Sebagai upaya pencegahan terhadap penyebaran virus komunis Tiongkok, Belanda mengimpor sejumlah besar masker dari daratan Tiongkok. Akan tetapi hampir setengahnya tidak lolos uji. Kementerian Kesehatan Belanda baru-baru ini mengumumkan penarikan kembali 600.000 masker buatan Tiongkok yang telah dibagikan kepada rumah-rumah sakit. Dikarenakan  tidak memenuhi standar kualitas

Epochtimes.com

Radio France Internationale melaporkan bahwa masker buatan Tiongkok berlabel KN95 yang dilengkapi dengan sertifikat pemeriksaan mutu, tiba di Belanda pada 21 Maret dalam jumlah  1,3 juta lembar.

Segera setelah itu, Kementerian Kesehatan Belanda menerima peringatan mengenai masker tersebut tidak memenuhi standar inspeksi. Pihak berwenang menunjukkan bahwa masalah dengan masker adalah tidak dapat menutupi bagian dari wajah dengan sempurna, atau  membran yang menangkap partikel virus tidak berfungsi dengan baik. Namun, 600.000 masker ini telah diserahkan kepada rumah sakit. Sehingga pihak berwenang memutuskan untuk segera menarik kembali bagian yang tersisa untuk proses pengembaliannya.

Menurut laporan media Belanda ‘NOS’, dari 1,3 juta masker FFP2 (FFP2 adalah spesifikasi masker bersertifikasi Uni Eropa, setara dengan N95 yang mampu menyaring 95% partikel. Sebanyak  600.000 lembar masker tersebut ditarik, karena dapat membahayakan kesehatan para tenaga medis yang memakainya saat merawat pasien pneumonia Wuhan.

Kementerian Kesehatan, Kesejahteraan dan Olahraga Belanda -VWS- memberikan konfirmasi. Kementerian itu mengatakan bahwa pengiriman masker tahap pertama dari pabrikan Tiongkok sudah diterima minggu lalu. Masker tersebut memiliki sertifikat KN95 atau standar sertifikasi Tiongkok yang setara dengan masker N95. Namun, VWS menemukan bahwa masker Tiongkok tersebut tidak memenuhi standar selama proses pemeriksaan. Sehingga segera menghentikan pendistribusiannya ke rumah-rumah sakit. Kemudian mulai melakukan penarikan kembali.

Seorang petugas rumah sakit yang menerima masker tidak memenuhi standar itu mengatakan : “Ketika masker dikirim ke rumah sakit kami, saya langsung menolaknya”. 

Dia mengungkapkan bahwa masker tidak dapat dipasang dengan benar, yang mana dapat menyebabkan partikel virus lewat dengan mudah. Ia berkata : “Kita tidak akan memakainya, ini jelas tidak aman untuk kita”.

Seseorang yang akrab dengan masalah ini mengungkapkan bahwa kualitas masker Tiongkok tidak memenuhi syarat, selain tidak memenuhi standar FFP2, bahkan FFP1 pun tidak memenuhi. Paling-paling hanya FFP 0.8. Seorang juru bicara rumah sakit yang berafiliasi dengan Universitas Nijmegen di Belanda menunjukkan bahwa rumah sakit menerima 2.400 masker. Tetapi mereka menyimpannya dan belum digunakan, terutama karena alasan masker tersebut tidak dapat secara sempurna menutupi bagian dari wajah.

Seorang juru bicara Rumah Sakit Katrina di Eindhoven juga mengatakan bahwa kiriman masker  langsung mereka tolak.

Pejabat Kementerian Kesehatan Belanda mengatakan, hasil pemeriksaan kedua menunjukkan bahwa masker tidak memenuhi standar kualitas. Pemerintah Belanda sekarang telah memutuskan untuk membuang semua masker yang dikirim. Setelah kedatangan masker lain yang dipesan dari Tiongkok, pemeriksaan kualitas akan memberlakukan pemeriksaan yang lebih ketat.

Banyak rumah sakit Belanda secara sukarela meminta TNO, sebuah lembaga penelitian independen untuk menguji masker buatan Tiongkok. Namun, pihak berwenang Belanda menyatakan bahwa karena sebagaimana dikondisikan dalam kontrak, TNO tidak diizinkan untuk memberikan penilaian terhadap hasil tes yang relevan.

Karena situasi epidemi yang tidak dilaporkan secara jujur,  pelaksanaan pencegahan dan kontrol yang tidak sempurna terhadap virus komunis Tiongkok, sehingga virus menyebar dengan cepat dari Wuhan ke seluruh negeri. 

Pada bulan Januari ketika virus mulai menyebar, masker medis dengan cepat menjadi salah satu komoditas yang paling dicari karena fungsi perlindungannya. Banyak negara menyumbangkan bahan kebutuhan medis  ke Tiongkok. Sedangkan banyak grup Tionghoa di luar negeri demi membantu Tiongkok mengatasi bencana ini, kemudian “memborong” habis masker-masker yang beredar di pasar untuk dikirim ke daratan Tiongkok.

Namun setelah virus komunis Tiongkok menyebar ke seluruh dunia, karena alasan yang disebutkan di atas, ditambah dengan faktor-faktor seperti output harian yang terbatas sehingga hampir di seluruh dunia mengalami krisis masker.

Pada saat ini, komunis Tiongkok justru berusaha untuk mengubah diri dari negara pengekspor virus menjadi negara “penyelamat dunia”. Mereka menggelar sandiwara yang disebut diplomasi masker. Namun dihadapkan pada situasi mukanya sendiri yang tertampar gegara ‘Made in China’ yang kualitasnya buruk.

Tidak hanya kualitas masker buatan Tiongkok yang buruk, baru-baru ini para ahli Ceko juga mengungkapkan bahwa 150.000 kotak uji cepat COVID-19 sumbangan komunis Tiongkok memiliki tingkat kesalahan yang tingginya mencapai 80%. Karena itu, Republik Ceko akhirnya memutuskan untuk menggunakan metode pengujian laboratorium tradisional yang lebih dapat diandalkan. Sejak itu, Spanyol juga mengumumkan bahwa 340.000 kotak uji cepat yang dibeli dari komunis Tiongkok tidak dapat digunakan karena terbukti sensitivitasnya hanya 30%. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular