Sun Jiatong, wakil direktur Biro Urusan Sipil Kota Wuhan yang mengelola urusan pemakaman mengatakan, bahwa dalam 47 hari sejak lockdown kota Wuhan hingga 10 Maret, krematorium di Wuhan telah mengkremasi sebanyak 21.703 jenazah, yang berarti rata-rata 462 jenazah dikremasi setiap hari.

Angka tersebut 8 kali lebih tinggi dari angka resmi, meskipun mungkin masih lebih rendah dari angka yang sebenarnya.

Dunia luar percaya bahwa jumlah korban jiwa akibat virus di Wuhan sesungguhnya jauh lebih tinggi dari angka-angka tersebut.  Bila itu dikaitkan dengan serangkaian fenomena yang terjadi pada saat itu, seperti tungku pembakaran jenazah yang beroperasi selama 24 jam sehari, mental karyawan bagian krematorium runtuh karena terlalu letih. Terjadi krisis persediaan kantong jenazah, krisis persediaan pakaian pelindung dan sebagainya.

Epoch Times melalui kunjungan rahasia mengetahui bahwa hanya satu hari pada 3 Februari itu, jumlah jenazah terinfeksi virus komunis Tiongkok yang dikremasi di 2 krematorium di Hubei sudah mencapai 341, yakni 4 hingga  5 kali jumlah kremasi yang dilakukan pada hari-hari sebelum pandemi. 

Menurut laporan media ‘Southern Weekly’ bahwa mulai sekitar 20 Januari, hanya Rumah Duka Hankou yang ditunjuk untuk menerima jenazah pasien terinfeksi virus komunis Tiongkok.

Namun, karena jumlah kematian meningkat tajam, maka pihak berwenang mengeluarkan “Pedoman” pada 1 Februari 2020. Pedoman itu  mensyaratkan bahwa jenazah pneumonia Wuhan harus langsung dikremasi di tempat terdekat. Sedangkan cara penguburan atau pelestarian jenazah lainnya tidak diperkenankan, juga tidak boleh dipindahkan ke tempat lain.

Tanpa Ditemani Staf dari Unit atau Komunitas, Warga Tidak Bisa Mengambil Kotak Abu Jenazah 

Keluarga mendiang pada 23 Maret, memposting di WeChat berita bahwa keluarga mendiang sekarang harus ditemani oleh staf dari unit atau komunitas, di mana ia tinggal jika ingin mengambil kotak abu jenazah, yang mana akan diatur oleh pihak  berwenang agar waktu pemakaman tidak terjadi berbarengan.

Anggota keluarga itu dengan emosi bertanya kepada pihak berwenang : Apa yang kalian takutkan ? Apa yang kalian khawatirkan ? Sehingga mengatur pertemuan satu per satu, menggunakan berbagai metode, termasuk polisi juga ikut berbicara melalui sambungan telepon. Kalian takut keluarga korban akan datang bersama-sama untuk mengejar kalian ? Bencana manusia ini telah dibuat penjahat, penjahat yang pembunuh.

Ada juga anggota keluarga yang menceritakan pengalaman pribadinya ketika di Rumah Duka Hankou.  Ia melihat polisi berbaju preman berada di mana-mana, begitu telepon diangkat, ada orang yang akan datang mendekat untuk melarang berbicara, melarang keluarga menangis atau bersedih.

Share

Video Popular