Cathy He 

Seorang wartawati ilmiah pemenang Hadiah Pulitzer dan seorang pakar epidemi, Laurie Garrett yang mengatakan bahwa Tindakan Komunis Tiongkok menutupi-nutupi awal wabah pneumonia wuhan yang kemudian disebut virus corona COVID-19 di pusat kota Wuhan mempermudah penyebaran penyakit ini ke seluruh Tiongkok dan dunia.

Laurie Garrett, yang telah meliput epidemi di seluruh dunia, termasuk wabah SARS tahun 2002-2003 yang berasal dari Tiongkok. Ia mengatakan penindasan informasi vital oleh rezim komunis Tiongkok selama hari-hari awal wabah virus corona pada bulan Desember 2019 hingga Januari 2020,  berarti telah kehilangan peluang penting untuk mengendalikan penyebaran virus corona.

“Waktu untuk merespons dan menghentikan wabah adalah saat hanya ada 20 kasus, ada hanya ada 40 kasus,” kata Laurie Garrett saat wawancara baru-baru  ini di program “American Thought Leaders” The Epoch Times.

Ia mengatakan, pada saat ada beberapa ratus kasus, itu sudah kehilangan peluang — peluang sudah berakhir. Kini rezim Tiongkok berurusan dengan epidemi dan seluruh strategi pengendalian wabah yang dilakukan sia-sia. Akibat keengganan rezim Tiongkok bertindak serius saat awal jumlah kasus yang tampaknya sangat sedikit.

Selama hampir tiga minggu setelah pihak berwenang kesehatan Wuhan pertama kali memastikan adanya wabah virus corona pada tanggal 31 Desember 2019, jumlah kasus yang dipastikan tetap sekitar beberapa kasus, sementara para pejabat menyatakan “tidak ada bukti nyata untuk penularan dari manusia ke manusia” dan wabah “dapat dicegah dan dikendalikan.”

Pejabat kesehatan kemudian baru memastikan adanya penularan virus corona dari manusia ke manusia pada tanggal 20 Januari. Pada hari yang sama, angka kasus infeksi resmi hampir melonjak lima kali lipat menjadi hampir 200 kasus. Sejak saat itu, angka kasus infeksi di Tiongkok melambung ke puluhan ribu, di mana terjadi lebih dari 2.000 kasus kematian, sementara penyakit ini telah menyebar ke beberapa negara.

Pada tanggal 23 Januari 2020, para pejabat mengkarantina Wuhan, yang belum pernah terjadi sebelumnya — tetapi sebelum Wuhan dikarantina, 5 juta penduduk Wuhan telah meninggalkan Wuhan untuk bepergian selama liburan Tahun Baru Imlek, atau untuk melarikan diri dari karantina. Pihak berwajib mengumumkan batasan yang akan terjadi itu sehari sebelumnya.

“Tindakan menutup-nutupi wabah Coronavirus mengakibatkan rakyat Tiongkok dan seluruh dunia berisiko,” kata Laurie Garrett.

Laurie Garrett mengatakan ada banyak informasi yang salah mengenai virus corona di Tiongkok, beberapa informasi di antaranya adalah informasi yang narasinya diubah oleh rezim Komunis Tiongkok, dan beberapa informasi di antaranya adalah kesalahan yang tidak disengaja.

“Kita tahu bahwa angka resmi yang dikeluarkan oleh rezim Tiongkok adalah tidak akurat,” kata Laurie Garrett. Ia menambahkan bahwa berita mengenai krematorium di Wuhan yang berjuang mengatasi lonjakan jenazah menunjukkan bahwa “jumlah kematian yang sangat besar.”

Penindasan Warga

Upaya rezim komunis memperketat penindasan terhadap warga yang berbagi informasi mengenai virus corona juga mepersulit melihat gambaran sebenarnya dari apa yang terjadi di Tiongkok, sebagaimana yang dituturkan Laurie Garrett.

Kematian Whistelblower baru-baru ini adalah dr. Li Wenliang, yang termasuk di antara delapan “penyebar desas-desus” ditegur oleh polisi setempat karena berbagi informasi mengenai wabah virus corona pada bulan Desember, memicu badai amarah pengguna media sosial Tiongkok, yang menyesali kematian dr. Li Wenliang akibat terinfeksi virus corona, yang tertular saat ia merawat seorang pasien.

Netizen menyalahkan rezim Komunis Tiongkok, atas kematian dr. Li Wenliang, karena rezim Tiongkok berusaha menekan peringatan dini dr. Li Wenliang.

“Itulah implikasi yang diambil dari semua pelayat dr. Li Wenliang atas kemartirannya — bahwa ia pada dasarnya dibunuh oleh Komunis Tiongkok,” kata Laurie Garrett.

Sejak itu, rezim Tiongkok menghukum ratusan pengguna media sosial Tiongkok Karena “menyebarkan desas-desus” mengenai virus corona, menurut database yang dikompilasi oleh Pembela Hak Asasi Manusia Tiongkok nirlaba yang berbasis di Washington. Banyak postingan yang menyinggung kasus infeksi virus corona yang dipastikan atau diduga dalam poster di lingkungan kota.

Sementara itu, beberapa jurnalis warga di Wuhan, Fang Bin dan Chen Qiushi, baru-baru ini menghilang dan diduga ditahan oleh polisi Tiongkok. Fang Bin dan Chen Qiushi secara teratur memposting video yang mendokumentasikan situasi yang mengerikan di Wuhan, kota yang dikarantina.

“Sudah ada penindasan — [itulah] wabah itu digunakan untuk menekan kita,” kata Laurie Garrett.

Ia mengatakan, banyak yang menunggangi penanganan krisis wabah oleh Partai Komunis Tiongkok. 

“Jika Partai Komunis Tiongkok mengacaukan ini, dampak ekonomi dan politik adalah luar biasa — dan banyak yang berpendapat bahwa mereka sudah merasakan dampak tersebut,” kata Laurie Garrett.

Nasib Pekerja di Garis Depan

Sementara kematian dr. Li Wenliang menyoroti para petugas kesehatan sebagai korban wabah Coronavirus yang semakin memburuk, kasus dr. Li Wenliang  kemungkinan merupakan puncak gunung es. Laurie Garrett, yang menjadi saksi langsung terhadap kenyataan suram yang dihadapi oleh responden garis depan untuk wabah, mengatakan pengalaman itu seperti “neraka sejati di bumi.”

“Satu-satunya hal yang mirip adalah  menjadi seorang prajurit di medan perang,” kata Laurie Garrett.

Laurie Garrett menjelaskan, Anda tidak dapat membayangkannya jika anda tidak pernah berada dalam epidemi dan anda pernah tidak pernah melihat petugas kesehatan di garis depan. Anda tidak dapat membayangkan betapa stresnya…tanpa henti. Jika mereka benar-benar tidur selama empat jam sehari, itu sudah bagus.

The Epoch Times sebelumnya melaporkan staf perawatan kesehatan yang bekerja kewalahan di rumah sakit Wuhan, mengatasi masalah kekurangan pasokan medis, peralatan pelindung, dan kit pengujian.

Sementara itu, Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, untuk pertama kalinya sejak  wabah Coronavirus terjadi, pada tanggal 14 Februari mengumumkan bahwa setidaknya 1.716 pekerja kesehatan terinfeksi saat merawat pasien virus corona.

Laurie Garrett mengatakan pekerjaan petugas perawatan kesehatan adalah lebih sulit karena kurangnya obat atau perawatan untuk penyakit ini.

“Jadi, anda hanya melihat tubuh [pasien] melakukan pertempuran, dan anda harus bertahan dan menyaksikan dan berharap. Beri pasien air, oksigen, dan harapan bahwa tubuhnya akan berhasil melawan virus tersebut,” kata Laurie Garrett.

“Itu hal yang mengerikan untuk dilihat, dan itu memakan korban nyawa,” tambahnya. 

Pada saat yang sama, sensor informasi rezim Tiongkok mengenai wabah virus corona menambahkan tekanan yang unik pada staf garis depan. 

Laurie Garrett menuturkan, jika anda memberitahukan siapa pun apa yang anda alami, anda mungkin akan berakhir di penjara. Pesanan datang dari birokrasi misterius dan orang-orang dari pemerintah Komunis Tiongkok, dan tiba-tiba anda berada dalam masalah karena anda tidak melakukan prosedur ini atau anda tidak mengisi dokumen itu atau apa yang telah anda lakukan. Hal demikian, sangat menakutkan. (Vivi/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular