James Gorrie

Sama halnya Amerika Serikat menghadapi pandemi Coronavirus, kita harus belajar dari pengalaman Taiwan dan Italia. 

Pada awal wabah Corona, sementara Wuhan dirusak oleh virus komunis Tiongkok yang dikenal dengan Coronavirus, para ahli epidemiologi memperkirakan bahwa Taiwan berisiko tinggi untuk menjadi hotspot berikutnya di luar Tiongkok, tak lain untuk penularan Coronavirus yang mematikan.

Itu adalah kesimpulan yang sepenuhnya masuk akal. Letak Taiwan yang dekat dengan Tiongkok dan hubungan ekonomi Taiwan yang mendalam dengan Tiongkok, itu adalah skenario yang sempurna untuk menginfeksi populasi Taiwan. 

Terlebih lagi, ratusan ribu orang Taiwan yang bekerja di Tiongkok. Mereka bepergian bolak-balik antara Taiwan dengan Tiongkok Daratan, infeksi yang tersebar luas adalah sulit dihindari.

Tetapi epidemi tidak pernah terjadi di Taiwan.

Pada tanggal 14 Maret, angka infeksi Coronavirus di Taiwan adalah sangat rendah. Dengan populasi sebesar 23,78 juta, jumlah total kasus infeksi Coronavirus di Taiwan tampaknya telah stabil yaitu hanya 53 kasus. Bahkan yang lebih mengesankan adalah bahwa dari 53 kasus infeksi Coronavirus di Taiwan, hanya satu kasus kematian dilaporkan. Selanjutnya, 20 orang telah dibebaskan dari karantina dan sisanya dilaporkan dalam kondisi stabil, meskipun tetap diisolasi di rumah sakit.

Perbedaan Besar dalam Hasil

Sebaliknya, statistik Italia adalah mengerikan, meskipun lebih jauh 4.700 mil dari Tiongkok. Dengan populasi 65.550.000 jiwa, yaitu 2,78 kali lipat populasi Taiwan, Italia adalah negara yang terparah dilanda Corona di Eropa, di mana angka kematian akibat Coronavirus adalah mengejutkan.

Dalam 24 jam terakhir saja, Italia melaporkan 368 kasus kematian akibat jenis Coronavirus baru, dari lebih dari 24.700 kasus dan total ada 1.809 kasus kematian dan terus bertambah. 

Angka kasus infeksi Coronavirus di Italia adalah 474 kali dari Taiwan. Angka kematian Italia akibat Coronavirus adalah 1.809 kali lebih tinggi dari Taiwan. Namun, Taiwan dan Italia memiliki hubungan ekonomi yang bermakna, bahkan luas dengan Tiongkok.

Perbedaan hasil antara Italia dengan Taiwan adalah sangat mencolok dan kritis untuk dipahami.

Berpikir Rasional Adalah Garis Pertahanan Pertama

Begitu Taiwan memahami bahwa epidemi baru hadir di Tiongkok, Taiwan bertindak cepat dan tegas di beberapa bidang pada saat yang sama. Oleh karena itu, memutuskan mempekerjakan proses berpikir rasional, adalah garis pertahanan pertama Taiwan.

Keputusan logis pemerintah Taiwan untuk bertindak cepat dan berani adalah hanya dimungkinkan, karena Taiwan tidak terbebani dengan stigma dan dampak politik ketepatan. 

Tidak seperti pemerintah di Barat, Taiwan selain berpengalaman menangani Coronavirus baru-baru ini dan virus yang ditularkan melalui Tiongkok selama epidemi SARS pada tahun 2002-2003, Taiwan juga berurusan dengan  Tiongkok secara umum.

Taiwan juga tidak harus berurusan dengan pengkhianatan yang datang dari perpecahan politik dari dalam. 

Semua pihak berwenang Taiwan sangat sadar rekam jejak komunis Tiongkok yang membengkokkan kebenaran — atau menyembunyikan kebenaran rapat-rapat — mengenai fakta kapan, di mana dan bagaimana epidemi SARS dimulai, faktor risikonya dan data penting lainnya. Dengan kata lain, kali ini, tidak ada orang waras di Taipei yang percaya sepatah kata pun yang dikatakan Beijing mengenai virus Wuhan.

Dan, sekali lagi, tidak seperti banyak pemerintah barat, orang Taiwan tidak takut menyakiti perasaan Komunis Tiongkok. Mungkin hal tersebut dikarenakan Komunis Tiongkok berulang kali memblokir pendaftaran keanggotaan Taiwan untuk bergabung dengan Organisasi Kesehatan Dunia, suatu langkah yang tentu saja memangkas  kredibilitas Organisasi Kesehatan Dunia maupun Beijing. Tetapi ancaman abadi Komunis Tiongkok untuk menyerang Taiwan mungkin juga ada hubungannya dengan pengabaian Taiwan terhadap Komunis Tiongkok, sehingga Taiwan telah menyinggung kepekaan Beijing.

Kendali Perbatasan dan Karantina yang Masuk Akal

Itulah sebabnya Taiwan segera mengambil kendali ketat atas perbatasan Taiwan, menghentikan semua perjalanan ke dan dari Tiongkok. Bertentangan dengan ilmiah dan penasihat epidemi di Amerika Serikat, Taiwan entah bagaimana alasan tidak mengizinkan lebih banyak orang yang berpotensi terinfeksi dari negara tuan rumah Coronavirus tidak membuat kita kurang aman.

Sebaliknya, pihak berwenang Taiwan menganggap bahwa pembatasan seperti itu akan mengurangi kemungkinan Coronavirus menyebar ke seluruh populasi Taiwan. Memang demikian adanya.

Langkah selanjutnya yang diambil secara bersamaan adalah melakukan karantina selama dua minggu untuk semua orang yang baru saja memasuki Taiwan. 

Ini dilakukan melalui polisi yang memantau telepon pintar wisatawan untuk membuktikan kepatuhannya terhadap karantina atau isolasi diri. Teknologi canggih ini, mungkin tidak didapatkan di semua negara, tentunya teknologi canggih ini menguasai hotel dan fasilitas lain untuk menegakkan isolasi para wisatawan yang bepergian.

Menyimpan Pasokan Medis di Dalam Negeri

Langkah strategis lain yang dibuat Taiwan adalah melarang ekspor pasokan medis yang penting, khususnya masker medis anti-virus. Lagi-lagi beberapa ahli di Amerika Serikat mengatakan bahwa orang sehat tidak membutuhkan masker.

Namun, orang Taiwan memastikan bahwa mereka memiliki cukup persediaan. Kalau tidak, bagaimana orang tahu ia tidak menghirup virus dari pembawa Coronavirus yang tidak bergejala dan tidak mengenakan masker?

Satu hal yang jelas di sini adalah amat sangat bodoh bagi negara mana pun untuk mengizinkan dan mengandalkan negara musuh untuk pasokan medis kritis dan obat-obatan bagi negara tersebut. Hal ini belum terjadi pada Taiwan, namun sudah terjadi pada Amerika Serikat.

Tidak Ada Karantina?

Yang cukup menarik, Taiwan tidak mengikuti pengujian massal yang terjadi di tempat lain. Taiwan sama sekali tidak menguji orang dalam jumlah besar.

Sejauh ini, Taiwan hanya memeriksa atau menyaring sekitar 800 orang per hari. Apalagi, tidak semua orang yang dikarantina atau mengisolasi diri sendiri diuji apakah terinfeksi Coronavirus.

Taiwan juga tidak me-lockdown seluruh Taiwan. Ajaibnya, toko, kafe dan tempat umum lainnya tetap dibuka untuk bisnis. Pelanggan diperiksa untuk mendeteksi ada tidaknya demam dan kedua tangannya disemprot dengan pembersih sebelum masuk ke toko, kafe dan tempat umum lainnya, dan dipastikan tidak ada kemandekan sosial dan ekonomi yang kita lihat terjadi di Barat.

Sejauh ini, protokol  Taiwan tampaknya berfungsi, seperti halnya ekonomi Taiwan.

Mampukah negara lain menerapkannya secara efektif?

Adalah sulit dikatakan. Sebagaimana dicatat, tidak setiap negara memiliki kapasitas untuk memanfaatkan telepon pintar dalam menegakkan karantina. 

Ditambah lagi, banyak negara yang geografi dan populasinya jauh lebih besar, serta jauh lebih beragam daripada Taiwan, membuat banyak negara tersebut lebih sulit untuk bertindak secara terpadu dan terkoordinasi di tingkat nasional. 

Tetapi mungkin saja masuk akal untuk menerapkan protokol Taiwan di tingkat negara bagian atau provinsi.

Apakah di Taiwan sudah tidak ada pandemi?

Mungkin tidak.

Penularan masyarakat kemungkinan akan berlanjut pada tingkat tertentu. Tetapi mengingat keberhasilan Taiwan dalam menatalaksana wabah, dalam waktu dekat terlihat lebih cerah dan lebih sehat daripada Italia, serta rakyat negara lain. 

James Gorrie Adalah Penulis Buku The China Crisis

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular