- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Akibat Parahnya Wabah Corona, Iran Memperketat Kontrol Arus Informasi yang Sebenarnya

Li Yan – Epochtimes.com

Situs web Amerika Serikat, Axios melaporkan bahwa wabah virus corona yang menyerang pemerintah Iran, dan infeksi pada pejabat tingkat tertinggi Iran membuat masyarakat di negara itu khawatir informasi tentang epidemi yang tidak dapat diandalkan karena telah disaring. Di sisi lain, menutupi epidemi yang sebenarnya juga akan memperburuk situasi.

Saat ini, Iran telah menjadi pusat penyebaran virus corona terbesar di luar Tiongkok. Menurut data hingga Jumat 6 Maret 2020, kasus yang dikonfirmasi Iran adalah 4.747 kasus. 124 di antaranya meninggal. Tetapi para ahli khawatir bahwa angka yang sebenarnya jauh lebih tinggi. Apalagi kontrol informasi pemerintah dan upaya untuk “menstabilkan” situasi membuat harapan epidemi yang terkendali semakin tipis.

Diagnosis pertama kasus yang dikonfirmasi di negara itu adalah dua hari sebelum pemilihan kongres, pejabat senior Iran, termasuk Presiden Hassan Rouhani, bersikeras bahwa kehidupan sehari-hari akan segera normal kembali.

Belakangan, sebanyak 23 dari 290 anggota parlemen Iran dilaporkan positif mengidap virus corona, termasuk Wakil Presiden dan Wakil Menteri Kesehatan. 

Beberapa pejabat pemerintah Iran telah dinyatakan positif, yakni Mohammad Mirmohammadi, mantan duta besar Iran untuk Vatikan dan penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang merupakan pejabat senior pertama yang meninggal karena virus mematikan itu.

Ketika epidemi meningkat dan tekanan meningkat, pemerintah akhirnya mengambil tindakan. Salah satunya,  shalat Jumat dibatalkan di kota-kota besar. Itu merupakan kebijakan pertama negara tersebut sejak Revolusi Islam pada tahun 1979.

Sekolah ditutup setidaknya dua minggu, pertemuan publik juga dilarang, dan 54.000 tahanan dibebaskan untuk mencegah penyebaran virus di penjara.

Pemimpin tertinggi Khamenei menyatakan negara dalam keadaan perang. Sekitar 300.000 anggota milisi akan dikirim untuk tes virus dan desinfektan di tempat tinggal. Namun, para ahli memperingatkan bahwa itu hanya akan menyebarkan virus, bukan mengekangnya.

Namun, informasi terkait tetap dikontrol dengan ketat oleh otoritas Iran.  Mengutip dari pernyataan staf medis yang dihubungi oleh The New York Times mengungkapkan bahwa personel keamanan disiagakan di rumah sakit dan memperingatkan karyawan untuk tidak membahas masalah-masalah seperti pasokan peralatan medis yang tidak memadai atau korban jiwa.

Seorang dokter yang tinggal di Amerika Serikat mengatakan rekan-rekannya di Iran dipaksa untuk melaporkan secara keliru atas kasus-kasus yang diduga sebagai virus corona untuk mengurangi angka kematian.

Seorang ahli patologi dari Teheran mengatakan, “Dengan mengubahnya menjadi masalah keamanan nasional, mereka memberi tekanan lebih pada dokter dan tim medis, serta menciptakan lingkungan yang kacau dan menakutkan.”

Tidak ada yang tahu secara pasti dengan situasi wabah corona di Iran. Namun, menurut data yang dibocorkan kepada Washington Post oleh Rumah Sakit Teheran, ahli epidemiologi Ashleigh Tuite memperkirakan bahwa sekarang ada 28.000 diagnosis yang dikonfirmasi. Sementara menurut data yang bersumber dari masyarakat setempat, setidaknya ada 60.000 orang Iran terinfeksi virus ini. Meski perkiraan lainnya rendah, namun, jumlahnya masih jauh lebih tinggi dari angka resmi yang diumumkan pemerintah Iran.

“Yang paling penting adalah bahwa semakin pemerintah tidak berani melaporkan situasi yang sebenarnya kepada masyarakat, semakin besar pula penyebaran virus dan negara akan semakin lumpuh,” kata seorang dokter dari Khuzestan. (jon)

Video Rekomendasi :