Cathy He – The Epochtimes

Angka kematian pasien virus corona yang sakit kritis adalah tinggi, bahkan lebih tinggi daripada angka kematian pasien SARS. Para peneliti Tiongkok, dalam penelitian tanggal 24 Februari yang diterbitkan di The Lancet, memeriksa 52 pasien sakit kritis yang dirawat di unit perawatan intensif rumah sakit Jin Yin-tan Wuhan antara akhir bulan Desember 2019 hingga 6 Januari 2020, dan menemukan 32 pasien tersebut — 61,5 persen — kemudian meninggal dunia. 

Penelitian yang diterbitkan di The Lancet itu menemukan bahwa semua pasien tersebut meninggal dalam 28 hari sejak masuk unit perawatan intensif. Durasi rata-rata dari masuk unit perawatan intensif hingga meninggal adalah tujuh hari.

“Kematian pasien yang sakit kritis yang menderita pneumonia SARS-CoV-2, jenis virus corona baru adalah tinggi. Waktu bertahan hidup bagi pasien yang tidak dapat bertahan cenderung meninggal dalam 1-2 minggu setelah masuk unit perawatan intensif,” bunyi pernyataan penelitian itu.

Pemerintahan Komunis Tiongkok merilis angka korban terinfeksi dan meninggal dunia akibat virus corona.  Meskipun para ahli menyatakan bahwa jumlah kasus infeksi yang sebenarnya mungkin jauh lebih besar.

Angka kematian itu  lebih tinggi daripada pasien SARS yang sakit parah, demikian para peneliti mencatat. 

Wabah SARS terjadi pada tahun 2002-2003, yang juga berasal dari Tiongkok, menewaskan hampir 800 dan menginfeksi sekitar 8.000 orang di seluruh dunia. Para peneliti juga mendalilkan angka kematian akibat Coronavirus adalah lebih tinggi daripada angka kematian sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).

Penelitian itu menemukan bahwa pasien yang lebih tua – yang berusia 65 tahun ke atas – memiliki risiko kematian yang meningkat.

 Para peneliti juga menemukan bahwa pasien yang tidak bertahan hidup cenderung menderita sindrom gangguan pernapasan akut yakni sebuah jenis gagal napas yang ditandai dengan peradangan paru-paru yang cepat  dan lebih cenderung menerima ventilasi medis.

Dari 20 pasien yang selamat, delapan pasien dipulangkan.  Dua pertiga dari 52 pasien yang sakit secara klinis adalah pria. Itu sebuah temuan yang mendukung data sebelumnya bahwa pria lebih rentan terhadap infeksi.

 “Tingkat keparahan pneumonia SARS-CoV-2 menimbulkan tekanan besar pada sumber daya perawatan kritis di rumah sakit, terutama jika rumah tidak memiliki staf atau sumber daya yang memadai,” kata penelitian menyimpulkan.

 Wabah virus corona telah membuat kewalahan  sistem kesehatan masyarakat Wuhan, di mana rumah sakit menghadapi kekurangan pasokan dan berjuang untuk mengatasi beban kasus yang berat. Sebagai akibatnya, banyak pasien, termasuk orang yang tidak menderita virus corona, belum dapat memperoleh perawatan. Sementara itu, petugas kesehatan garis depan menanggung tekanan fisik dan mental yang berat, di mana banyak petugas kesehatan tersebut  terinfeksi virus corona saat merawat pasien. (vv)

Video Rekomendasi : 

 

Share
Tag: Kategori: SAINS SAINS NEWS

Video Popular