- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Tragis ! Bocah 6 Tahun Terkurung Bersama Jenazah Kakek Selama Berhari-Hari Saat Isolasi Kota Shiyan, Hubei, Tiongkok

oleh Gu Xiaohua, Ling Yun

Pada tanggal 24 Februari 2020, para relawan Komunitas Zhuyi, Jalan Huaguo, Distrik Zhangwan, Kota Shiyan bersama ketua Komunitas Zhuyi Xincun bermaksud untuk mengadakan pemeriksaan suhu badan setiap penghuni dengan mengunjungi satu per satu kediaman warga.  Saat itu pada hari ke-30 isolasi kota Shiyan, Provinsi Hubei, Tiongkok  akibat merebak virus corona COVID-19 sebuah kisah tragis terjadi di sana.

Pandangan mereka tiba-tiba terpana pada fenomena dalam rumah, setelah seorang bocah membuka pintu apartemen Kamar No. 502 dari Unit 10 Lantai 36 yang mereka ketuk.

Bocah kecil tersebut mengatakan bahwa ia selama ini tinggal bersama kakeknya. Namun saat relawan bertanya di mana kakek berada sekarang. Ia menjawab, kakek sudah meninggal dunia beberapa hari lalu.

Bocah laki-laki tersebut berusia sekitar 6 tahun, para relawan menemukan jenazah kakek dalam kamar mandi, dan terlihat ada darah di ujung bibir. Jenazah ditutupi dengan selimut yang dikenakan oleh bocah tersebut.

Setelah itu, para relawan menghubungi kepolisian dan tak lama kemudian petugas polisi dan staf medis datang. Ketika mereka bertanya kepada bocah mengapa tidak mencari bantuan bocah lelaki itu mengatakan bahwa kakeknya mengatakan ada virus di luar dan dia tidak diizinkan keluar. Selama beberapa hari itu ia hanya makan biskuit untuk mengganjal perut, katanya.

Blogger keuangan terkenal ‘Souye’ mengkonfirmasi kebenaran berita melalui sekretaris komunitas yang bermarga Sun. Ia menceritakan kisah itu di akun media sosialnya.

Menurut artikel itu, setelah kakek tersebut wafat, bocah sudah beberapa hari tinggal sendirian di dalam rumah. Di saat itu, bocah bermarga Tan ini hidup dengan makan biskuit yang ada dalam rumah. 

Jika bukan karena para relawan itu datang untuk memeriksa warga apakah ada yang tertular virus corona, maka tidak diketahui berapa lama jenazah kakek tersebut masih akan tergeletak di lantai tanpa ada yang mengurus. Lebih-lebih tidak akan tahu apakah bocah kecil itu tidak mati kelaparan di rumah.

Kabarnya, kakek bernama Tan Minhua tersebut adalah pensiunan dari pabrik asembling kendaraan komersial Dongfeng yang lahir pada bulan Oktober 1949. 

Komunitas Zhuyi adalah komunitas bisnis yang sudah diserahkan oleh Pabrik Dongfeng ke pemda setempat yang saat ini memiliki populasi permanen sebanyak 2.252 kepala keluarga.  Ayah bocah tersebut yang bernama Tan Yi tinggal di Liuzhou.

[1]
Surat catatan kematian kakek Tan Minhua. (terdapat kesalahan administrasi yang dibuat oleh kantor setempat). (Diagram jaringan)

Menurut penjelasan staf rumah sakit yang menangani penyakit kakek Tan Minhua bahwa kakek yang tiba-tiba pingsan di dalam kamar mandi, dan cucunya memanggilnya selama dua jam tetapi tidak mendapat jawaban dari kakeknya. 

Dengan mempertimbangkan riwayat medis lama sang kakek, rumah sakit memperkirakan bahwa ia meninggal setelah mendapat serangan jantung. Staf medis tersebut mengatakan  bahwa banyak orang meninggal selama masa ini, beberapa orang lanjut usia yang memiliki penyakit lama kesulitan melewati musim dingin.

Gambar yang diambil di lokasi menunjukkan bocah laki-laki mengenakan pakaian pelindung untuk orang dewasa jadi tampak kedodoran, topinya pun hampir menutupi salah satu matanya.

Seorang tetangga yang kenal dengan mereka memberitahukan kepada  Epoch Times bahwa bocah laki-laki tersebut sudah mendapat perawatan dan segera akan dikirim ke tempat ayahnya di Liuzhou. 

Meskipun tidak setiap hari ayah dan kakek tersebut melakukan komunikasi, tetapi tidak jarang mereka saling berhubungan lewat sambungan telepon. Soal di mana keberadaan ibu dari bocah tersebut, ada orang yang mengatakan bahwa mungkin sudah bercerai.

Diungkapkan oleh warga tersebut bahwa istri Tan Minhua sudah meninggal dunia 18 tahun silam. Kakek Tan masih berbadan sehat, bersemangat, suaranya pun masih lantang, ia selama ini hidup dengan cucunya. 

Kematiannya diperkirakan karena serangan penyakit yang datangnya tiba-tiba. Bertepatan dengan isolasi kota, isolasi komunitas sehingga banyak orang tidak keluar rumah. Tidak mengetahui ada kejadian tragis ini. Berita ini menarik perhatian publik setelah beredar di Internet daratan Tiongkok, tetapi ulasan online netizen terus dihapus pihak berwenang dan tidak terlihat dimuat di media resmi.

Selama merebaknya wabah pneumonia Wuhan ini, banyak tragedi telah terjadi , dan tak jarang wabah membuat seluruh anggota keluarga terinfeksi dan meninggal dunia. Beberapa memilih untuk mengasingkan diri ke tempat lain atau nekad unuh diri agar tidak menulari keluarga mereka.

Gadis Wuhan bernama Yang Jingjing yang ayahnya bernama Yang Yuanyun memilih mengasingkan diri ke tempat lain setelah dinyatakan positif terinfeksi coronavirus Wuhan. 

Beberapa hari kemudian, ibu dan putrinya baru menemukan “jejaknya” melalui ponselnya. Selama beberapa hari, ayahnya berusaha untuk menghubungi anggota komunitas melalui WeChat, melaporkan bahwa ia mengalami demam dan sesak dada, dan memohon mereka untuk membawanya ke rumah sakit. Namun komunitas terus menolak dengan alasan tidak ada tempat pembaringan di rumah sakit.

Pada dua  hari lalu, pihak kepolisian menghubungi ibu dari gadis tersebut mengatakan bahwa ada warga pejalan kaki yang menemukan di tepi jalan jenazah ayahnya. Katanya sudah beberapa hari tergeletak di sana. Selama serangan wabah ini, berapa banyak warga yang meninggal sia-sia. (sin/asr)

Video Rekomendasi :