oleh Zhang Yujie

Radio Free Asia mengutip ucapan  seorang warga Wuhan yang dilaporkan pada Jumat (6/03/2020)mengatakan bahwa kota Wuhan telah diisolasi selama lebih dari 40 hari, dan harga barang-barang kebutuhan telah di luar kendali. Itu bukan “kualitas bagus dan harga murah” sebagaimana yang dilaporkan oleh stasiun TV resmi. Hal yang paling penting adalah bahwa banyak penduduk  tidak memiliki sumber pendapatan.

Warga Wuhan lainnya mengatakan, ada berita bahwa kota Wuhan menerima sumbangan dari para donatur hingga mencapai miliaran renminbi, tetapi tujuan penggunaan uang itu tidak diungkapkan, dan warga sama sekali tidak merasakannya.

Di media sosial Tiongkok ada seorang meninggalkan pesan berbunyi: “Karena menghadapi isolasi kota, warga Wuhan tidak bisa keluar rumah untuk berbelanja bahan makanan kecuali pembelian secara kelompok, tetapi harga berikut ongkirnya sangat tinggi. Harga dinaikkan oleh pengelola komunitas, mereka mencari rezeki di atas kesulitan orang lain.”

Ada juga warga Wuhan berusaha pergi ke pusat perbelanjaan, menemukan bahwa harga yang ditawarkan oleh pengelola komunitas yang mengharuskan warga membeli secara berkelompok, ternyata berharga jauh lebih tinggi dari harga di pusat perbelanjaan. Hal itu timbullah pertanyaan : “Kemana larinya uang keuntungan itu ?? Siapa yang bersedia menjawabnya ?”

Seorang warga menunjukkan barang yang ia order dan langsung berteriak “keterlaluan”, seperti sekilo ikan mas berharga RMB. 15, order paling sedikit 10 kg. Apel sekilo RMB 10 lebih, sekali order sedikitnya 1 dus.

Menurut laporan sejumlah media daratan, dari data resmi yang diumumkan pihak berwenang diketahui bahwa harga rata-rata daging babi di pasar grosir produk pertanian daratan Tiongkok pada 5 Maret adalah RMB. 48,49 per kilogram. Harga naik lebih dari 200% bila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu.

Sayur kubis bukan lagi sebagai simbol sayuran paling murah di Tiongkok masa lalu. Ambil harga dari pusat grosir kubis di Beijing sebagai contoh. Bulan November tahun lalu harga kubis per kati adalah RMB. 0,45 sekarang menjadi RMB. 1,9, harganya telah naik 4 kali lipat.

Harga kubis di supermarket lebih mahal lagi, satu kati mendekati RMB. 3. Ada warga yang membeli 1 butir kubis yang tidak besar, menghabiskan RMB. 15. Dia berkomentar, “Sekarang sudah tidak mampu lagi makan sayur kubis”. 

Sedangkan untuk sayuran yang lain, ada warga yang menjelaskan bahwa tomat dan mentimun harganya lebih dari RMB. 6 per kati.

Mengenai sumbangan dari donatur yang tidak diberikan kepada warga sebagaimana disinggung oleh warga di Wuhan, beberapa warga berteriak “iri” bila dibandingkan dengan praktik-praktik komunitas internasional. Misalnya, sebuah komunitas di Vietnam menyediakan makanan dan masker gratis untuk warga, dan pemerintah memberikan subsidi kepada warganya yang terisolasi. 

Di daerah Italia yang paling parah dilanda wabah, pemerintah akan memperkenalkan langkah-langkah untuk mengganti kerugian yang diderita penduduknya akibat wabah pneumonia Wuhan.

Korea Selatan juga termasuk parah dilanda wabah. Tetapi pemerintahnya memberikan uang subsidi yang sama baik terhadap warga negaranya dan warga asing yang dikarantina. Mereka masing-masing menerima KRW. 1 juta atau setara dengan USD. 840 sebulan. (Sin)

Artikel Ini Terbit di Epochtimes.com

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular