Bowen Xiao

Rezim Komunis Tiongkok meningkatkan upaya propagandanya ke seluruh dunia. Langkah itu, tak lain untuk mengendalikan narasi seputar  Coronavirus baru — dengan menolak kritik dan menunjukkan Beijing menangani wabah Coronavirus secara efektif.

Propaganda rezim Tiongkok melalui beberapa fase: Pertama, mengabaikan tingkat keparahan wabah Coronavirus, kemudian menciptakan cakupan citra positif, dan kini, menyalahkan Amerika Serikat.

Dokumen internal pemerintah yang diperoleh The Epoch Times, menyoroti bagaimana rezim Tiongkok mengacaukan pelacakan data dan menyensor diskusi mengenai wabah Coronavirus, sehingga memicu penyebaran Coronavirus.

Pihak berwenang komunis tingkat tinggi mendorong beberapa poin pembicaraan untuk mengelak dari kesalahan, mencakup asal-usul Coronavirus yang tidak jelas dan mungkin berasal dari Amerika Serikat — sebuah konspirasi yang baru-baru ini didorong oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian.

Coronavirus pertama kali muncul di pusat kota Wuhan di Tiongkok pada bulan Desember 2019.

Zhao Lijian menulis di Twitter pada tanggal 12 Maret, “Kapan mulai ada pasien Coronavirus pertama di Amerika Serikat? Berapa banyak orang yang terinfeksi? Apa nama-nama rumah sakit itu? Mungkin tentara Amerika Serikat [sic] yang membawa epidemi Coronavirus ke Wuhan. Jadilah transparan! Publikasikan data anda! Amerika Serikat berutang penjelasan pada Tiongkok!” Posting tersebut dibagikan oleh sejumlah akun Kedutaan Besar Tiongkok, termasuk Kedutaan Besar Tiongkok di Chad, Pakistan, dan Kamerun.

Sebuah artikel opini bulan Februari oleh Global Times yang dikelola pemerintahan komunis  Tiongkok mengklaim bahwa “sejauh ini, bahkan dunia ilmiah tidak memiliki kesimpulan dari mana Coronavirus itu berasal.”

Beijing juga mendorong narasi bahwa upaya Beijing untuk mengendalikan Coronavirus memberi waktu kepada masyarakat internasional untuk bersiap menghadapi wabah tersebut, di mana  akun Kementerian Luar Negeri Tiongkok yang resmi di Twitter menulis bahwa “upaya Tiongkok untuk memerangi epidemi Coronavirus memberi waktu kepada masyarakat internasional untuk bersiap menghadapi wabah tersebut. Tampak kontribusi Tiongkok untuk dilihat semua orang.”

Hal tersebut digaungkan oleh seorang ekonom Harvard yang mengatakan dalam sebuah wawancara pada tanggal 9 Maret lalu pada program Marketplace NPR bahwa “Tiongkok benar-benar melakukan pekerjaan yang hebat dalam memberi kita waktu untuk bersiap.”

Kisah-kisah mengenai kemampuan Tiongkok dalam mengendalikan Coronavirus didorong oleh media pemerintah Tiongkok pada saat yang sama Beijing menuduh Amerika Serikat telah menakut-nakuti seputar wabah Tiongkok.

Penulis dan pakar Tiongkok Gordon Chang mengatakan kepada The Epoch Times: “Sudah ada kampanye yang berulang-ulang dan tanpa henti melawan Amerika Serikat, dan hal tersebut adalah jahat, tidak bertanggung jawab, salah, dan tentu saja, berbahaya. Seluruh gagasan bahwa Tiongkok bermanfaat untuk membantu dunia adalah sesat dan memang berbahaya.”

Gordon Chang mengatakan Beijing mendukung narasi ini karena epidemi telah menjadi krisis “eksistensial” untuk aturan Komunis Tiongkok.”Karena rakyat Tiongkok gerah, marah, mereka menuntut perubahan politik yang mendasar, maka Tiongkok perlu mengubah subjek untuk menunjukkan… bahwa Partai Komunis Tiongkok memimpin pertahanan.”

Gordon Chang percaya jauh lebih banyak materi propaganda akan diterbitkan di hari-hari mendatang.

“Beijing akan mengejar materi propaganda tanpa henti karena menganggap materi propaganda adalah penting untuk kelangsungan hidupnya. Amerika Serikat memiliki sekutu, yang adalah rakyat Tiongkok, dan kita tidak boleh lupa bahwa musuh kita adalah rezim Tiongkok,” kata Gordon Chang.

Beijing juga menuduh Amerika Serikat menciptakan kepanikan dengan menerapkan pembatasan wisatawan dari Tiongkok.

Dr. Anthony Fauci, Kepala Institut Alergi dan Penyakit Infeksi Nasional di Institut Kesehatan Nasional, mengatakan bahwa larangan perjalanan membuat perbedaan dalam memerangi penyebaran Coronavirus di Amerika Serikat.

Narasi permainan menyalahkan Amerika Serikat adalah semakin meningkat dan tampaknya menjadi salah satu poin pembicaraan yang lebih efektif, bukan hanya untuk negara di luar Tiongkok, tetapi untuk rakyat di dalam negeri Tiongkok, menurut Sarah Cook, analis penelitian senior untuk Tiongkok, Hong Kong, dan Taiwan di Freedom House, sebuah  kelompok hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat.

“Sepertinya Tiongkok mungkin menemukan menyalahkan Amerika secara tidak sengaja, karena beragam teori konspirasi sepanjang jalur ini mulai beredar di media sosial, kemudian pejabat Tiongkok membonceng di atas teori konspirasi itu dan memperkuat narasi setelah ditemukan bahwa hal itu benar-benar meyakinkan orang,” kata Sarah Cook kepada The Epoch Times melalui email.

Sarah Cook mengatakan bahwa “narasi anti-Amerika Serikat” telah menggema di banyak kalangan Tiongkok, sampai taraf tertentu “berhasil dalam memfokuskan kembali amarah dan frustrasi menjauh dari Partai Komunis Tiongkok.” 

Sarah Cook mengatakan narasi tersebut “secara halus dipicu oleh pernyataan resmi, laporan media pemerintah Tiongkok, dan tidak adanya sensor untuk posting yang mengalihkan kesalahan ke Amerika Serikat.”

 Li Wenliang, salah satu dari delapan whistleblower yang pertama kali mempublikasikan informasi mengenai Coronavirus, yang kemudian meninggal dunia akibat terinfeksi Coronavirus pada bulan Februari 2020. Ia  ditegur oleh pihak berwenang Komunis Tiongkok karena memposting informasi mengenai Coronavirus.

Pejabat Wuhan mengatakan pada tanggal 1 Januari 2020, bahwa pihaknya mengambil “tindakan hukum” terhadap delapan orang, termasuk Li Wenliang, yang “menyebarkan desas-desus” mengenai Coronavirus. Yang mana, “menyebabkan dampak buruk terhadap  masyarakat” menurut sebuah pernyataan yang diposting di Weibo, seperti platform Twitter Tiongkok.

Saat berita ini dilaporkan, di Amerika Serikat, lebih dari 11.810 orang tertular Coronavirus dan setidaknya 179 orang meninggal dunia. Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat belum menanggapi permintaan komentar oleh The Epoch Times. (Vv)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular