- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Jaksa Agung AS Memperingatkan ‘Serangan Kilat Teknologi’ Rezim Tiongkok di Negaranya Hingga 1.000 Penyelidikan FBI

Cathy He – The Epochtimes

Amerika Serikat secara agresif mendorong balik terhadap kegiatan spionase ekonomi Tiongkok dan pengaruh asing, bermitra dengan perusahaan swasta, akademisi, dan sekutu Amerika Serikat untuk memerangi ancaman ini.  Hal demikian diungkapkan oleh pejabat tinggi Amerika Serikat pada tanggal 6 Februari 2020 yang dikutip oleh The Epochtimes. 

Rezim Komunis Tiongkok mengerahkan “pendekatan semua alat dan semua sektor” untuk “mencuri jalan menaiki tangga ekonomi” dengan menggunakan biaya Amerika Serikat. Hal itu dikatakan oleh Direktur FBI Chris Wray pada konferensi Washington di Program ‘Inisiatif Tiongkok’ di Departemen Kehakiman Amerika Serikat. 

“Hal itu menuntut pendekatan semua alat dan semua sektor milik Amerika Serikat  sendiri,” kata Chris Wray.

Pada akhir tahun 2018, Departemen Kehakiman Amerika Serikat meluncurkan Inisiatif Tiongkok untuk menindak pencurian rahasia dagang Amerika Serikat, yang mana disponsori pemerintah Tiongkok dan kegiatan pengaruh asing oleh Beijing. 

Sejak itu, Departemen Kehakiman Amerika Serikat membawa puluhan kasus spionase terkait Tiongkok oleh berbagai aktor, termasuk perwira intelijen Tiongkok, akademisi Tiongkok dan Amerika Serikat, dan perusahaan Tiongkok. 

Beberapa aktor ini adalah “kolektor non-tradisional,” seperti mahasiswa pasca-sarjana Tiongkok yang berpartisipasi dalam program penelitian universitas. Lebih dari 80 persen dari semua tuduhan spionase ekonomi yang dibawa oleh jaksa federal sejak tahun 2012 melibatkan Tiongkok, menurut Departemen Kehakiman Amerika Serikat.

Rezim komunis Tiongkok menggunakan berbagai teknik — seperti peretasan dunia maya, orang dalam perusahaan yang korup, dan pencurian fisik — untuk menargetkan informasi ilmiah dan teknis berharga yang dipegang oleh sektor swasta dan akademisi.

“Rezim komunis Tiongkok berusaha untuk menangkap manfaat dari masyarakat bebas Amerika Serikat dengan mencuri teknologi Amerika Serikat. Pencurian teknologi bukanlah tontonan. Hal itu menopang dan mendorong upaya eezim komunis Tiongkok,” kata Jaksa Agung William Barr di acara yang sama.

William Barr menggambarkan upaya rezim Tiongkok sebagai “serangan kilat teknologi” yang menimbulkan “tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Amerika Serikat.”

Teknologi yang ditargetkan untuk dicuri dapat ditemukan dalam rencana Beijing “Made in China 2025,” yang menjabarkan teknologi inti yang ingin dikuasai rezim Tiongkok di masa depan — mencakup kecerdasan buatan, farmasi, dan kedirgantaraan.

William Barr mengatakan, sejak diluncurkannya rencana industri Tiongkok pada 2015, Departemen Kehakiman Amerika Serikat membawa kasus pencurian rahasia dagang di delapan dari 10 sektor teknologi yang dijadwalkan untuk pengembangan agresif.

Sedangkan Chris Wray mengatakan FBI memiliki sekitar 1.000 penyelidikan yang melibatkan upaya pencurian teknologi Tiongkok yang berbasis di Amerika Serikat, di seluruh 56 kantor lapangan, yang mencakup hampir setiap industri dan sektor. 

Pada tahun fiskal 2019, FBI menangkap 24 orang dalam kasus kontra-intelijen terkait Tiongkok, kata John Brown, asisten direktur divisi kontra-intelijen FBI. Ia menambahkan bahwa jumlah ini akan melebihi tahun fiskal ini di mana 19 orang ditangkap hingga saat ini. 

Baru-baru ini, Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengumumkan tiga penuntutan terpisah yang berkaitan dengan dugaan tindakan untuk membantu rezim Tiongkok: 

Ketua departemen kimia Harvard didakwa karena diduga berbohong mengenai hubungannya dengan rencana rekrutmen Tiongkok yang menurut pihak berwenang memfasilitasi transfer penelitian dan teknologi Amerika Serikat yang sensitif ke Tiongkok;  seorang perwira militer Tiongkok yang menuntut ilmu di Universitas Boston didakwa dengan tuduhan menyembunyikan hubungannya dengan militer Tiongkok; seorang peneliti Tiongkok didakwa atas tuduhan berusaha menyelundupkan botol-botol hasil penelitian biologi yang dicurinya.

Untuk memberikan gambaran skala upaya, Chris Wray mencatat bahwa ketiga kasus diselidiki oleh salah satu dari 56 kantor lapangan FBI — Boston — dan dituntut dalam waktu lebih dari sebulan.

Bekerja Sama dengan Bisnis dan Akademisi

Pejabat Departemen Kehakiman Amerika Serikat dan FBI mengatakan, mereka meningkatkan keterlibatan mereka dengan sektor swasta dan akademisi untuk meningkatkan kesadaran akan ancaman spionase ekonomi Tiongkok.

Namun, pendekatan ini tidak berarti bahwa bisnis dan institusi akademik Amerika Serikat harus berhenti berbisnis dengan Tiongkok, menjamu tamu-tamu Tiongkok, atau menyambut mahasiswa Tiongkok, demikian yang diungkapkan Chris Wray. 

Melainkan, perusahaan dan akademisi harus “ingat memandang ke masa depan saat terlibat dengan Tiongkok.”

“Kita harus jernih dan berpikir mengenai ancaman dari Tiongkok dan melakukan segala yang mungkin untuk memastikan tingkat permainan yang seimbang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok,” tambah Chris Wray.

William Evanina, direktur Pusat Kontra- Intelijen dan Keamanan Nasional AS, membalas kritik bahwa kampanye federal didorong oleh “masalah rasial.” Ia mengatakan bahwa “ini adalah masalah pencurian yang terbukti mengenai kekayaan intelektual dan rahasia dagang serta gagasan oleh negara komunis.”

Chris Wray mengatakan, FBI meminta eksekutif bisnis untuk mempertimbangkan dengan cermat implikasi bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok, seperti melalui usaha patungan.

“Mungkin menghasilkan banyak uang hari ini; mungkin terdengar hebat pada panggilan pendapatan berikutnya. Tetapi mungkin tidak terlihat begitu hebat beberapa tahun ke depan, saat Tiongkok mendapati dirinya berlumuran kekayaan intelektual atau berkelimpahan data yang paling sensitif, ”kata Chris Wray.

Chris Wray menambahkan, Pihak berwenang juga mendorong universitas untuk melindungi mahasiswa dari intimidasi oleh pemerintah asing, untuk mencari transparansi dalam perjanjian dengan lembaga asing, dan untuk melakukan uji tuntas terhadap warganegara asing yang bekerja dan belajar di kampus.

William Barr menyerukan, rekan-rekan universitas dan lembaga pemikir: Jangan biarkan pencurian teknologi berkedok kebebasan akademik. 

“Jangan biarkan Republik Rakyat Tiongkok mendikte penelitian anda atau menekan anda untuk mengabaikan beragam suara mengenai topik kontroversial. Pertimbangkan apakah pengorbanan atau kebebasan integritas akademis sepadan dengan daya jualnya,” ujarnya. (Vivi/asr)

Video Rekomendasi :