Eva Fu

Warga Wuhan, di pusat wabah virus corona   yang dikarantina dalam bangunan masing-masing selama lebih dari sebulan mengadopsi cara baru untuk melampiaskan kejengkelannya kepada pejabat.

Selama kunjungan tanggal 5 Maret 2020 ke kompleks perumahan di Wuhan, Tiongkok oleh tim pejabat, termasuk Wakil Perdana Menteri Komunis Tiongkok Sun Chunlan, penduduk setempat menyambut para pejabat tersebut dengan meneriakkan keluhannya dari dalam bangunannya.

“Palsu, semuanya adalah palsu!” teriak seorang wanita di jendelanya, demikian menurut video yang disediakan oleh seorang tetangga.

“Sayuran yang biasa kami makan semuanya mahal,” teriak orang lain dalam video lain, yang sejak itu beredar viral di media sosial Tiongkok.

Banyak warga lain bergabung dalam teriakan, sampai para pejabat, yang semuanya mengenakan masker dan jaket hitam atau merah muda, keluar dari lingkungan di distrik Qingshan.

Seorang pria, yang merekam para pejabat dari atas gedung, terkesan oleh jumlah orang yang meneriakkan protes dari jendelanya.

“Biasanya, anda tidak melihat seorang pun,” kata pria itu dalam video.

Teriakan warga tampaknya berdampak pada tim inspeksi, yang tampaknya mencakup lebih dari 40 anggota. Video menunjukkan tim inspeksi berhenti di depan bangunan tempat pria itu merekam dan bercakap-cakap sekitar satu menit sebelum berlalu.

Di WeChat, platform media sosial daratan iongkok yang utama, orang-orang mengeluhkan perjuangannya dan menyatakan kemarahan terhadap petugas manajemen properti setempat.

Barang kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan lainnya menjadi langka di Wuhan sejak pemerintah Tiongkok mengkarantina bangunan itu pada tanggal 23 Januari. 

Penghuni bangunan itu terutama mengandalkan komite lingkungan dan kelompok untuk membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari. Tergantung pada kabupaten, penghuni hanya dapat meninggalkan rumahnya satu kali setiap tiga hari untuk membeli bahan makanan, atau tidak sama sekali.

Dalam obrolan grup WeChat yang dilihat oleh The Epoch Times, seorang penghuni  mengatakan pada hari kunjungan itu, petugas manajemen properti tidak membiarkan penghuni bangunan turun ke bawah dan  mengatakan bahwa petugas manajemen juga mengatur para relawan yang berpura-pura mengantarkan makanan kepada para penghuni. Itulah yang membuat para penghuni meneriakkan keluhannya.

Dalam sebuah pesan yang segera diikuti, orang tersebut mengatakan bahwa pejabat setempat diperingatkan atas kejadian tersebut.

Sebagai hasilnya, “sejumlah besar petugas komite lingkungan datang mengumpulkan umpan-balik dari rumah ke rumah di komunitas kami,” tulis orang itu.

Laporan dari media pemerintahan komunis Tiongkok menguatkan informasi tersebut.

Sun Chunlan memerintahkan pejabat provinsi dan kota untuk “mendapatkan pemahaman situasi yang menyeluruh,” dan pertemuan diadakan antara pejabat lokal dan agen respon wabah sekitar empat jam kemudian, menurut Xinhua, kantor berita partai Komunis Tiongkok.

Dalam percakapan terpisah, seorang penghuni setempat menjelaskan bahwa semua pejabat dapat melihat “kepalsuan” selama tur inspeksi singkat yang mereka lakukan, sementara di dalam bangunan hunian, lorong-lorongnya “kotor dan berantakan.”

Banyak pengguna internet Tiongkok  memuji pertunjukan pembangkangan para penghuni itu.

“Ini adalah cara yang tidak konvensional untuk membela hak-hak anda selama wabah,” tulis seseorang di media sosial Tiongkok.

“Mengungkap ‘jubah baru kaisar’ di tempat,” kata orang yang lain.

Zhang, seorang wanita penduduk Wuhan, mengatakan bahwa Komunis Tiongkok memprioritaskan mempertahankan kekuasaannya di atas segalanya. Nama depan Zhang tidak disebut demi keselamatan Zhang.

“Yang paling menyedihkan hati saya adalah bahwa tindakan pengendalian wabah adalah murni bentuk penindasan. Tanpa kebebasan berbicara, dan tanpa membiarkan mayoritas rakyat tahu kebenaran, itu pada dasarnya membius orang dan memaksa orang untuk patuh,” kata Zhang kepada The Epoch Times.

 Pan, ayah dua anak di Wuhan, belum dapat meninggalkan apartemennya sejak ayahnya didiagnosis menderita virus corona dan pejabat setempat menyegel pintunya.

Karena kekurangan uang tunai, dan harga makanan melambung tinggi, Pan bertanya-tanya berapa lama ia mampu bertahan.

“Bahkan jika saya ingin mengemis makanan, saya tidak tahu ke mana harus pergi,” kata Pan.

Zhang mengatakan, pendekatan para pejabat yang tidak peka dalam mengendalikan Coronavirus adalah”bertentangan dengan sifat manusia.”

Zhang berkata : “Para pejabat tersebut lebih suka membiarkan orang mati kelaparan di rumah.”  (Vv/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular