Li Yun

Terkait  wabah pneumonia Wuhan atau Covid -19,  Komunis Tiongkok, di satu sisi secara ketat mengendalikan fakta tentang situasi wabah, di sisi lain memaksa perusahaan untuk kembali beroperasi. Namun, sejumlah besar video menunjukkan bahwa kembali beraktivitas sama dengan membuka kesempatan penyebaran virus. Seperti dilaporkan NTDTV.com pada 4 Maret 2020,  ada pekerja yang tiba-tiba jatuh di dalam area pabrik dan ada yang meninggal dalam kendaraan. Tetapi peristiwa itu tidak dipublikasikan oleh komunis Tiongkok.

Saat ini, para ahli dari berbagai negara telah memperingatkan bahwa wabah pneumonia Wuhan sedang mencapai puncaknya. Namun, tingkat tinggi komunis Tiongkok memaksa perusahaan untuk melanjutkan kegiatan bisnis dan memberlakukan pengendalian jaringan internet baru yang lebih ketat. 

Semua diskusi, gambar dan posting yang berkaitan dengan wabah pneumonia Wuhan diblokir. Banyak kelompok WeChat dibubarkan.

Pada saat yang sama, komunis Tiongkok menurunkan tingkat tanggap darurat untuk pencegahan dan pengendalian wabah. Kasus tambahan warga yang terinfeksi di banyak provinsi sekarang ditonjolkan dengan “nol pertumbuhan”. Malahan ada media Tiongkok yang mempropaganda dengan tulisan bahwa setelah melewati masa wabah, maka Tiongkok akan menjadi pemenang terbesar. Namun, sejumlah besar video online menunjukkan bahwa ini adalah cara komunis Tiongkok menghibur diri sendiri dan membohongi rakyat.

Pada 4 Maret, seorang netizen memposting video dan pesan di Twitter mengatakan bahwa kerugian yang disebabkan oleh kembali beraktivitasnya sejumlah perusahaan sulit untuk  dibayangkan. 

Ada pekerja yang meninggal di bus jurusan Hunan ke Shantou, yang pasti semua penumpang dalam bus itu menjadi objek tertular coronavirus jenis baru. Jika salah satu dari penumpang turun dari bus di tengah perjalanan, maka konsekuensinya akan lebih sulit diprediksi.

Pada hari yang sama, Ada netizen memposting video tentang kembali beraktivitasnya sebuah perusahaan di kota Shenzhen. Dalam gambar terlihat, seseorang tiba-tiba jatuh dalam area pabrik, dan karyawan yang datang untuk menyelamatkan sama sekali tidak menggunakan pengamanan untuk melindungi tertular virus, jelas mereka dalam situasi bahaya terinfeksi.

Beberapa netizen mengomentari dengan tulisan-tulisan pendek sebagai berikut :

“’Nol Pertumbuhan’ adalah desas-desus yang dihembuskan Partai Komunis Tiongkok.”

“Pembantaian tahap kedua oleh Partai Komunis Tiongkok sudah dimulai !”

“Kalaupun mati juga tidak ada urusan dengan wabah, Oleh karena sudah dikonfirmasi bahwa Nol pertumbuhan.”

“Ingin menangis, kasihan benar rakyat Tiongkok, perlu pergi jauh untuk mencari nafkah, lalu meninggal di tempat rantau.”

 “Meskipun pekerja tidak berkaitan langsung dengan instruksi perusahaan kembali beraktivitas, pekerja boleh tidak lagi bekerja, tetapi apa daya, angsuran rumah dan kendaraan yang sangat berat memaksa karyawan “berjudi” dengan situasi wabah.”

 “Tidak beraktivitas, komunis yang mati sepuluh juta, kembali beraktivitas, rakyat yang mati sepuluh juta, mana yang akan mereka beratkan, Anda paham bukan ?!?”

Pada 3 Februari lalu, seorang netizen memposting tulisan : “Tingkat tinggi komunis Tiongkok mengatakan bahwa jika tidak mulai beraktivitas maka rezim akan sulit bertahan, bahkan 10 juta orang anggota Partai Komunis Tiongkok akan mati. Dengan dimulainya lagi aktivitas, paling banyak cuma 10 juta orang rakyat yang mati.”

Ada netizen meninggalkan pesan dengan bertanya kepada komunis Tiongkok dengan nada marah : “Kalian telah menunda kedua konferensi penting, tetapi Anda mendorong kita untuk kembali bekerja ! Hanya beberapa ribu orang yang mengikuti kedua konferensi itu, tetapi jumlah orang yang dipaksa kembali bekerja bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta orang. Coba kalian sebutkan mana yang risiko terinfeksi lebih besar antara konferensi atau pemulihan kerja ? Saya tidak percaya bahwa kalian mendesak kita kembali bekerja itu bertujuan agar kita tetap berpenghasilan, saya percaya bahwa desakan itu lebih cenderung untuk kepentingan angka PDB.”

Pemulihan aktivitas hanya demi pertumbuhan ekonomi

Wabah pneumonia Wuhan mulai merebak pada bulan Desember tahun lalu, dan pihak berwenang komunis Tiongkok terus menyembunyikan kebenaran tentang situasi wabah dan berbohong bahwa wabah dapat dicegah dan dikendalikan. Tidak benar kalau coronavirus dapat menular dari manusia ke manusia. Akibatnya wabah merajalela dalam waktu pendek. 

Setelah itu komunis Tiongkok baru kelabakan lalu menerapkan pemblokiran kota, desa dan provinsi. Hal itu menyebabkan ekonomi Tiongkok yang sudah memburuk menjadi semakin buruk. Setelah Tahun Baru Imlek tahun 2020, pejabat tinggi komunis Tiongkok menuntut agar semua daerah, semua perusahaan untuk secepatnya kembali beraktivitas, berjuang demi pertumbuhan ekonomi.

Untuk melanjutkan pekerjaan, komunis Tiongkok telah mengadakan 4 kali pertemuan Komite Tetap Biro Politik dalam 23 hari sejak 3 Februari lalu, dan mengadakan konferensi video terbesar dalam sejarah pada 23 Februari.  Komunis Tiongkok memerintahkan semua provinsi selain Hubei dan ibukota Beijing untuk secara akurat mempromosikan dimulainya kembali produksi dan bisnis alias menormalisasi semua aktivitas.

Pada awalnya, media Tiongkok melaporkan bahwa banyak provinsi dan kota, antara lain Guangzhou, Chongqing, Beijing, dan Suzhou mengalami kejadian seperti makin banyak orang yang terinfeksi coronavirus sejak mereka kembali bekerja, sehingga sebagian besar karyawan itu terpaksa menjalani perawatan terisolir.

 Setelah Komite Tetap mengadakan pertemuan ketiga soal pencegahan wabah pada 13 Februari. Sejak hari itu media resmi tidak lagi melaporkan berita tentang kejadian infeksi setelah diperintahkannya pemulihan aktivitas.

Namun pada 24 Februari Beijing mengumumkan sebuah kejadian mengenai insiden seorang karyawan kebersihan di suatu perkantoran yang terinfeksi COVID-19 telah menyebabkan 178 orang lainnya yang memiliki kontak dekat dengan dirinya dikarantina. Hingga 26 Februari, setidaknya 10 orang dari mereka itu dipastikan terinfeksi.

Pada 29 Februari, netizen Cheng Kaifu mengungkapkan melalui Facebook tentang berita kejadian infeksi kolektif gegara kembali bekerja. Dia mengatakan bahwa 20 orang positif terinfeksi dan 200 orang dikarantina di Kecamatan Yangluo, kota pinggiran Wuhan akibat infeksi silang di lokasi kerja pembangkit listrik dan tempat bazaar. Pengawasan terhadap kondisi kesehatan mereka masih terus berlangsung.

‘Warga biasa di Wuhan’ memposting pesan di Tweet, menyebutkan satu kejadian di Dandong, Liaoning mengenai seorang yang baru terinfeksi dan berada dalam kondisi gawat. Itu membuat pimpinan setempat turun tahta.

Ada komentar yang berbunyi : “Bukannya sudah dinyatakan “Nol Pertumbuhan”, satu orang tersebut memang tidak takut mati, memaksakan diri supaya tidak nol pertumbuhan. Ini adalah cara terbaik dalam menyelesaikan nol pertumbuhan. “

Sesungguhnya komunis Tiongkok mengetahui bahwa wabah masih berkecamuk. Bahkan Komite Kesehatan Nasional Tiongkok dalam konferensi pers pada 28 Februari masih menekankan bahwa situasi wabah belum cerah, masih rumit dan ada risiko kembali mewabah.

Ma Xiaowei, direktur Komisi Kesehatan dan Medis Nasional Tiongkok mengatakan : “Dengan dimulainya kembali aktivitas bisnis, aktivitas sekolah, kegiatan-kegiatan tersebut akan menyulut pergerakan massal dan meningkatkan risiko penularan massal. Hal ini telah terjadi di beberapa tempat”.

Imperial College London pada 22 Februari mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa diperkirakan sekitar dua pertiga dari kasus baru pneumonia Wuhan menyebar ke dunia dari daratan Tiongkok, dan belum terdeteksi. Selain itu ada banyak cara penularan lain yang belum ditemukan hingga saat ini.

Ian Dogan, seorang analis di Insider Monkey, sebuah perusahaan analisis keuangan Amerika Serikat menghitung tingkat kematian yang paling dapat diandalkan dari pneumonia Wuhan yang sedang berkecamuk di Tiongkok sampai saat ini, berdasarkan data infeksi coronavirus jenis baru yang terjadi di Korea Selatan. Dia mendapatkan kesimpulan bahwa paling tidak ada 600.000 hingga 1,5 juta orang warga Tiongkok yang terinfeksi COVID-19. (sin)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular