Li Lan – NTDTV.com

Pada Jumat (6 /3/2020), ibukota Afghanistan, Kabul sedang menggelar sebuah acara peringatan dan tiba-tiba terdengar rentetan suara tembakan membuat orang-orang yang berada di sana melarikan diri.

Salah seorang korban, Mukhtar Jan mengatakan : “Saat terdengar letusan senjata, saya langsung berhambur keluar pintu untuk meninggalkan lokasi upacara. dan tiba-tiba terasa kaki saya tertembak peluru”.

Pihak berwenang mengumumkan bahwa serangan teroris itu menyebabkan 32 orang meninggal dan 81 orang lainnya terluka. Kepala pemerintah Afghanistan, Abdullah Abdullah saat itu juga hadir di tempat kejadian, beruntung bisa lolos dari serangan dan tidak terluka.

Dua orang bersenjata kemudian berhasil ditembak mati oleh pihak keamanan Afghanistan. ISIS telah mengklaim bertanggung jawab atas insiden serangan tersebut. ISIS juga meluncurkan serangan terhadap aktivitas tersebut tahun lalu yang berkaitan dengan clash antara Muslim Syiah dan Sunni.

Untuk mencapai perdamaian di Afghanistan, Amerika Serikat menjadi penengah antara pemerintah Afghanistan dan Taliban Afghanistan dengan tujuan untuk memfasilitasi negosiasi antara kedua pihak. 

Setelah beberapa putaran negosiasi dengan Taliban, Amerika Serikat dan Taliban menandatangani perjanjian perdamaian pada akhir bulan Februari. Pihak-pihak di Afghanistan, termasuk Taliban akan bernegosiasi untuk mencapai gencatan senjata yang lengkap dan permanen, sementara organisasi teroris ISIS  tidak termasuk dalam negosiasi damai Afghanistan.

Usai penandatangan perjanjian perdamaian, pertempuran dan kekerasan di Afghanistan belum juga berhenti. Mengenai realisasi proses perdamaian Afghanistan, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo mengatakan pada 5  Februari bahwa jalan itu tidak mudah untuk ditempuh, tetapi ia masih memiliki kepercayaan pada Taliban.

“Kami menyadari bahwa jalan di depan akan sulit ditempuh. Tetapi kami telah melihat para senior dari Taliban telah bekerja untuk mengurangi kekerasan, jadi kami tetap yakin bahwa para pemimpin Taliban bekerja keras untuk menghormati komitmen mereka. Kita semua sedang bergerak menuju pencapaian tujuan kita masing-masing”, kata Mike Pompeo.

Amerika Serikat mulai memasuki Afghanistan untuk perang melawan teroris setelah mengalami serangan 11 September pada tahun 2001. Hingga saat ini, setidaknya 4.000 orang tentara Amerika  dan Sekutu telah terbunuh. Pemerintahan Trump telah berupaya untuk menarik kembali pasukan Amerika dari Afghanistan.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark T. Esper pada 5 Februari dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Pertahanan Inggris menegaskan kembali bahwa penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan didasarkan pada sejauh mana pihak Afghanistan mematuhi perjanjian yang sudah disepakati bersama ini. (sin)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular