Tom Ozimek 

Arab Saudi menembakkan salvo pertama dalam perang harga minyak, memangkas harga minyak mentah setelah pakta pasokan OPEC dengan Rusia runtuh pada tanggal 6 Maret karena keputusan yang sengit dan pahit.

Aramco, raksasa minyak negara Arab Saudi, mengatakan dalam sebuah pernyataan tanggal 7 Maret bahwa pihaknya sedang mengurangi harga jual resmi semua minyak mentahnya untuk bulan April ke semua tujuan, diskon hampir 20 persen di pasar utama, diskon sedemikian besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Langkah ini merupakan tawaran terbuka untuk merebut pangsa pasar minyak dari Moskow, para pejabat Arab Saudi mengatakan kepada The Wall Street Journal, setelah pembicaraan antara Rusia dengan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) gagal menyetujui pengurangan produksi di tengah jatuhnya permintaan minyak akibat wabah virus corona baru.

“Sudah waktunya untuk pertumpahan darah kuno yang baik, di mana Rusia layak dipersalahkan,” kata Matt Reed, wakil presiden Foreign Reports, konsultasi energi, menurut Foreign Policy.

Sementara harga minyak yang lebih murah akan diterjemahkan menjadi energi yang lebih terjangkau bagi konsumen dan bisnis.  Namun demikian, hal tersebut merugikan negara dan perusahaan penghasil minyak.

Mengutip keterangan pejabat Arab Saudi dan delegasi OPEC, The Wall Street Journal melaporkan bahwa selain memangkas harga minyak, Kerajaan Arab Saudi juga berencana meningkatkan produksi minyaknya menjadi sekitar 10 juta barel per hari, yang mana akan semakin menekan harga minyak. 

Setelah OPEC dan Rusia gagal menyetujui pengurangan pasokan minyak pada tanggal 6 Maret 2020, harga minyak anjlok kira-kira 10 persen di pasar internasional, penurunan terbesar sejak krisis keuangan global pada tahun 2008.

Ladang minyak Amerika Serikat telah kehilangan ribuan pekerjaan dan menderita gelombang kebangkrutan, dan harga yang lebih rendah akan memperburuk masalah itu.

Sementara itu, semua pasar utama di Timur Tengah anjlok pada tanggal 8 Maret karena investor menimbang dampak perang harga habis-habisan.

Mohammed Ali Yasin, pejabat kepala strategi di Al Dhabi Capital Ltd., dalam sambutannya kepada Bloomberg mengatakan, Pasar “merasa sulit untuk mengatasi semua variabel yang telah ada terjadi selama 10 hari terakhir. Itu sebabnya kita melihat kepanikan dalam menjual minyak yang terjadi di seluruh dunia membawa pasar tertentu ke posisi terendah yang bahkan tidak terlihat selama krisis keuangan. ” 

‘Keputusan yang Menyakitkan’

Penyebaran virus corona baru secara tajam mengurangi perjalanan udara sehingga terjadi penurunan permintaan bahan bakar, sementara industri di Tiongkok, terbesar kedua di dunia ekonomi, sangat terganggu akibat karantina dan pembatasan perjalanan.

Untuk mengatasi penurunan permintaan minyak, OPEC dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sebelumnya menyetujui pengurangan produksi minyak untuk mendukung harga minyak dan dalam negosiasi untuk memperpanjang pengurangan produksi minyak.

Pada 5 Maret, ke-14 negara OPEC sepakat untuk memangkas produksi sebesar 1,5 juta barel sehari, atau sekitar 1,5 persen produksi dunia. Tetapi OPEC tidak dapat mengatasi perlawanan Rusia.

Rusia dapat mentolerir harga minyak yang rendah lebih baik daripada yang dapat ditolerir oleh Arab Saudi. Tampaknya Rusia enggan memangkas output dari ekspor minyaknya yang merupakan penghasil pendapatan utama Rusia.

Sementara Arab Saudi dapat memproduksi minyak dengan harga murah, Arab Saudi membutuhkan  83,60 dolar AS per barel menyeimbangkan anggaran negara Arab Saudi, menurut Dana Moneter Internasional.  Dikarenakan Arab Saudi hampir secara eksklusif bergantung pada pendapatan minyak. Rusia hanya membutuhkan  42,40 dolar AS per barel.

Sekretaris Jenderal OPEC Mohammed Barkindo dari Nigeria mengatakan pada tanggal 6 Maret bahwa pertemuan itu ditunda dalam apa yang disebutnya sebagai “keputusan yang menyakitkan.”

Mohammed Barkindo mengatakan, pada akhirnya, ada keputusan konferensi bersama yang menyakitkan secara umum untuk menunda pertemuan. Ia mengatakan pembicaraan informal akan terus berlanjut karena situasinya mendesak.

“Jumlahnya adalah jelas: Penghancuran permintaan itu adalah nyata,” kata Mohammed Barkindo. (Vv/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular