Xiao Jing – NTDTV.com

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, Robert Redfield mengatakan dalam dengar pendapat di kongres, pada Kamis 27 Februari 2020  tentang bagaimana pemerintah Amerika Serikat menanggapi cepatnya penyebaran COVID-19.

Menurut Robert Redfield, jika tidak terjadi hal lain, maka COVID-19 akan bertahan hidup pada tembaga atau bahan baja selama sekitar 2 jam. Akan tetapi menurutnya itu akan bertahan lebih lama jika berada pada permukaan lain, seperti kertas atau plastik.  

Robert Redfield  menduga bahwa terinfeksi melalui kontak langsung dengan permukaan objek mungkin menjadi penyebab tertularnya sejumlah penumpang dan awak kapal ‘Diamond Princess’, tetapi bukan karena penularan lewat udara.

Sebuah penelitian terbaru di Jerman juga menunjukkan bahwa dalam kondisi suhu kamar, patogen COVID-19 dapat bertahan hidup paling lama sampai 9 hari pada permukaan benda mati.

Menurut laporan media Jerman ‘Journal of Hospital Infection’ bahwa para peneliti Jerman berusaha menemukan solusi untuk mengatasi COVID-19 melalui struktur coronavirus SARS atau MERS yang banyak kemiripannya. 

Untuk tujuan itu, para ilmuwan telah melakukan 22 macam penelitian dan menemukan bahwa patogen virus manusia dapat bertahan hidup pada permukaan plastik hingga 9 hari pada suhu kamar.

Para ilmuwan menunjukkan bahwa virus semacam itu biasanya dapat bertahan hidup sekitar 4 hingga 5 hari pada permukaan plastik, kaca, kayu, kertas atau aluminium setelah meninggalkan tubuh inangnya, seperti tubuh manusia, tetapi dalam beberapa kasus, virus tersebut bertahan lebih lama, dan barang-barang atau bahan-bahan itu sangat sering disentuh orang dalam kehidupan sehari-hari. Itu berarti bahwa jika permukaan benda yang terkontaminasi tidak didesinfeksi pada waktu yang tepat, itu akan menimbulkan risiko besar bagi orang lain untuk terinfeksi oleh virus.

Selain itu, dalam sidang dengar pendapat pada hari Kamis 27 Februari, Redfield juga menunjukkan bahwa COVID-19 mungkin memiliki tingkat kematian yang lebih rendah jika berada di luar daratan Tiongkok.

“Kita tidak memiliki data, tetapi setidaknya dapat kita lihat tingkat kematian yang diakibatkan virus tersebut di luar Tiongkok sekitar 0,5%” kata Robert Redfield.

Pada saat yang sama, Robert Redfield menekankan bahwa  perlu melihat lebih banyak data untuk benar-benar menentukan.

Menurut data sebelumnya dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kematian pneumonia Wuhan di daratan Tiongkok adalah antara 2% hingga 4%. Namun, keaslian data ini dipertanyakan secara luas karena data terpenting itu berasal dari pemerintah Tiongkok. 

Sebuah artikel yang dirilis di The Lancet baru-baru ini menunjukkan bahwa tingkat kematian pasien pneumonia Wuhan dapat mencapai lebih dari 60%.

Sehari sebelumnya yakni pada 26 Februari, Amerika Serikat telah membenarkan timbulnya kasus ke-15 pneumonia Wuhan di Amerika Serikat. Kasus ini menjadi kasus pertama bagi Amerika Serikat karena tidak diketahui bagaimana pasien terinfeksi COVID-19.

CDC pada hari yang sama mengkonfirmasi bahwa pasien tersebut adalah penduduk Solano County dan sedang menerima perawatan rumah sakit di Sacramento County, pasien tidak memiliki pengalaman perjalanan yang relevan dan tidak pernah melakukan kontak dengan pasien lain yang tertular COVID-19. Itu mungkin menjadi kasus pertama bagi Amerika Serikat dimana pasien tertular virus yang tersebar di komunitas.

Keesokan harinya, CDC melalui jaringan internet mengeluarkan pedoman untuk pengujian coronavirus baru kepada para petugas kesehatan setempat, memberikan kekuasaan lebih banyak kepada mereka dalam menentukan siapa yang wajib mengikuti tes COVID-19.

“Ketika seorang dokter atau staf kesehatan masyarakat mencurigai seseorang terinfeksi COVID-19, kita berhak menentukan pengujian”, kata Robert Redfield.

CDC juga memperbarui daerah yang terkena dampak, menambahkan Iran, Korea Selatan, Italia, dan Jepang di samping daratan Tiongkok. Siapa saja yang kembali ke Amerika Serikat dari negara-negara tersebut yang dicurigai mengalami infeksi COVID-19, wajib mengikuti kegiatan pengamatan gejalanya selama 14 hari. (sin)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular