- Erabaru - http://www.erabaru.net -

WHO Serukan Negara-Negara Harus Berada ‘Fase Kesiapsagaan’ Menghadapi Wabah

NTDTV.com

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO yang dikutip BBC mengatakan dunia harus berbuat lebih banyak untuk mempersiapkan kemungkinan pandemi virus corona. WHO juga mengatakan masih terlalu dini untuk menyebut wabah ini sebagai pandemi, akan tetapi meminta negara-negara harus berada “dalam fase kesiapsiagaan”.

Sementara itu,  wabah pneumonia Wuhan yang kini disebut COVID-19 menunjukkan tanda-tanda mengglobal dan lebih banyak warga dari negara di dunia telah terinfeksi virus corona Wuhan. 

Di Korea Selatan saat ini adalah negara yang paling parah tertular penyakit pneumonia Wuhan. Dalam satu hari saja warga yang terinfeksi pernah bertambah sebanyak 144 orang. Jumlah kumulatif pasien yang meninggal dunia mencapai 11 orang.

Jumlah anggota militer yang terinfeksi di Korea Selatan juga terus bertambah sebanyak 18 orang pada hari Selasa 25 Februari.  Lebih dari 9.230 orang anggota militer telah dikarantina. Mliter AS dan Korea Selatan memutuskan untuk menunda latihan militer gabungan pada tahun ini.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada hari Selasa itu juga mengunjungi Daegu, daerah wabah paling parah di Korea Selatan untuk melakukan peninjauan sekaligus menyampaikan rasa simpati terhadap pasien.

Moon mengatakan : “Saya akan berdoa untuk para pasien. Mereka akan segera mendapatkan perawatan sehingga dapat kembali ke rumah masing-masing dengan selamat”.

Hingga Selasa sore waktu setempat, jumlah kasus terinfeksi virus corona Wuhan di Korea Selatan hanya berada di urutan kedua setelah Italia. Sudah ada 283 kasus pneumonia Wuhan dengan merenggut 7 nyawa. Pada saat yang sama, Italia telah menjadi “negara pengekspor” COVID-19 setelah Tiongkok dan Iran.

Pada  Selasa 25 Februari, setelah pasangan suami istri warga Italia didiagnosis terinfeksi COVID-19 di Kepulauan Canary Spanyol, pemerintah Spanyol dengan cepat memblokir hotel pasien H10 Adeje Costa Palace, di mana hampir seribu orang tamu dan staf di sana dipaksa untuk menjalani karantina.

Di Spanyol, kasus pertama infeksi COVID-19 terjadi pada hari Selasa 25 Februari 2020. Pasien adalah seorang wanita Italia berusia 36 tahun yang tinggal di kota Barcelona yang telah melakukan perjalanan ke Italia antara 12 hingga 22 Februari.

Pihak berwenang Prancis pada 25 Februari juga mengonfirmasi adanya tambahan 2 kasus infeksi COVID-19 di negaranya. Salah satu pasien itu adalah seorang wanita asal daratan Tiongkok yang baru tiba di Prancis. Yang lain adalah seorang pria Prancis yang baru kembali dari perjalanan ke Lombardy di Italia.

Swiss dan Austria juga tercatat sebagai negara yang warganya terinfeksi COVID-19 pada 25 Februari.

Pasien Swiss adalah seorang pria yang menghadiri pertemuan di dekat kota Milan pada 15 Februari, dan gejalanya mulai muncul 2 hari kemudian.  Pihak berwenang Swiss telah menemukan semua orang yang telah melakukan kontak dekat dengan pasien tersebut untuk diminta menjalani karantina selama 14 hari, termasuk uji kemungkinan terinfeksi.

Nigeria di Afrika juga melaporkan penemuan kasus infeksi, pasien adalah seorang warga negara Italia yang tiba di Nigeria pada 17 Februari 2020.

Laporan pada Kamis 27 Februari 2020, Korban tewas di Iran akibat corona menjadi 22 orang. Sementara 141 orang telah terinfeksi sebagaimana dilaporkan media pemerintah IRNA.

Beberapa hari sebelumnya, Kementerian Kesehatan Iran membenarkan bahwa Wakil Menkes mereka, Iraj Harirchi juga menjadi salah satu korban terinfeksi COVID-19. Ia juga adalah Ketua Satgas Pemberantasan Virus Corona Iran. 

Iraj Harirchi ketika menghadiri konferensi pers pada  Senin ia sampai berulang kali memegang dahinya. Ia membantah bahwa pihak berwenang Iran telah menyembunyikan laporan tentang wabah. 

Menyusul peringatan Organisasi Kesehatan Dunia kepada negara di dunia untuk bersiap menghadapi merebaknya wabah pneumonia Wuhan. Pada hari Selasa, Amerika Serikat, Kanada dan banyak negara lainnya juga memperingatkan warganya untuk bersiap menghadapi wabah.

Menteri Kesehatan AS Alex Azar mengatakan : “Penularan komunitas sekarang sedang terjadi di banyak negara, termasuk negara di luar Asia yang sangat mengkhawatirkan, dan penularan komunitas di negara lain akan mempersulit negara kita dalam menanggulangi pengendalian wabah. Itulah sebabnya kita sedang bekerja sama dengan mitra di negara bagian, lokal, dan swasta untuk mempersiapkan kemungkinan mewabahnya pneumonia Wuhan di Amerika Serikat, karena kita cenderung melihat lebih banyak kasus bisa muncul di sini (di Amerika Serikat)”.

CDC Amerika Serikat pada hari Selasa 25 Februari juga menyebutkan bahwa permasalahan yang dihadapi sekarang bukan lagi soal bisa atau tidak wabah merebak di Amerika Serikat, tetapi kapan merebaknya. Dan berapa banyak warga negara Amerika Serikat yang terinfeksi. (sin/asr)

Video Rekomendasi :