banyak perusahaan berisiko bangkrut. Dan obat-obatan dan persediaan medis yang sangat dibutuhkan, bersama dengan semua produk yang menjadi andalan dunia bergantung pada Tiongkok untuk  menyediakan, tidak dibuat.

 Gangguan Penerimaan

 Tetapi pesan Beijing kepada para pekerja untuk kembali bekerja di pabrik adalah tidak hanya tanpa perasaan, tetapi juga bebal. Memaksa orang kembali bekerja di  pabrik menempatkan jutaan nyawa pekerja berisiko. 

Dan, melakukan hal itu hanya mengakibatkan perluasan wabah COVID-19 lebih lanjut. 

Memprioritaskan peningkatan Produk Domestik Bruto Tiongkok dengan berpotensi

mengorbankan jutaan nyawa hanyalah satu lagi salah langkah yang dilakukan oleh Komunis Tiongkok dalam serangkaian salah langkah yang dilakukannya yang menyebabkan terjadinya wabah COVID-19 di tempat pertama munculnya.

 Ingatlah bahwa keputusan ini diambil setelah sejumlah penerimaan yang mengganggu dari rezim Tiongkok. Hal ini mencakup pengumuman bahwa COVID-19 menjadi lebih kuat, kini ditularkan melalui udara, bahwa kini terjadi infeksi ulang, dan tidak ada cukup rumah sakit atau persediaan medis untuk menangani semakin membludaknya pasien.

 Kebebabalan yang Mengejutkan

 Dengan fakta-fakta yang mengerikan dan suram ini, apakah masuk akal adanya peningkatan paparan manusia-ke-manusia saat ini? 

Apakah masuk akal memaksa jutaan orang yang meninggalkan kota untuk kembali ke pedesaan, untuk kembali bekerja di pabrik di mana kemungkinan terinfeksi adalah jauh lebih tinggi?

 Kebebalan dari pesan ini adalah mengejutkan. Menambahkan lebih banyak korban COVID-19 akan membantu Tiongkok dalam hal apa?

Dengan memproduksi lebih banyak barang di pabrik tertutup dengan pekerja yang berpotensi terinfeksi, menangani pakaian, telepon pintar, dan barang lainnya yang akan diekspor ke Barat? 

Pelanggan macam apa yang ingin mengimpor barang yang diproduksi oleh pekerja yang terinfeksi dengan penyakit mematikan dan sangat menular?

Terlalu Banyak Yang Tidak Diketahui

Pihak berwenang Komunis Tiongkok mengakui bahwa pihaknya tidak tahu segalanya mengenai virus COVID-19, tetapi dengan akun terbaru, virus COVID-19 dapat hidup di permukaan pada suhu ruangan selama sembilan hari. Campak, virus lain yang sangat menular, hanya mampu bertahan selama 2 jam di luar seorang pejamu.

Bagaimana jika rentang hidup COVID-19 lebih lama? Beberapa virus corona yang hanya menginfeksi hewan dapat hidup lebih dari 28 hari. Memaksa orang yang tidak terinfeksi untuk kembali bekerja di pabrik akan menimbulkan bencana.

Menciptakan Lebih Banyak Korban?

 Tidak mengherankan, beberapa pekerja tidak kembali bekerja. Sebagai tanggapan, Beijing mengumumkan hukuman berat bagi pekerja yang tidak kembali bekerja. Tetapi jika para pekerja kembali bekerja, maka cenderung menjadi perbaikan jangka pendek untuk masalah Produk Domestik Bruto Tiongkok — jika memang  demikian — dan kutukan jangka panjang untuk jutaan orang.

 Jika kepemimpinan Komunis Tiongkok berusaha menyingkirkan COVID-19, menciptakan lebih banyak korban bukanlah cara untuk melakukan itu. 

Jika kepemimpinan Komunis Tiongkok berusaha menanamkan persatuan di dalam negara, Partai Komunis Tiongkok hanya akan mencapai yang sebaliknya. 

Kemarahan pada pemimpin Komunis Tiongkok setempat maupun pada Partai Komunis Tiongkok di Beijing tumbuh, dan memang seharusnya begitu.

Tetapi Partai Komunis Tiongkok yang sangat angkuh dan kesalahan pahit yang diakibatkan oleh lahirnya Partai Komunis Tiongkok mungkin bermanfaat tujuan yang lebih besar dalam sejarah panjang Tiongkok. 

Mungkin akhirnya terjadi kehancuran kepemimpinan Parta Komunis Tiongkok dan apa yang benar-benar dihargai, dan — peringatan— itu bukanlah rata-rata pekerja Tiongkok yang menurut Partai Komunis Tiongkok ingin dilindungi.

 Kepemimpinan Komunis Tiongkok mengetahui bahwa kondisi ekonomi maupun epidemi adalah memburuk, tumbuh peluang kerusuhan di antara massa. 

Fokus kemarahan mereka hanya diarahkan kepada Partai Komunis Tiongkok yang maha kuasa, serba tahu yang menghancurkan Tiongkok. 

Itu adalah drama yang ingin dihindari oleh Komunis Tiongkok karena Partai Komunis Tiongkok tidak berpikir mereka suka bagaimana Partai Komunis Tiongkok berakhir.

 Tampaknya kelangsungan hidup adalah hal utama bagi Beijing. Tetapi kekhawatiran itu tampaknya terbatas pada kelangsungan hidup Partai Komunis Tiongkok. 

Newsflash untuk  Partai Komunis Tiongkok: virus COVID-19 tak mau ambil pusing. 

James Gorrie Adalah Penulis buku berjudul The China Crisis

Video Rekomendasi :