oleh Wu Ying

Seorang profesor epidemiologi Harvard yang mengatakan bahwa masih banyak faktor tak menentu, yang mana akan memengaruhi redanya wabah pneumonia Wuhan yang kini disebut sebagai virus corona. Marc Lipsitch, seorang profesor dari Pusat Dinamika Penyakit Menular atau Center of Communicable Disease Dynamics -CCDD- Harvard T.H. Chan School of Public Health mengatakan : “Mungkin tidak.” Ia mengungkapkan dua macam kesalahpahaman banyak orang. 

Sejumlah orang mengharapkan aktivitas coronavirus melemah dengan adanya cuaca yang menjadi lebih panas dan lembab karena perubahan musim. Ditambah dengan liburan musim panas sekolah-sekolah. Bahkan mungkin membuat coronavirus  yang menimbulkan wabah COVID-19 menghilang. 

Seperti dikutip epochtimes.com pada 9 Maret 2020, profesor epidemiologi Harvard,  Marc Lipsitch mengatakan itu tidak rasional untuk menyimpulkan, bahwa aktivitas coronavirus tersebut akan mereda dikarenakan faktor itu semata.

Dua Kesalahpahaman  Sejumlah Orang

Pertama, orang-orang mengira wabah SARS yang terjadi pada tahun 2003 silam, mereda karena perubahan cuaca yang memanas. SARS bukan menghilang akibat faktor alam atau iklim. Ia mereda akibat intervensi kesehatan masyarakat yang kuat seperti tindakan mengisolasi pasien dan lokasi. Demikian tulis Marc Lipsitch dalam artikelnya yang dirilis Center of Communicable Disease Dynamics -CCDD.

Marc menunjukkan, langkah-langkah kesehatan masyarakat ini menghasilkan efek yang sangat positif dalam menekan wabah SARS. Salah satu alasannya adalah bahwa pasien dengan gejala SARS juga yang paling menular. 

Oleh karena itu, pencegahan penyebarannya dapat dicapai dengan mengisolasi pasien. Sesuai dengan situasi COVID-19 saat ini.  Ia mengatakan, sebagian besar negara juga memiliki kasus yang dikonfirmasi terinfeksi COVID-19 tanpa gejala tetapi menjadi penular virus.

Kesalahpahaman kedua adalah : Beberapa gejala pilek biasa yang disebabkan oleh COVID-19 itu bersifat musiman. Sedangkan musim panas bukanlah musim flu, jadi COVID-19 mungkin termasuk dalam jenis virus ini.

Marc Lipsitch mengatakan, beberapa orang bahkan menentukan bahwa COVID-19 ini memiliki frekuensi penularan yang serupa dengan perilaku coronavirus manusia yang sudah lama seperti OC43, HKU1, 229E, dan NL63. Ia mengatakan, penentuan kesimpulan tersebut masih terlalu dini. 

Marc Lipsitch berkata jika ingin membandingkannya dengan “coronavirus lama” itu, terutama dengan OC43 dan HKU1 yang lebih mirip dengan COVID-19, Marc Lipsitch menyarankan agar 4 faktor berikut dipertimbangkan terlebih dahulu.

Faktor pertama : Lingkungan

Di Amerika Serikat, suhu di luar rumah di musim dingin lebih rendah daripada suhu dalam ruangan. Sedangkan kelembaban udara juga lebih rendah atau kering. Eksperimen menunjukkan bahwa kelembaban absolut memiliki efek yang besar terhadap penyebaran influenza. Kelembaban udara yang rendah memberikan kesempatan kepada virus influenza untuk berkembang biak.

Namun demikian, Marc mengatakan bahwa sejauh yang ia ketahui, sampai saat ini penelitian hanya terbatas pada hubungan antara iklim dengan kelembaban yang menyebabkan virus influenza berkembang. Hingga kini belum ada penelitian seperti itu yang dilakukan untuk coronavirus atau virus pernapasan lainnya. 

Menurut penelitian sebelumnya, dapat dipastikan bahwa di negara-negara beriklim sedang seperti Amerika Serikat, udara dingin kering menciptakan kondisi yang baik untuk penyebaran influenza. Akan tetapi apakah COVID-19 juga memiliki karakteristik yang sama seperti itu, hingga kini masih belum diketahui. Selain itu, ia juga menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu yang sangat lembab, terutama di daerah tropis, juga mempermudah penyebaran virus influenza.

Marc mengatakan bahwa penelitian yang ia lakukan bersama mitra lainnya menemukan bahwa COVID-19 mungkin bersifat transmisif di banyak iklim yang berbeda, misalnya di Singapura. Yang mana terletak di dekat garis khatulistiwa, sejumlah besar kasus pneumonia Wuhan telah terjadi. Hingga per 8 Maret 2020 total 150 kasus. Karena itu, apakah faktor iklim dapat memengaruhi penyebaran COVID-19 ? Masih belum dapat dipastikan.

Faktor kedua : Perilaku manusia

Di musim dingin, aktivitas manusia di luar ruangan relatif lebih sedikit dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Ventilasi dalam ruangan relatif akan lebih buruk dan ruang untuk kegiatan pribadi relatif lebih terbatas. Sehingga meningkatkan kemungkinan penularan, terutama sekolah adalah tempat untuk penyebaran banyak penyakit.

Marc Lipsitch mengatakan, meskipun tidak kalah pentingnya menyesuaikan semester sekolah untuk mengatasi kemungkinan penularan COVID-19, tetapi masih tidak jelas apakah perlu karena kasus anak-anak terinfeksi masih sedikit. 

Ini bisa diartikan bahwa : 

Pertama, Anak-anak tidak mudah terinfeksi dan tidak mudah menjadi penyebaran yang luas, 

Kedua, mereka tidak menunjukkan gejala parah setelah terinfeksi dan masih memiliki kemampuan untuk menyebarkan. 

Ketiga, atau yang terletak di antara kedua kondisi tersebut. Jika Anda ingin mengetahui apakah penutupan sekolah atau liburan musim panas dapat membantu mengurangi penularan, Anda harus menganalisis ketidakpastian ini.

Faktor Ketiga : Sistem kekebalan tubuh inang

Marc mengatakan bahwa di musim dingin, kekebalan tubuh setiap orang umumnya dalam kondisi yang buruk. Ini mungkin terkait dengan melatonin, yang memiliki fungsi kekebalan tubuh. Produksi melatonin tubuh dipengaruhi oleh fotoperiode atau waktu terpapar oleh sinar matahari. Yang mana sinar itu lebih pendek memengaruhi mekanisme dimana otak menghasilkan melatonin. Sedangkan  fotoperiode berubah seiring perubahan musim.

Alasan lain adalah bahwa orang akan lebih banyak waktu di luar ruangan pada saat musim panas. Setelah menyerap lebih banyak vitamin D, itu dapat membantu untuk mengatur sistem kekebalan tubuh.

Namun demikian, menurut Marc, ada orang yang menemukan bahwa sistem kekebalan inang tidak mungkin menjadi faktor penting dalam kejadian influenza musim dingin. Sedangkan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan korelasi antara keduanya.

Faktor Keempat  : Berkurangnya Inang yang Mudah Terinfeksi

Bahkan meski tanpa faktor variasi musiman apapun, jumlah pasien terinfeksi pada tahap awal epidemi biasanya meningkat secara eksponensial atau jumlah reproduksi efektif (Reff >1) setelah melewati puncak (Reff =1) menjadi stabil, kemudian berkurang (Reff <1). 

Jika proses perubahan ini berinteraksi dengan faktor-faktor lain, misalnya, ketiga faktor yang disebutkan di atas, maka akan membentuk kambuhnya influenza atau epidemi lain di wilayah tertentu selama musim tertentu dalam setahun.

Infeksi Virus Baru Dapat Menunjukkan Situasi yang Menyimpang

Dari analisa-analisis di atas kita dapat memperoleh sebuah gambaran bahwa infeksi musiman baru juga dapat terjadi di waktu bukan musimnya. Virus baru ditandai oleh hanya sedikit orang atau tidak ada orang yang kebal terhadapnya. 

Sedangkan virus lama yang hidup lebih lama dari manusia. Bahkan dapat memiliki efek yang berkurang terhadap manusia.  Dikarenakan kebanyakan orang sudah memiliki kekebalan, karena itu virus hanya dapat mempengaruhi beberapa orang. Virus-virus lama ini hanya dapat memengaruhi manusia dalam kondisi yang paling menguntungkan mereka seperti musim dingin.Empat

Kesimpulan Marc Lipsitch

Akhirnya Marc menyimpulkan :

Pertama, Meskipun mekanisme penularan COVID-19 belum diketahui, tetapi ia mungkin lebih erat hubungannya dengan coronavirus lain dan memiliki tingkat penyebaran lebih tinggi atau efisien di musim dingin daripada di musim panas.

Kedua, Di musim Panas, mekanisme COVID-19 tidak mengalami perubahan secara signifikan, juga tidak akan menghentikan sendiri penyebarannya.

Ketiga, Dibandingkan dengan pandemi influenza, manusia memiliki kekebalan yang lebih rendah terhadap COVID-19, sehingga virus ini juga lebih mudah menyebar bahkan di musim selain musim dingin.

Keempat, Mengubah aktivitas musiman dan liburan sekolah yang lebih panjang dapat membantu mengurangi resiko terinfeksi virus baru. Akan tetapi tidak mungkin menghentikan penyebaran COVID-19. Hal yang lebih mendesak untuk ditentukan adalah apakah anak-anak merupakan mediator penyebaran virus.  Jika memang demikian, menangguhkan kegiatan sekolah dapat membantu memperlambat penularan. Jika tidak, itu hanya membuang sumber daya secara sia-sia. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular