oleh Tian Yun 

Wabah virus  Komunis Tiongkok  di seluruh dunia sangat berkorelasi dengan hubungan daerah yang terkena dampak dengan rezim komunis Tiongkok.

Di Amerika Serikat, angka-angka epidemi di negara bagian Washington — dikenal sebagai pelabuhan masuk pertama untuk barang dagang yang berasal dari  Tiongkok mengikuti pendirian hubungan diplomatik Amerika Serikat dengan Beijing pada akhir tahun 1970-an, adalah yang tertinggi di seluruh Amerika Serikat pada tanggal 16 Maret, saat negara bagian Washington memiliki lebih dari 900 kasus dari sekitar 4.300 kasus yang dipastikan di  Amerika Serikat.

 Pada tanggal 21 Januari, Washington menunjukkan kasus pertama virus Komunis Tiongkok yang dipastikan di Amerika Serikat— sering dikenal sebagai  Coronavirus baru — seorang pria yang tinggal di dekat Seattle yang tertular virus tersebut dalam perjalanan menuju Wuhan, di mana pandemi dimulai.

Namun, sejak pertengahan bulan Maret 2020, negara bagian Washington telah disusul dan jauh dikalahkan oleh negara bagian New York dalam hal kasus yang dikonfirmasi. Pada tanggal 20 Maret, Gubernur New York Andrew Cuomo mengumumkan rencana 10 poin untuk menempatkan “negara bagian New York dikarantina sementara.”

Pada saat artikel ini ditulis, lebih dari 103.476 warga New York jatuh sakit, membuat angka terbesar  dari 277.467 kasus di seluruh Amerika Serikat. Jumlah korban yang meninggal dunia di negara bagian New York melampaui  3.000 kasus pada tanggal 4 April.

Mengkomuniskan Big Apple

Jika dinilai, Wabah awal virus  Komunis Tiongkok di luar Tiongkok paling jelas terjadi di negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi atau strategis yang luas dengan Rezim komunis Tiongkok, seperti Korea Selatan, Italia, dan Iran. Terpikat oleh manfaat perdagangan atau mengalah pada tekanan Beijing, pemerintah dan pejabat di banyak daerah telah mengakomodasi atau bahkan sikap mendukung rezim komunis Tiongkok.

Sikap seperti itu kemungkinan memicu penerimaan propaganda Komunis Tiongkok terkait virus Komunis Tiongkok. Sehingga membuat pihak berwenang setempat, enggan untuk mengambil tindakan perlindungan. Sehingga meningkatkan kerentanan negara-negara dan wilayah tersebut selama masa kritis dalam tahap awal epidemi yang kritis.

Dalam beberapa dekade terakhir, Komunis Tiongkok membangun hubungan “kekuatan lunak” yang tangguh di New York. Tiongkok adalah mitra dagang terbesar di luar Amerika Utara, dan Tiongkok termasuk Hong Kong membentuk pasar ekspor terbesar untuk New York.

Investasi bilateral adalah sama besar, di mana New York menjadi tujuan utama bagi modal Tiongkok.

Volume perdagangan dan investasi yang bermakna memiliki efek politik dan masyarakat yang luas di New York, dari sikap ramah komunis Tiongkok di antara pejabat yang terpilih untuk peningkatan subversi terhadap masyarakat Tionghoa-Amerika Serikat setempat. Selain itu, kepentingan ekonomi dan kebudayaan New York berarti bahwa pengaruh komunis Tiongkok di sana dirasakan di seluruh Amerika Serikat Serikat.

 Membuat Modal Melayani Partai Komunis

Wall Street adalah salah satu saluran utama yang digunakan komunis Tiongkok untuk menjalankan kekuatan lunak di luar negeri, dan telah lama memainkan “perdamaian” dalam memengaruhi kebijakan Komunis Tiongkok di Washington.

Pada tahun 1999, Perdana Menteri Tiongkok saat itu, Zhu Rongji mengunjungi New York, di mana ia bertemu dengan seorang sejumlah eksekutif Wall Street untuk membahas potensi keanggotaan Tiongkok di Organisasi Perdagangan Dunia. Kemudian Presiden Bill Clinton mendukung masuknya Beijing ke dalam Organisasi Perdagangan Dunia, di mana pada bulan Desember 2001 Tiongkok masuk menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia.

Hubungan ekonomi terus menguat saat Amerika Serikat menjadi terlibat dalam Perang Melawan Teror. 

Robert Kuhn, seorang eksekutif keuangan dan intelektual masyarakat, memuat tulisan-tulisannya di banyak media yang dikelola pemerintah Komunis Tiongkok. Pada tahun 2005, Robert Kuhn menerbitkan biografi mantan pemimpin komunis Tiongkok, Jiang Zemin yang berbau menjilat, meskipun Jiang Zemin melakukan kejahatan besar terhadap kemanusiaan dan “menghasilkan banyak uang, sambil tetap menampilkan kebijakan profil sederhana” yang mendorong korupsi pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada tahun-tahun berikutnya, tekanan oleh pelobi Wall Street memengaruhi keputusan presiden George Bush dan Barack Obama untuk menghapus Tiongkok dari daftar manipulator mata uang. Pada bulan Agustus 2019, menyusul peningkatan perang dagang Tiongkok-Amerika Serikat, pemerintahan Donald Trump kembali menunjuk Komunis Tiongkok sebagai manipulator mata uang.

Pada tanggal 25 April 2019, Roger W.Robinson Jr., ketua Institut Penelitian Keamanan Praha, memperingatkan, adanya tingkat yang mengkhawatirkan di mana Komunis Tiongkok telah menggerogoti pasar keuangan Amerika Serikat dalam pidatonya yang disampaikan kepada lembaga AS, Committee on the Present Danger : China.

Roger W. Robinson mencatat bahwa lebih dari 1.000 perusahaan Komunis Tiongkok terdaftar di tiga bursa saham utama Amerika Serikat, di mana lebih dari 650 perusahaan milik Tiongkok terdaftar di Bursa Efek New York saja, yang mencakup perusahaan yang dikelola oleh negara Tiongkok. Banyak perusahaan tersebut berperan dalam pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Komunis Tiongkok berupa pengawasan massal, dan industri militer. Terdaftar dalam indeks saham Amerika Serikat, berarti perusahaan-perusahaan ini menerima investasi melalui portofolio saham jutaan orang Amerika Serikat.

Banyak afinitas investor Wall Street dengan Beijing, menjadi tampak istimewa setelah dimulainya perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok pada bulan Juni 2018.

Pada bulan dimulainya perang dagang Amerika Serikat-Komunis Tiongkok, Morgan Stanley Capital International secara resmi memasukkan saham perusahaan Tiongkok di “Indeks Pasar Berkembang” dengan rasio inklusi 2,5 persen. Ini artinya 2,5 persen dari indeks Morgan Stanley Capital International terdiri dari perusahaan-perusahaan Tiongkok saham-A.

Pada bulan September 2018, FTSE Russell, perusahaan indeks terbesar kedua di dunia, mengumumkan bahwa FTSE Russell akan memasukkan saham-A dalam sistem indeks saham global FTSE Russell dan mengklasifikasikan saham-A sebagai pasar negara berkembang sekunder. 

Menurut statistik perusahaan sekuritas, langkah ini secara teoritis diharapkan membawa modal tambahan lebih dari usd 500 miliar untuk saham-A.

Pada tanggal 1 April lalu, Bloomberg mengumumkan pencantuman resmi obligasi Tiongkok di Indeks Komposit Global Bloomberg Barclays.

He Qinglian, seorang ekonom Tiongkok yang berbasis di Amerika Serikat, menulis bahwa pengakuan saham-A oleh tiga lembaga keuangan utama ini adalah sama dengan mendukung obligasi rezim Komunis Tiongkok yang tidak menguntungkan. 

Berkat Wall Street, masuknya modal asing yang dihasilkan sehingga membantu menghilangkan masalah dan tekanan ekonomi di dalam negeri Tiongkok, yang mana baru-baru ini  disebabkan oleh perang dagang.

 Menyuap Perusahaan Komunis Tiongkok

Lembaga keuangan yang berbasis di New York telah diselidiki secara ilegal mempekerjakan anak-anak dari keluarga Tiongkok yang berkuasa, yang mana kekayaannya terkait erat dengan rezim Komunis Tiongkok.

Pada tahun 2013, Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat dan Kementerian Kehakiman Amerika Serikat, mulai memeriksa JP Morgan Chase Bank atas dugaan suap perusahaan asing. Kasus tersebut merupakan catatan khusus karena mewakili investigasi besar yang pertama ke Wall Street di bawah Undang-Undang Praktik Korupsi Asing.

Menurut peneliti, dalam waktu tujuh tahun antara tahun 2006 hingga 2013, JP Morgan Chase Bank mempekerjakan sekitar 100 orang di bawah program rekrutmen “Putra dan Putri,” yang berlangsung dari tahun 2003 hingga 2013. 

Rencana tersebut mempekerjakan mereka yang memiliki ikatan dekat dengan pejabat Komunis Tiongkok dan Asia lainnya, sebagai karyawan tetap atau pekerja magang, yang mengakibatkan JP Morgan Chase Bank memperoleh laba bisnis 100 juta dolar AS.

Investigasi Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat mencatat, bahwa JP Morgan Chase Bank mengetahui bahwa hal itu melanggar hukum anti-korupsi, tetapi melanjutkan skema Putra dan Putri karena pengembalian yang murah hati dan peluang bisnis yang dibawanya. Menurut Wall Street Journal, pihak berwenang Amerika Serikat telah membuka penyelidikan serupa terhadap lembaga keuangan lainnya.

 Membeli Kekuatan Politik

Terobosan ekonomi Komunis Tiongkok, memberi banyak peluang bagi Komunis Tiongkok untuk memenangkan politik sekutu di seluruh Amerika Serikat, terutama di daerah yang menonjol seperti New York.

Pada tanggal 11 April 2016, lieutenant governor atau kurang lebih wakil kepala daerah New York, Kathy Hochul dan Zhang Xiangchen, Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok untuk perdagangan internasional, menandatangani Nota Kesepakatan  untuk secara resmi mendirikan Kerjasama Perdagangan dan Investasi Provinsi-Provinsi Tiongkok-Negara Bagian New York. Nota Kesepakatan itu menghubungkan New York dengan enam provinsi di Tiongkok dalam bentuk berbagai bentuk pertukaran ekonomi dan industri.

“Nota Kesepakatan berbicara mengenai kemungkinan membangun di tempat kita berada hari ini,” Kathy Hochul menggambarkan Nota Kesepakatan itu, menurut China Daily, corong pemerintahan komunis Tiongkok.

“Bisnis dari Tiongkok datang ke negara kita; bisnis dari negara kita mencari peluang ekspor.”

Zhang Qiyue, Konsul Jenderal Tiongkok saat itu di New York, menyebut negara bagian New York sebagai “titik terang” untuk kerja sama Tiongkok-Amerika Serikat.  “Seiring kita teruskan pertumbuhan hubungan bilateral yang lebih kuat, ada kesadaran yang tumbuh dan kerja sama yang meningkat di tingkat daerah.”

Pada tanggal 18 Juli 2017, Kerjasama Forum Perdagangan dan Investasi Provinsi-Provinsi Tiongkok-Negara Bagian New York diadakan di Buffalo. Acara tersebut disponsori oleh Biro Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Tiongkok, Badan Pengembangan Ekonomi Negara Bagian New York, konsulat Tiongkok di New York, dan pemerintah Negara Bagian New York.

Pada bulan November, Gubernur Andrew Cuomo dianugerahi Blue Cloud Award oleh Institut Tiongkok yang mengacu pada Tiongkok, yang berkantor pusat di Manhattan. Kathy Hochul, yang menerima penghargaan tersebut atas nama Andrew Cuomo di Blue Cloud Gala, mencatat bahwa “Gubernur benar-benar menjadikan hubungan [Tiongkok-New York] sebagai salah satu prioritasnya yang terbaik, kami  memiliki tiga misi dagang kami dan misi yang keempat sedang direncanakan,” seperti yang dilaporkan oleh Xinhua yang dikelola Komunis Tiongkok.

 “Kami memiliki kantor perdagangan dan kantor pariwisata di Tiongkok, dan kami memiliki orang-orang di sana untuk memastikan ada pintu terbuka lebar antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, dan kota-kota di Amerika Serikat dan Tiongkok,” kata Kathy Hochul.

Rezim Komunis Tiongkok tampaknya telah melihat peristiwa itu sebagai cara untuk memperdalam tautan komersial dan membina hubungan yang lebih dekat dengan sang gubernur. 

Menurut laporan pada saat itu, Hainan Airlines Group, sebuah perusahaan Tiongkok yang sangat terkait dengan Tiongkok, adalah sponsor Blue Cloud Gala. Selain itu, upacara penghargaan tersebut menampilkan pertunjukan oleh trio Snow Lotus, yang terdiri dari tiga penyanyi etnis Tibet dari Provinsi Sichuan Tiongkok. Kemudian Konsul Tiongkok Jenderal Zhang juga hadir di Blue Cloud Gala.

Pada bulan Juni 2019, Senat Negara Bagian New York mengeluarkan resolusi yang disebut 1 Oktober — tanggal berdirinya rezim komunis pada tahun 1949 —  “Hari Tiongkok,” untuk memperingati kontribusi etnis Tionghoa untuk New York.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok memuji langkah ini sebagai “pengembangan yang positif.”

 Pada suatu resepsi malam yang diselenggarakan pada tanggal 16 September oleh Konsulat Tiongkok di  New York untuk memperingati 70 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, Konsul Jenderal Huang Ping menyampaikan pidato yang memuji “sosialisme dengan karakteristik Tiongkok.” Ia mengutuk perang dagang yang sedang berlangsung karena menyakiti prospek ekonomi kedua negara. Banyak politisi New York, pengusaha, dan perwakilan dari diaspora Tiongkok setempat hadir.

 Membentuk Kembali Lingkungan Media dan Masyarakat

Hingga pertengahan tahun1980-an, organisasi Tionghoa-Amerika Serikat yang paling menonjol di New York adalah organisasi yang selaras dengan Taiwan, yang secara resmi dikenal sebagai Republik Tiongkok. Tetapi karena Tiongkok Daratan menguasai lanskap ekonomi dan diplomatik, bendera Langit Biru dengan Matahari Putih milik Republik Tiongkok mulai menghilang dari pecinan setempat, digantikan oleh bendera merah lima-bintang milik Komunis Tiongkok. 

Pengaruh Beijing yang berkembang dirasakan di seluruh masyarakat Tionghoa-Amerika Serikat saat  Komunis Tiongkok mengerahkan mesin propagandanya untuk mempengaruhi orang Tionghoa perantauan di seluruh dunia. 

Organisasi yang didanai Komunis Tiongkok seperti Institut Konfusius yang didirikan di perguruan tinggi dan sekolah di Amerika Serikat, membantu  Komunis Tiongkok mempercantik identitas dan kebudayaan ala komunis Tiongkok, serta bahasa Mandarin di benak banyak anak muda Amerika Serikat.

 Organisasi  Komunis Tiongkok di New York menjalin hubungan dengan geng triad setempat, dan kadang bahkan memungkinkan rezim Komunis Tiongkok memproyeksikan represi politiknya di Amerika Serikat.

Pada tahun 1999,  Komunis Tiongkok meluncurkan penganiayaan habis-habisan terhadap latihan spiritual Falun Gong dan puluhan juta praktisinya. Kampanye yang mematikan tersebut berlanjut hingga hari ini.

Kelompok-kelompok yang terhubung dengan komisi  Komunis Tiongkok di luar negeri yang ditugaskan mengawasi penganiayaan terhadap Falun Gong, telah menjajakan ujaran kebencian, menentang praktik Falun Gong di pecinan di New York selama lebih dari satu dekade. Individu anggota kelompok ini, telah dituntut karena melakukan penyerangan fisik terhadap praktisi Falun Gong setempat.

Sejak awal tahun 1990-an, saat China Press, media berbahasa Mandarin yang terkait dengan Komunis Tiongkok berfungsi melayani pemirsa Tiongkok di luar negeri, upaya propaganda Komunis Tiongkok  di dunia internasional telah menggelembung menjadi operasi multi-miliar dolar, yang secara resmi disebut “Rencana Propaganda Besar-Besaran Di Luar Negeri.”

Pada tahun 2010, Kantor Berita Xinhua meluncurkan CNC World, saluran TV 24 jam berbahasa Inggris.  Pada bulan Agustus 2011, Xinhua menjalankan bisnis iklan bernilai ratusan ribu dolar di Times Square. 

Brian Turner, presiden Sherwood Outdoor Advertising Co., mengatakan, pada saat itu bahwa ia berharap menyewakan ruang layar untuk Xinhua yang akan mendorong merek Komunis Tiongkok lainnya untuk beriklan di Times Square.

Sejak tahun 2011, baik Xinhua maupun People’s Daily Online, corong lain  Komunis Tiongkok, memiliki kantor di Manhattan, di mana People’s Daily Online beroperasi di lantai 30 Empire State Building.

Pada bulan Februari ini, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menunjuk Xinhua dan empat media lainnya yang dikendalikan Komunis Tiongkok di Amerika Serikat sebagai “misi asing.” Tujuannya, untuk merefleksikan peran media tersebut dalam strategi propaganda Beijing di luar negeri.

Menurut Pedoman Partai Komunis, efektivitas propaganda Partai Komunis Tiongkok yang menyerang orang Tiongkok di luar negeri adalah mudah diamati. Ada ribuan orang Tiongkok yang tinggal di luar negeri membeli tiket pesawat kembali ke Tiongkok, yakin akan narasi terbaru  Komunis Tiongkok, bahwa Amerika Serikat adalah pusat wabah virus yang baru, bukan “ibu pertiwi”Tiongkok.

Setelah lama sebagai pintu gerbang masuk Amerika Serikat untuk imigran dan pengiriman barang, New York tampaknya secara unik rentan terhadap penyebaran pandemi. 

Pada tanggal 25 Maret, Gubernur Andrew Cuomo mengatakan, bahwa New York “memiliki lebih banyak kasus daripada negara bagian lain di Amerika Serikat… karena New York menyambut orang-orang dari seluruh dunia, dan kami hidup; pindah; bermasyarakat, dan melakukan banyak hal lain yang saling berdekatan.”

Tetapi dalam pandemi virus i Komunis Tiongkok, globalisasi bukanlah satu-satunya faktor yang harus disalahkan.

Terkait dengan kewaspadaan terhadap rezim Tiongkok Daratan dan pandangan realistis terhadap rezim Tiongkok Daratan, yang diperagakan oleh orang-orang Taiwan dan Hong Kong, memberikan tidak sedikit ukuran inokulasi terhadap krisis medis. 

Meskipun letak Taiwan dan Hong Kong dekat dengan Tiongkok Daratan, dan hubungan dagang letak Taiwan dan Hong Kong yang luas dengan Tiongkok Daratan, Taiwan dan Hong Kong tidak menunda langkah-langkah untuk mengendalikan virus tersebut. Per tanggal 3 April, jumlah kasus infeksi di Taiwan dan Hong Kong masih tetap ratusan kasus.

Di Korea Selatan, pihak berwenang lambat mengurangi perdagangan dan perjalanan dengan Tiongkok. Namun, pengetahuan mengenai epidemi dan keseriusan epidemi menyebar dengan cepat di kalangan masyarakat. 

Pada bulan Januari, video memperlihatkan situasi suram di pusat wabah virus di Wuhan secara luas dilihat dan dibagikan oleh orang Korea Selatan. Jutaan orang Korea Selatan mengkritik Presiden Moon Jae-in karena menempatkan kepentingan bisnis di atas kesehatan nasional.

Sementara Korea Selatan memiliki salah satu wabah awal terburuk di luar Tiongkok, namun kombinasi kesadaran masyarakat, tekanan rakyat, dan kerja sama sipil tampaknya telah mengendalikan virus tersebut.

Namun demikian, kewaspadaan yang sama nampak sangat kurang di Empire State, bahkan seiring Komunis Tiongkok mempromosikan keberhasilannya dalam mengendalikan penyakit tersebut di Tiongkok, dan menggambarkan respons Amerika Serikat sebagai lambang ketidakmampuan pemerintahannya.

Narasi tersebut diperkuat oleh banyak outlet media asing, sebagian besar karena media asing tersebut cenderung melaporkan jumlah resmi kasus yang dipastikan dan jumlah resmi kasus kematian pada nilai nominal.

Pada tanggal 11 Maret, New York Times menerbitkan sebuah artikel berjudul “Kasus Coronavirus Berkurang, Tiongkok Memutar Fokus ke Luar.” Subjudul artikel menggemakan propaganda Komunis Tiongkok: “Beijing sedang meningkat bantuan kilat kemanusiaan di negara-negara yang sedang berjuang melawan wabah. Dengan melakukan hal itu, Tiongkok melangkah ke peran yang pernah dikuasai Barat.”

Tajuk rencana tanggal 6 Maret oleh Washington Examiner mengkritik laporan New York Times sebagai “informasi sesat Tiongkok yang paling memalukan yang diterbitkan oleh setiap ruang redaksi di Amerika Serikat sejak wabah COVID-19 pertama kali menjadi bahan berita.”

“Artikel itu membeo klaim Komunis Tiongkok bahwa kasus coronavirus setiap hari menyusut ‘ke angka satu digit.’ Tidak ada upaya untuk membuktikan angka-angka ini… Karena media  bertindak seperti ini, siapa yang butuh Departemen Publisitas Partai Komunis Tiongkok?” demikian tulisan Washington Examiner. 

Artikel Ini Terbit di The Epochtimes

 

 

Share

Video Popular