Gu Xiaohua- Epochtimes.com

Hubei yang di-lockdown selama dua bulan karena wabah virus Komunis Tiongkok, baru-baru ini kembali dibuka secara bertahap. Namun, warga dari luar provinsi belum mencabut pencegahan terhadap wabah yang marak di provinsi Hubei. Pada tanggal 27 Maret, terjadi bentrokan sengit antara polisi dari provinsi Hubei dan provinsi Jiangxi.

Sejumlah besar bala bantuan polisi dikerahkan ke lokasi. Pada saat yang sama, ribuan penduduk Hubei di kabupaten dan kota sekitar juga ikut bergabung dalam bentrokan itu, sejumlah mobil polisi khusus dari Jiujiang dijungkirbalikkan.

Sebagian besar kota di Provinsi Hubei baru-baru ini kembali dibuka seperti biasa. Menurut ketentuan dari pusat,  untuk memulihan aktivitas sehari-hari dan produksi, warga dapat meninggalkan provinsi dengan “Kode Hijau” dari Kode Kesehatan provinsi Hubei.

Kabupaten Huangmei, Kota Huanggang terletak di perbatasan Provinsi Hubei, tepat di seberang Sungai Yangtze Kota Jiujiang, Provinsi Jiangxi. Karena tidak ada stasiun kereta api di Huangmei, jika penduduk setempat ingin pergi kembali bekerja, mereka harus melewati Jembatan Sungai Yangtze menuju ke Stasiun Kereta Jiujiang untuk naik kereta.

Tetapi pihak Hubei mengatakan bahwa setelah pos pemeriksaan lalu lintas dicabut pada dini hari di Kabupaten Huangmei, polisi di Kota Jiujiang mengalihkan pos pemeriksaan di jembatan ke Kabupaten Huangmei. Polisi  mengusir kendaraan maupun orang-orang yang lewat, menimbulkan pertanyaan “penegakan hukum antar provinsi”. 

Tak lama kemudian bentrokan terjadi di jembatan antara polisi dari dua provinsi, polisi Huang Mei dihajar dan dibawa ke mobil polisi. Hal ini memicu protes orang-orang dari provinsi Hubei, tak lama kemudian, ribuan orang melakukan demonstrasi karenanya. Video itu menunjukkan beberapa mobil polisi dijungkirbalikkan di atas jembatan itu.

Xu, seorang warga dari Kota Xiaochi, Kabupaten Huangmei mengatakan  bahwa insiden itu sudah dimulai sejak kemarin malam 26 Maret.

Xu menuturkan, polisi khusus dari Jiujiang memang sudah siap sedia dengan rencananya, sementara polisi dari Hubei tidak sempat mengantipasinya. Ada beberapa polisi yang berusaha menjelaskan kepada  Polisi Jiujiang, tetapi mereka tidak menggubrisnya. Kemudian pihak dari Hubei juga mengirim banyak petugas polisi khusus. Awalnya ada sekitar empat atau lima puluh polisi, kemudian lebih banyak lagi yang datang menyusul pada sore hari. Sementara polisi dari pihak Jiujiang juga tidak sedikit personelnya. 

Menurut Xu, banyak penumpang dari Hubei yang berangkat kerja di luar daerah dengan menumpangi kereta api, tetapi setelah mendengar hal itu, Xu seketika menjadi geram dan secara spontan datang ke  Jembatan Sungai Yangtze. Ada lebih dari 10.000 orang yang ikut bergabung.

Sepenggal video menunjukkan, massa Hubei berteriak, “Hidup Hubei….Hidup Hubei…”  sambil menerjang ke sisi lain jembatan.

Dalam sebuah wawancara, Xu  kembali dari tempat kejadian. 

“Barusan saya melihat ada dua kelompok lagi yang ke lokasi, sekitar 20-30 orang, semuanya warga biasa. Saya berjalan mengikuti dari belakang sampai kaki saya basah berkeringat, kemudian kembali lagi,” kata Xu. 

Xu menuturkan ada tim Inspeksi Pusat dari provinsi Hubei, Departemen Keamanan Publik Provinsi, Gubernur, Walikota Kota Huanggang, dan Walikota Kabupaten Huangmei semuanya berada di lokasi. Mereka semua sedang bertugas.

Video langsung itu menunjukkan, walikota dan pejabat lainnya dari Kabupaten Huangmei, provinsi Hubei, telah tiba di tempat kejadian dan mencoba membujuk massa yang marah. Sementara itu, dari pihak provinsi Jiangxi mengirim polisi khusus untuk memblokir Jembatan Sungai Yangtze.

Seorang warga yang berada di sekitar tempat kejadian di Jiujiang menuturkan versi yang tidak sama kepada tim media the Epoch Times, “Di sisi sana sepertinya bukan polisi  Hubei . Mereka mencegat mobil di bawah agar tidak menuju ke atas jembatan. Empat personel polisi Jiujiang yang terjun ke lokasi kejadian untuk menyelidiki insiden itu luka-luka dihajar pihak lawan. 

Dia mengatakan bahwa Jiujiang menyediakan bus gratis untuk antar-jemput orang-orang Hubei ke dan dari stasiun kereta api. Pada hari itu, lebih dari seribu orang di antar jemput, tetapi dia tidak tahu penyebab konflik itu, mungkin merupakan tindakan pribadi.

Laporan polisi Jiangxi yang diperoleh Radio Free Asia menyebutkan bahwa setidaknya lima polisi dari Jiangxi dan polisi tambahan terluka dan dirawat di rumah sakit dalam bentrokan tersebut. Walkie-talkie, perangkat penegakan hukum, mobil polisi dan sebagainya dari Biro Keamanan Publik Jiangxi rusak atau dirampas. Namun sejauh ini, tidak ada angka spesifik tentang cedera polisi dan warga dari provinsi Hubei.

Sejak pecahnya wabah, orang-orang Tiongkok mendapat perlakuan diskriminatif di seluruh negeri meskipun meneriaki yel yel – hidup Wuhan, hidup Hubei, dan sekarang diskriminasi itu tidak berkurang setelah penutupan kota telah dicabut. Hal inilah yang membuat geram atau marah Miss. Xu dan banyak orang Hubei lainnya.

“Kartu mereka berasal dari orang-orang Hubei. Kami dilarang lewat ketika melihat kami orang-orang dari Hubei. Sekarang, penutupan kota Wuhan telah dicabut, dan kita membutuhkan kartu kartu keterangan sehat untuk kembali bekerja. Anda dilarang lewat Jiujiang meski memiliki kartu hijau. Mereka hanya mengenali kartu hijau orang-orang Hubei, dan tidak membiarkan orang-orang Hubei lewat,” kata Xu.

Menurut Xu, mereka akan dikarantina ketika pergi. 

“Sekarang setelah keluar juga mendapat perlakuan diskriminatif. Ada puluhan orang di sekitar kita yang bekerja di luar. Namun langsung ditolak ketika mendengar kita berasal dari Hubei,” kata Xu.

Ada pun mengenai orang-orang yang marah sampai menjungkirbalikan mobil polisi itu, Xu memandang bahwa  saat ini, orang-orang tidak punya uang lagi, tidak ada penghasilan karena dua bulan tidak bekerja akibat penutupan kota. Orang-orang membutuhkan uang untuk makan dan biaya pengeluaran lainnya. Tidak seperti mereka yang menikmati makanan raja. Pekerja migran tidak bisa makan jika tidak kerja. Jadi, para pekerja harus mencari penghasilan atau uang agar dapur tetap mengepul, karena uang segunung juga akan kering jika hanya duduk diam saja di rumah. (jon)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular