Li Ming – NTDTV.com

Saat ekonomi Tiongkok  porak poranda akibat pukulan dari perang dagang antara Tiongkok dengan Amerika Serikat, kini kembali tercabik-cabik karena mewabahnya pneumonia Wuhan yang sudah disebut Virus Corona COVID-19. 

Khawatir dengan berhentinya produksi dalam waktu yang panjang karena bakalan menyebabkan perusahaan kecil dan menengah bangkrut, maka pemerintah Beijing baru-baru ini memerintahkan perusahaan untuk kembali berproduksi. 

Sejak dikeluarkan instruksi tersebut, sejumlah perusahaan mulai kembali melakukan kegiatan. Akan tetapi dibarengi dengan laporan tentang penemuan banyak karyawan yang malahan tertular virus dan dipaksa menjalani karantina. 

Pang Xinghuo, wakil direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Beijing melaporkan bahwa pada 26 Februari 2020, Beijing telah menambah 10 kasus pasien terinfeksi COVID-19 karena tertular oleh seorang petugas kebersihan yang terinfeksi. Akan tetapi bersikeras untuk tetap masuk kerja.

Menurut laporan, karyawan bagian kebersihan dari sebuah perusahaan di Beijing telah bekerja dalam keadaan sakit sejak 18 Februari. Karyawan tersebut pada 22 Februari malam  menunjukkan gejala menggigil dan suhu tubuhnya mencapai 38 derajat di tengah malamnya. 

Keesokan harinya ia pergi ke rumah sakit dan didiagnosis sebagai kasus yang dicurigai. Dua hari kemudian pada 24 Februari, ia dipastikan terinfeksi COVID-19. Selanjutnya, 178 orang yang melakukan kontak dekat dengannya dikarantina untuk menjalani observasi medis. Hingga 26 Februari 2020, tercatat 10 orang dari mereka positif terinfeksi.

Sebanyak 10 orang yang terinfeksi itu semua adalah karyawan dari perusahaan manajemen properti. Salah satunya adalah karyawan perusahaan katering. Diperkirakan mereka tertular virus akibat hidup, makan, dan bekerja dengan rekan yang tinggal di asrama dalam beberapa hari sebelum dan setelah timbulnya gejala penyakit, sehingga terjadi infeksi lintas kelompok.

Pang Xinghuo mengatakan, semua unit perusahaan perlu memperkuat manajemen anggota di bagian logistik, kebersihan, catering, keamanan, dan personil lain. Bagi karyawan yang baru kembali dari tempat lain harus mematuhi persyaratan 14 hari di tempat tinggal atau menjalani pengamatan medis yang terpusat. Setelah wabah pneumonia mulai menyebar dari kota Wuhan, Provinsi Hubei ke provinsi di seluruh negeri, puluhan negara dan wilayah di seluruh dunia juga terkena dampaknya. 

Di seluruh negeri, karena panik, mereka telah mengadopsi langkah-langkah pencegahan berupa pemblokiran seluruh kota dari lalu lintas sampai kegiatan warga, karena itu sejumlah besar perusahaan menghentikan produksi. Sehingga menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar. 

Untuk mencegah kerusakan permanen pada ekonomi nasional yang disebabkan oleh penghentian produksi dalam waktu panjang, pemerintah Beijing baru-baru ini menyerukan kepada perusahaan di luar dari daerah yang terkena dampak paling parah seperti Wuhan dan Hubei untuk secepatnya memulai kembali kegiatan.

Namun demikian, setelah perusahaan di berbagai tempat memulai kembali kegiatan, justru kasus karyawan terinfeksi COVID-19 muncul berturut-turut setelah mereka mulai bekerja.  Oleh sebab itu karantina sejumlah besar karyawan tidak terhindarkan. Menurut media Tiongkok ‘Economic Weekly’, perusahaan yang karyawannya mulai bekerja kembali lalu terinfeksi COVID-19 secara kolektif baru-baru ini terutama berlokasi di kota Beijing, Chongqing, Provinsi Guangdong dan beberapa kotanya, provinsi Shandong dan beberapa kotanya. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular