oleh Yan Xi

Amerika Serikat dan Taliban menandatangani perjanjian damai pada Sabtu (29/2/2020). Perjanjian tersebut menyebutkan bahwa berdasarkan kepatuhan Taliban terhadap perjanjian tersebut, Amerika Serikat bersedia menyesuaikan atau secara bertahap mengurangi jumlah pasukan yang ditempatkan di Afghanistan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama hampir 19 tahun.

Presiden AS Trump mengatakan : “Kita telah mencapai sukses besar dengan melenyapkan para teroris di Afghanistan, tetapi setelah bertahun-tahun berlalu sekarang saatnya kita untuk membawa pulang orang-orang kita, dan kita akan membawa mereka pulang”.

Pada hari Sabtu, direktur politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar dan Utusan Khusus AS Zalmay Khalilzad menandatangani perjanjian damai di ibukota Doha, Qatar.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani Ahmadzai mengatakan : “Menurut perjanjian antara Amerika Serikat dengan Taliban, ini akan memungkinkan kita untuk mencapai gencatan senjata permanen dengan Taliban”.

Menhan AS, Mark T. Esper dan Menlu AS Mike Pompeo juga menghadiri upacara penandatanganan. Pompeo mengatakan bahwa ini adalah perjanjian damai yang langka dalam 19 tahun terakhir.

“Kita percaya bahwa rakyat Afghanistan telah siap untuk memulai kehidupan baru. Dan hari ini adalah gencatan senjata pertama dalam sepekan berturut-turut yang terjadi dalam hampir 19 tahun terakhir”, kata Pompeo.

Perjanjian menyebutkan, dalam 135 hari ke depan, militer AS yang ditempatkan di Afghanistan akan dikurangi dari 13.000 personel menjadi 8.600 personel. Dalam 14 bulan ke depan, Amerika Serikat akan menarik mundur semua pasukannya di Afghanistan.

Mike Pompeo menegaskan bahwa penarikan mundur militer AS didasarkan pada kepatuhan Taliban terhadap komitmennya. Amerika Serikat akan bekerja dengan negara sekutu untuk mengurangi secara proporsional jumlah pasukan koalisi yang berada di Afghanistan.

“Kita akan memantau dengan cermat kepatuhan Taliban dengan komitmen mereka agar langkah penarikan pasukan kita sesuai dengan perjanjian”, kata Pompeo.

“Jika kita tidak mengambil tindakan nyata sesuai yang ada dalam perjanjian tersebut, maka semua akan menjadi tidak bermakna dan rasa gembira kita hari ini tidak akan bertahan lama”, katanya.

Ikut hadir dalam acara penandatangan perjanjian, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan bahwa NATO menyambut baik perjanjian bersejarah tersebut.

“Kita baru saja mengeluarkan pernyataan dan semua negara sekutu NATO menyambut hal ini sebagai langkah maju menuju perdamaian”, kata Jens Stoltenberg. (sin)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular